12 May 2009

Mengasihi Hingga Sakit, Memberi Hingga Tak Tersisa

Penulis : Lesminingtyas

Beberapa minggu yang lalu hidup saya dibuat pontang-panting oleh Uwa; pembantu yang mengasuh si bungsu Mika. Nenek tua itu kembali sakit. Saya pun membawa Uwa ke dokter praktek yang berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah. Menurut dokter, tekanan darah Uwa cukup tinggi, yaitu 180/110. Namun saya cukup tenang karena dokter berjanji akan memberikan obat penurun tekanan darah.

Sehari setelah berobat ke dokter, kondisi Uwa justru semakin memburuk. Sorenya, sepulang saya dari kantor, Uwa mengeluh pusing. Saya pun segera memapahnya untuk kembali ke dokter. Belum juga keluar pintu rumah, hidung Uwa mengeluarkan darah segar. Saya pun tetap memapah Uwa menuju tempat praktek dokter. Walaupun tempat praktek dokter tidak terlalu jauh, namun badan Uwa yang lebih tinggi dan lebih besar yang menyandar tak seimbang ke badan saya, membuat langkah kaki saya terseok-seok. "Ternyata memang sangat berat jika ´pasak´ lebih besar dari pada tiang" pikir saya dalam hati. Sebagian berat badan Uwa yang ditimpakan ke pundak kiri saya, membuat tangan kiri serasa lumpuh. Sampai-sampai pundak dan dada kiri saya dibanjiri darah segar pun, saya tidak merasakan apa-apa lagi. Hanya bau anyir yang menyengat yang membuat saya tidak nyaman. Sebenarnya saya sangat jijik dengan darah, tetapi malam itu tidak ada pilihan lain.

Saya mulai cemas ketika ruang praktek dokter itu gelap gulita. Dari papan nama dokter saya tahu bahwa praktek tersebut baru dibuka jam 20.00. Melihat darah yang mengucur deras dan kondisi badan Uwa yang sangat lemah, saya tidak yakin Uwa bisa bertahan kalau harus menunggu 2 jam lagi. Dengan tertatih-tatih, saya memapah Uwa kembali ke rumah dan mendudukkannya di kursi teras.

Untuk memberikan pertolongan pertama, saya mencoba menundukkan kepala Uwa dan menyiramnya dengan air kran. Seperti biasa, Uwa marah-marah karena kedinginan. Saya pun mencoba dengan cara lain. Pontang-panting, saya berlari ke sana ke mari bak orang kesurupan untuk mencari daun sirih. Sayang sekali tak seorang tetanggapun yang menanam sirih. Tidak ada cara lain, kecuali membawa Uwa ke klinik. Namun untuk meminta bantuan tetangga rasanya tidak mungkin karena semua warga sedang menjalankan sholat maghrib.

Karena darah Uwa terus membanjiri teras, tidak ada pilihan lain selain lari ke perempatan jalan untuk memanggil ojek. Saya mencarter 2 ojek untuk membawa Uwa ke klinik 24 jam. Karena darah Uwa masih terus mengalir, tukang ojek meminta kain untuk menutup hidung Uwa. Tanpa pikir panjang, Dika langsung memberikan sarung kesayangannya.

Karena klinik 24 jam hanya berjarak kurang lebih 2 km, saya tidak menitipkan anak-anak kepada tetangga. Saya pikir Dika sudah cukup besar untuk menjaga adiknya barang 15-30 menit. Saya hanya berpesan kepada Dika untuk menemani adiknya dengan tenang selama saya pergi. Saya berjanji kepada anak-anak untuk segera pulang sambil membawa lauk untuk makan malam. Dokter di klinik 24 jam itu sangat sigap. Dalam hitungan detik, sarung tangan telah membalut kedua tangannya. Dokter itu siap memasukkan tampon ke lubang hidung Uwa. Wajah dokter itu mulai tegang ketika satu tampon yang dimasukkannya langsung terdorong keluar oleh derasnya darah dari hidung Uwa. Dua tampon dicoba dimasukkan ke satu lubang hidung Uwa sekaligus, tapi masih mental juga. Tidak sampai 5 menit memberikan pertolongan, dokter itupun menyerah dan meminta saya untuk segera membawa Uwa ke rumah sakit besar.

Saya bingung sekaligus panik karena tidak ada satu orang dewasa pun di rumah yang menjaga anak-anak. Saya juga bingung dan merasa tidak mampu untuk membawa Uwa sendirian ke rumah sakit. Karena tukang ojek yang saya carter masih ada di situ, saya pun meminta salah satunya untuk menemani saya ke rumah sakit besar. Saya dan dokter memapah Uwa ke pinggir jalan, sementara tukang ojek mencari angkot untuk dicarter ke rumah sakit. Karena saya tidak enak hati mengotori baju dokter saya menyangga seluruh berat badan Uwa yang sudah mulai lemas itu dengan bahu saya. Darah Uwa pun mulai mengalir sampai ke pakaian dalam saya. Jijik sekali rasanya.

Kira-kira 5 menit, tukang ojek itu kembali dengan angkot kosong yang siap mengantar kami ke rumah sakit. Dokter yang tidak mau saya bayar itu pun membantu saya mengangkat Uwa masuk ke dalam angkot.

Selama di perjalanan saya dan tukang ojek yang sebelumnya tidak saya kenal itu mengapit Uwa. Ketika sopir angkot menanyakan rumah sakit mana yang akan kami tuju, saya tidak segera menjawab. Sebaliknya, saya meminta pendapat sopir angkot dan tukang ojek untuk memilih rumah sakit. Sebenarnya rumah sakit langganan keluarga saya tidak terlalu jauh dari rumah, tetapi tarifnya tergolong mahal.

Sambil membiarkan keduanya berdiskusi, saya menelpon dan mengirim SMS ke semua kakak dan orang tua saya. Saya berharap mereka memberikan komitmen untuk membantu biaya, sehingga saya bisa memilih rumah sakit yang terdekat. Namun, hingga rumah sakit langganan saya terlewati, tidak ada seorang kakak pun yang menyatakan kesanggupanya untuk membantu pembiayaan Uwa.

Tangan kanan saya masih terus menyangga Uwa sedangkan tangan kiri sibuk mengirim SMS untuk mengabari anak-anak Uwa dan memintanya datang ke Bogor. Saya berharap setelah masuk rumah sakit, perawatan Uwa sudah menjadi tanggung jawab dokter dan anak-anaknya, sehingga saya tinggal memikirkan biayanya saja. Namun saya harus puas dengan jawaban anak-anak Uwa yang tidak bersedia datang dan menimpakan tanggung jawab seluruhnya kepada saya.

Saya berhenti memainkan ponsel ketika tukang ojek itu meminta saya memilih 2 alternatif rumah sakit pemerintah yang ditawarkannya. Rumah sakit pertama memang cukup murah, tetapi letaknya agak menjorok ke dalam sehingga untuk menengoknya saya harus berjalan kaki agak jauh. Supaya saya bisa menengok Uwa sepulang dari kantor, saya pun memilih rumah sakit kedua yang lebih mahal sedikit tetapi terletak persis di pinggir jalan. Walaupun saya sudah memutuskan rumah sakit yang akan kami tuju, tetapi perjalanan tidak bisa dipacu karena malam itu angkot masih memadati jalanan hingga kota kami layak disebut sebagai "kota angkot" . Saya mulai panik ketika nafas Uwa mulai tersendat-sendat. Saya kuatir kalau-kalau Uwa menghembuskan nafas di dalam angkot. Sambil tangan kiri menyangga kain sarung untuk menadahi darah Uwa yang terus mengalir, tangan kanan tetap menahan badan Uwa.

Rasa dan bau badan saya sudah tak karuan. Saya yang sore itu belum sempat mandi dan masih mengenakan baju kerja, benar-benar harus bermandi darah. Bau anyir dan rasa jijik mulai merata di sekujur tubuh saya. Melihat Uwa terkulai lemas, saya pun semakin panik. Jantung saya bergerak lima kali lebih cepat karena rasa takut yang amat sangat. Saya mencoba kembali mengambil ponsel dari saku celana saya yang sudah mulai basah oleh darah. "Pak, tolong cepat datang. Uwa kayaknya sudah nggak kuat !" saya menelpon bapak saya setengah merengek.

Ayah saya pun menjawab "Mintalah pertolongan Tuhan! Bapak akan segera berangkat ke Bogor" bapak mencoba menenangkan saya. Bapak yang tahu betul bahwa saya tidak tahan mengahadapi orang mati, tidak mungkin tega membiarkan saya menghadapi Uwa sendirian. Saya mencoba berdoa sambil berharap bapak akan datang secepatnya "Tuhan, sekiranya Engkau ingin memanggil Uwa, panggilah! Tapi kalau masih boleh menawar, tolong terlebih dulu kirimkan satu saja penolong untuk saya !"

Melihat kondisi Uwa yang terus melemah dan jalanan yang masih macet, berkali-kali saya berbisik di telinganya "Uwa, minta kekuatan dari Tuhan Yesus, ya!" Kalau Uwa diam saja, tak bosan-bosan saya membisikinya berulang-ulang hingga Uwa menganggukkan kepala sambil mulutnya lirih menyebut nama Tuhan Yesus.

Begitu angkot yang kami tumpangi masuk ke halaman RS, tukang ojek itu meminta saya mendaftar ke UGD. Saya pun mengiyakannya dan langsung meloncat ke luar dan berlari menuju bagian pendaftaran UGD. Tukang ojek bersama sopir angkot mengangkat Uwa masuk UGD.

Sementara Uwa ditangani dokter dan juru rawat di UGD, saya membayar sewa angkot dan meminta tukang ojek untuk tetap tinggal menemani saya. Satu hal yang ada dalam pikiran saya, kalaupun Uwa meninggal, masih ada tukang ojek yang menemani saya mengurus jenazahnya.

Dalam keadaan panik, saya sempat kena marah petugas administrasi karena waktu ditanya umur dan nama suami Uwa, saya tidak tahu. Dengan sok kuasa ia menakut-nakuti saya "Kalau tidak ada suaminya, kita tidak bisa menolongnya?" "Maaf Bu, sejak kecil saya tidak tahu siapa suaminya. Memangnya kenapa harus ditanyakan suaminya?" tanya saya tak mengerti. "Kalau tidak ada suaminya, siapa yang akan bertanggung jawab?" katanya ketus. "O..jadi yang dibutuhkan bukan suaminya, tapi orang yang bertanggung jawab khan? Kalau cuma itu, saya akan berusaha untuk bertanggung jawab" jawab saya merendah.

Mungkin karena melihat saya yang hanya mengenakan sandal jepit dan celana panjang yang kelupaan masih saya gulung mirip orang kebanjiran, petugas administrasi itu mulai meragukan saya. Terlebih badan dan pakaian saya yang tak layak dan menebar aroma tak sedap. "Nih lihat, harus mbayar segini ! Apakah Teteh sanggup?" tanyanya ragu. Petugas itu semakin ragu ketika melihat dompet yang sudah saya kuras hingga ke receh-recehnya, tetap belum memenuhi sejumlah uang yang diminta. Saya minta ijin keluar sebentar untuk meminjam uang kepada tukang ojek itu. Akhirnya saya pun bisa memenuhi uang yang diminta itu setelah tukang ojek bersedia menguras seluruh isi dompetnya.

Hati saya mulai lega ketika Uwa sudah ditangani dokter. Namun rasa lega itu mulai surut ketika dokter jaga yang super jutek itu memanggil saya dan bertanya. "Situ anaknya, ya?" Belum sempat saya menjawab, dokter itu kembali menunjukkan kejutekannya "Kenapa ibunya ditinggalkan sendiri? Jagain dong! Pegangin tuh tampon di hidungnya!" kata dokter itu sambil menyerahkan beberapa gulung tampon dengan kasar "Di sini banyak pasien sedangkan dokter cuma satu, jadi yang seperti ini harus dilakukan oleh keluarga pasien sendiri!" sambungnya ketus. "Apakah tidak ada cara lain untuk menghentikan pendarahannya, Dok?" tanya saya pelan. "Mau dengan cara apa? Menghentikan pendarahan orang yang sudah terlalu tua dan hipertensi seperti ini sangat sulit ! Tunggu saja sampai berhenti dengan sendirinya !" jawabnya tak ramah. "Berapa tensinya sekarang dok? Kemarin 180/110" saya ingin tahu. "Pembuluh darahnya pecah karena hipertensi. Sekarang tensinya 140/90" jawab dokter tanpa memalingkan wajah ke arah saya.

Walaupun sudah 1 jam di rumah sakit, hidung Uwa masih terus memancarkan darah. Karena posisi Uwa benar-benar telentang, darahnya mulai keluar dari mulut dan mengalir ke mana-mana. Sarung kesayangan Dika sudah tidak berwarna lagi, dan berubah menjadi hitam pekat oleh darah. Saya pun membuang sarung itu ke tong sampah. Karena sudah tidak ada lagi kain untuk mengelapnya, saya melepas baju hangat Uwa.

Setengah jam kemudian Uwa sadar. Pertama kali yang ditanyakan Uwa ketika sadar adalah baju hangat kesayangannya. Karena sudah basah kuyup dengan darah yang beraroma anyir, saya pun meminta injin Uwa untuk membuang menyusul sarung Dika di tong sampah. Dalam keadaan tidak berdaya, Uwa masih saja marah. Supaya tidak terdengar oleh pasien-pasien lain di UGD, saya pun berbisik "Sudah lah, besok saya belikan lagi baju hangat yang kayak gitu empat sekaligus!"

Walapun Uwa ngedumel nggak karuan, tangan kiri saya masih memegangi tampon, sementara tangan kanan terus mengelap darah Uwa yang "ngacai" dari mulutnya. "Tuhan, mengapa Engkau uji saya seberat ini?" keluh saya.

Ketika mata saya melirik, mendapati bahwa jam di ruang UGD telah menunjukkan pukul 22.00. Saya panik sekali memikirkan anak-anak saya yang belum makan dan berada di rumah tanpa pengawasan orang dewasa. Saya takut anak-anak menyalakan kompor sendiri untuk membuat makanan gara-gara kelaparan. Saya juga kuatir anak-anak lupa mengunci pintu dan jendela. Banyak sekali kekuatiran saya akan keadaan anak-anak di rumah. Terlebih angka kejahatan di Bogor cukup tinggi.

Saat juru rawat melintas di dekat saya, saya pun meminta bantuan untuk mengurus Uwa karena saya akan menelpon ke rumah. Saya segera lari ke luar. Sebelum menelpon anak-anak, saya berusaha meminta kesabaran tukang ojek untuk tetap menemani saya. Tukang ojek itu pun tampaknya mengerti kekalutan saya. Sambil membersihkan sisa-sisa darah yang mengering di baju, saya mencoba menelpon ke rumah. Lama sekali telepon tidak diangkat. Rasanya ingin sekali saya terbang ke rumah supaya tahu apa yang terjadi.

Kurang lebih satu menit telepon di rumah baru diangkat "Halo, ibu ya? Ibu kok nggak pulang-pulang ...cari duit sampai malam ya?!" tanya Mika yang merasa yakin kalau yang menelpon itu saya. Tanpa menjawab pertanyaan Mika, saya langsung memberi instruksi kepada Mika "Dik, tolong teleponnya kasih Mas Dika!" Dengan setengah cedal Mika menjawab "Mas Dika udah tidul" "Bangunkan Mas Dika, bilang ada telepon dari ibu!" perintah saya kepada Mika yang umurnya baru 3 tahun. "Ya,ya,ya.dadah ibu!" jawab Mika langsung menutup telepon.

Saya kembali mencoba menelpon berkali-kali, tapi tidak ada yang mengakat. Saya menduga Mika sedang berusaha membangunkan Dika yang memang agak susah dibangunkan. Kira-kira 3 menit saya mencoba melepon, akhirnya Dika pun mengangkat telepon. "Ibu kok lama sekali sih? Dika sama adik sudah kepalaran, tapi ibu nggak pulang-pulang. Tadi waktu ibu pergi adik nangis terus, sampai muntah. Dika repot banget nich ngurusin adik. Ibu sekarang di mana sih?" tanya Dika dengan nada kesal. "Dika, ibu masih di rumah sakit. Sekarang pintu dan jendelanya di.....(tit!)" belum sempat memberikan pesan, telepon saya mati karena baterainya habis.

Melihat saya mondar-mandir mencari telepon umum, tukang ojek itu meminjamkan ponselnya kepada saya. Begitu telepon tersambung, tanpa membuang waktu saya berpesan "Dika, makan seadanya dulu. Semua pintu dan jendela..(tit)!" ponsel si tukang ojek itu pun nasibnya sama dengan ponsel saya. Saat itu saya benar-benar tidak bisa menahan tangis. Saya benar-benar mengkuatirkan keadaan anak-anak di rumah. Saya ingin sekali untuk segera pulang ke rumah, tetapi dokter belum mengijinkan saya pergi.

Ketika saya masuk ke UGD lagi, darah Uwa sudah tidak terlalu deras. Juru rawat menyuntikkan beberapa macam obat melalui selang infuse. Uwa juga sudah bisa memegangi sendiri tampon di hidungnya. Beberapa menit kemudian saya dipanggil oleh kasir untuk membayar biaya tindakan dan obat-obatan. Karena saya tidak membawa uang tunai, saya meminta tukang ojek untuk menunggui Uwa, sementara saya mengambil uang di ATM.

Malam itu saya berjalan keluar dari komplek RS sambil menangis. Saya menangis untuk banyak hal. Selain mengkuatirkan keadaan anak-anak di rumah, juga mengkuatirkan keadaan Uwa di rumah sakit. Ditambah lagi, saya yang terbiasa mengelola gaji dengan perencanaan yang ketat, rasanya cukup dipusingkan dengan pengeluaran besar yang tidak ada dalam rencana ERT (Ekonomi Rumah Tangga) saya. Kalau saya mengambil uang gaji di ATM BNI, pasti kehidupan kami selama sebulan serta tagihan rumah, telepon, listrik, asuransi pendidikan dan tabungan kesehatan anak-anak pasti kacau balau. Kalau saya mengambil tabungan pendidikan di ATM Lippo, saya kuatir proses kelanjutan sekolah Dika ke SMP terganggu. Akhirnya malam itu saya putuskan menguras semua tabungan kesehatan anak-anak dari ATM BCA. Saya pun naik becak menembus gelapnya malam kota Bogor menuju ATM BCA yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari RS.

Setelah saya menyelesaikan pembayaran di kasir, juru rawat memanggil saya untuk mendatangani persetujuan rawat inap untuk Uwa. Karena juru rawat itu tahu kalau Uwa adalah pembantu saya, ia pun menyarankan saya untuk memilih kamar kelas 3 saja. Saya pun tidak mampu berpikir lagi kecuali mengiyakannya dan berbisik "Tolong ya Mas, usahakan semua urusan malam ini cepat selesai, karena saya harus segera pulang. Anak-anak saya yang masih kecil, sekarang ini di rumah sendirian". "Ibu telpon tetangga dulu untuk minta tolong mereka menjaga anak-anak ibu" juru rawat yang ramah itu menyarankan. "Boro-boro nelpon tetangga Mas, mau nelpon anak sendiri saja tidak bisa karena baterainya habis" jawab saya masih tegang.

Supaya cepat selesai, saya membantu juru rawat itu membawa berkas status pasien dan mendorong kereta dorong ke kamar perawatan di kelas 3, sementara juru rawat menarik kereta itu. Saya kaget ketika tiba-tiba juru rawat menarik kereta pasien masuk ke ruang isolasi. Saya pun deg-degan dan dengan reflek bertanya "Lho, lho,lho! Mas, memangnya penyakit ini menular, kok sampai harus diisolasi?" "Bukan karena menular Bu, tapi kalau pasien ini dicampur dengan pasien lain, dikuatirkan yang lain pada takut atau jijik" jawab juru rawat itu. "Tapi kan kasihan Mas, ibu ini sudah tua sekali dan tidak ada yang menjaga. Kalau nanti terjadi sesuatu dan tidak ada orang yang melihatnya, bagaimana?" tanya saya sambil meminta belas kasihan.

Uwa yang sudah dibaringkan di ruang isolasi kembali kami angkat ke kereta dorong untuk dipindahkan ke barak RPU supaya bisa sekamar bersama belasan pasien lain. Ketika Uwa sudah berada di barak pasien, saya pun berpamitan kepada juru rawat sambil menitipkan Uwa. Tiga juru rawat yang bertugas malam itu dengan kompak memarahi saya. Saya pun berusaha merendah dan memohon pengertian para perawat itu. "Maaf Suster, saya tidak mungkin menungguinya di rumah sakit. Saya juga butuh ganti baju dan mengambilkan baju ganti untuk pasien!" saya memberikan alasan. "Gila ! Ibu ini nggak punya otak, kali ya? Masak tega meninggalkan ibunya yang sudah berumur 67 tahun sendirian di rumah sakit" kata salah satu juru rawat.

Sebenarnya saya ingin menjawab "Justru karena saya punya otak, saya harus pulang untuk mengurus anak-anak saya" Namun karena saya tidak ingin berdebat, sayapun menjawab dengan halus "Maaf Suster, saat ini anak-anak saya di rumah tidak ada yang menjaga. Saya meninggalkan anak yang berumur 3 tahun hanya bersama kakaknya yang masih kecil juga! Tolonglah Bu, mohon pengertiannya. Saya akan bertanggung jawab semua biaya pengobatan untuk pasien, tapi saya tidak mungkin ditahan disini. Besok pagi sebelum saya berangkat kerja, saya akan ke sini mengatar baju ganti untuk pasien"

"Memangnya suami ibu kemana? Ibu nggak punya suami ya?" tanya seorang perawat ketus. Ingin sekali saya menjawab "It is not your business!". Namun belum sempat saya menjawab, seorang perawat dengan sinis berkata "Kalau ibu nggak mau mengurus sendiri, sebaiknya pindahkan pasien ke ruang VVIP yang mahal, jangan cuma di kelas 3 yang murah-murah seperti ini dong!"

Sedetik kemudian perawat dari UGD itu mengedip-ngedipkan matanya memberi isyarat kepada saya. Saya menterjemahkan isyarat tersebut dengan "uang". Tanpa menunggu lagi, saya pun menarik beberapa lembar uang lima puluh ribuan dari dompet. Juru rawat UGD itupun menganggukkan kepala tanda setuju. Tanpa banyak bicara, saya pun meletakkan beberapa lembar uang itu di meja yang ada di depan ketiga perawat yang beramai-ramai "mengadili saya".

"Ibu, bukan kami tidak mau mengurus pasien Bu, tapi kalau tidak ada keluarga yang menunggu, siapa yang harus bertanggung jawab kalau pasien meninggal?" kata seorang perawat yang mulai lembut. "Ya, kalau memang Tuhan menghendaki pasien itu meninggal, kita mau apa lagi?" jawab saya pelan. "Benar nich, kalau ada apa-apa sehingga pasien meninggal, Ibu tidak menyalahkan atau menuntut kami?" tanya perawat yang lain tak kalah lembutnya. "Kalau Tuhan yang memanggil, kenapa saya harus protes?!" jawab saya pelan "Malam ini saya mohon bantuan Suster di sini, karena saya harus pulang. Besok pagi saya akan ke sini membawakan baju-baju yang bersih untuk pasien. Kalau malam ini ada apa-apa atau butuh sesuatu, Suster bisa menelpon saya kapan saja" saya menjamin. "Jadi, kalau nanti kami telpon malam-malam, ibu tetap besedia datang ke mari khan?!" tanya perawat lainnya dengan sopan. "Saya janji Suster! Paling tidak, kalau saya sudah sampai di rumah, saya bisa menitipkan anak-anak dulu ke tetangga" jawab saya pelan.

Sebelum saya meninggalkan RS, suster di kamar perawatan meminta saya untuk menebus obat yang harganya hampir satu juta rupiah. Saya pun kembali mengeluarkan uang lebih dari yang seharusnya dan menyerahkan kepada perawat yang mau membantu saya membelikan obat untuk Uwa di apotik. Saya melakukan hal itu karena bagi saya waktu sangat penting untuk segera tahu keadaan anak-anak.

Akhirnya jam 22.30 saya bisa meninggalkan rumah sakit. Saya pun bersama tukang ojek segera naik angkot menuju klinik 24 jam dimana motor milik tukang ojek itu dititipkan. Dari klinik 24 jam itu saya diantar ke rumah oleh tukang ojek.

Betapa kagetnya saya ketika saya mendapati pintu pagar dan pintu rumah terbuka lebar. Saya minta tolong tukang ojek untuk menemani saya sampai di teras. Jantung saya berdebar-debar ketika tak satupun anak saya yang menyahut panggilan saya. Saya hampir berteriak ketika mendapati Mika yang tertidur di karpet tak jauh dari muntahannya. Dika sendiri tertidur di lantai. Ketika saya yakin tidak terjadi sesuatu pada anak-anak saya, saya pun memberikan uang kepada tukang ojek sebagai ganti penghasilannya malam itu. Sambil memanasi air untuk mandi, saya mengelap muka dan kaki anak-anak dan memindahkan mereka ke kamar masing-masing. Melihat wajah anak-anak yang tidak berdaya, saya merasa sangat bersalah karena telah menelantarkan mereka. Saya pikir kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, saya tidak bisa mengampuni saya sendiri. Malam itu saya menangis, menyesali diri karena tidak bisa menjaga mereka dengan baik. Terlebih lagi ketika melihat sisa mie instant yang Dika rebus tidak sempurna dengan rantang, hati saya sangat miris membayangkan betapa mereka sangat kelaparan menunggu saya yang tidak segera pulang malam itu.

Ketika air sudah panas, saya pun membuka baju untuk mandi. Saya kaget sekali ternyata baju yang saya kenakan malam itu adalah baju putih terbaru yang saya beli dengan harga cukup mahal. Saya pun harus merelakan baju kesayangan yang baru dua kali saya pakai itu tidak seputih dulu lagi. Saya yang biasanya merawat dan mencuci baju kesayangan dengan tangan saya sendiri, mau tidak mau harus merelakan baju tersebut di cuci oleh pembantu/tukang cuci karena saya tidak tahan dengan bau anyir yang menyengat.

Sampai tengah malam saya tidak bisa tidur. Di satu sisi saya masih terus merasa bersalah karena telah menelantarkan anak-anak. Di sisi lain saya juga menyesal karena saya merasa tidak bisa memperlakukan Uwa dengan kasih. Saya sangat menyesal karena selama menyangga tubuh Uwa di angkot, hati saya tidak merelakan 100% Uwa bersandar di dada saya. Selama di angkot saya masih merasa jijik dan bersikap seperti robot yang harus menjalankan tugas kemanusiaan. Apa yang saya lakukan terhadap Uwa sesungguhnya bukan kasih yang keluar dari hati yang paling dalam. Saya hanya memperlalukan Uwa masih sebatas memperlakukannya sebagai pembantu, bukan selayaknya saya melayani Tuhan.

Saya menangis karena kuatir kalau-kalau Uwa meninggal dan saya belum sempat menebus kesalahan dengan memperlakukannya seperti yang Tuhan Yesus kehendaki. Di tengah-tengah kegalauan hati saya, tiba-tiba telepon berdering. Badan saya lemas sekali. Sebelum sampai di meja telepon, saya terjatuh. Tangis saya kontan meledak "Tuhan Yesus, tolong saya ! Jangan panggil Uwa sekarang karena saya belum memperlakukannya seperti yang Engkau kehendaki !" teriak saya yang yakin bahwa telepon itu dari RS.

"Hallo" kata saya sambil menangis. "Jangan nangis, besok pagi bapak berangkat ke Bogor. Tolong kamu cari orang yang bisa dibayar untuk mengurus Uwa karena tidak ada satu pun anaknya yang mau mengurus Uwa" kata bapak saya. "Iya, ya, ya ! Bapak cepat ke sini ya, anak-anak terlantar nich" kata saya gugup karena saking takutnya

Semalaman saya tidak bisa tidur karena bingung membagi waktu untuk esok paginya. Saya juga bingung karena esoknya saya harus menyelesaikan bahan presentasi yang akan dibawa boss ke luar negeri. Saya juga bingung bagaimana harus menjaga Mika sampai pembantu yang satunya datang jam 12.00, sedangkan Uwa memerlukan baju bersih dan selimut secepatnya. Malam itu saya benar-benar kalut dan menangis di depan komputer sambil curhat dan minta dukungan doa dari beberapa teman milis. Sebelum mematikan komputer, saya pun berdoa "Tuhan Yesus, ampuni kesalahan saya hari ini. Saya tidak tahu berapa lama lagi Engkau uji saya, tapi saya percaya Engkau sendiri yang akan memampukan saya melewati ujian-unjian itu"

Kurang lebih jam 03.30 anak-anak saya bangunkan. Setelah mandi dengan air panas yang saya siapkan, Dika menyiapkan sendiri sarapan pagi dan bekal makanan yang akan di bawa ke sekolah. Saya sendiri menyiapkan saparan untuk Mika dan bekal makan siang saya untuk di kantor nanti. Setelah selesai memandikan Mika saya segera bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Uwa, sembari pergi ke kantor. Sebelum melangkah ke luar rumah, saya menelpon seorang tetangga yang akan menolong saya untuk menjaga Mika selama saya tinggal bekerja.

Pagi itu saya harus meninggalkan Mika dengan sarapannya. Walaupun saya tahu kalau Mika makan tanpa pengawasan selalu menggunakan tangan kirinya hingga makanan tumpah ke mana-mana mirip makanan ayam, tetapi tidak ada pilihan lain, karena saya tidak mungkin mengambil cuti dadakan. Hanya Dika yang masih bisa menemani Mika sambil menunggu mobil jemputan sekolahnya datang pada pukul 06.00 nanti. Sebenarnya saya dan para tetangga sudah berusaha merayu Mika untuk tinggal di rumah tetangga selama Dika sekolah, tetapi Mika selalu menjawab "Mika nggak mau..Mika sudah punya rumah sendiri". Itulah sebabnya beberapa tetangga bersepakat untuk menemani Mika di rumah secara bergiliran.

Jam 04.30 saya cepat-cepat pergi ke rumah sakit, supaya jam 05.30 saya bisa sampai di tempat pemberhentian bis jemputan langganan saya. Sayang sekali begitu sampai di rumah sakit banyak sekali tugas kemanusiaan yang harus saya lakukan. Selain mengganti baju Uwa yang kotor penuh darah yang sudah mengering, saya juga harus mengelap badan Uwa dengan air hangat yang disediakan oleh RS. Jijik sekali rasanya. Selain saya tak pernah membayangkan akan memandikan seorang pembantu, saya juga tidak siap menggunakan peralatan rumah sakit yang biasa dipakai beramai-ramai itu.

Hati saya sungguh tidak siap melihat sikap Uwa yang semakin sulit dimengerti. Rasanya sudah sewajarnya kalau Uwa berterima kasih setelah saya menelantarkan anak-anak demi mengurus Uwa. Saya sungguh tidak menyangka ketika Uwa marah-marah di depan belasan pasien yang lain ketika saya kurang tepat meletakkan pispot sehingga kencing Uwa sedikit tercecer. Walaupun perut saya sangat mual saat membuang kencing Uwa ke kamar mandi, namun Uwa masih saja menuntut lebih.

Karena Uwa sudah bisa saya dudukkan, saya mencoba melepas stagen dan kain panjang yang dikenakannya. Ketika saya salah melilitkan kain panjang ke tubuh Uwa, dengan arah terbaik dari yang seharusnya, Uwa kembali memarahi saya. Bahkan ketika saya jongkok membetulkan kain di bagian kaki Uwa, Uwa menggerakkan kakinya dengan kasar hampir mengenai muka saya. Hampir saja kesabaran saya habis. Ujung bibir saya hampir tak mampu menahan kalimat yang rasanya pantas untuk saya lontarkan "Emang lu siapa?"

Ingin rasanya saya mengembalikan Uwa pada posisi yang seharusnya, yaitu sebagai pembantu. Namun, lagi-lagi saya teringat bahwa ini adalah ujian dari Tuhan. Segala sesuatu Tuhan ijinkan terjadi pada diri saya, demi kebaikan saya sendiri. Hampir saja mengingatkan bahwa Uwa adalah pembantu dan saya adalah majikan yang harus dihormatinya sehingga tidak ada kewajiban bagi saya untuk mengabdi kepadanya. Namun ketika kesombongan itu muncul, tiba-tiba saya merinding membayangkan jika saya tidak sepenuh hati melayani Uwa, jangan-jangan wajah Uwa tiba-tiba berubah menjadi wajah Tuhan Yesus.

Karena terlalu banyak permintaan Uwa, pagi itu saya tidak bisa cepat-cepat meninggalkan RS. Saya pun harus pergi ke kantor dengan kendaraan umum karena sudah ketinggalan bis jemputan. Sudah bisa diduga, kartu absent saya hari itu merah. Tidak main-main, karena 1 menit keterlambatan berarti bonus akhir tahun dipotong sepersekian pesennya.

Selama di kantor, saya tidak tahu lagi apakah saya ini tidur sambil duduk atau duduk sambil tidur. Terpaksa saya harus doping dengan multivitamin dan kopi susu supaya mata bisa diajak melek. Saya sengaja menyelesaikan bahan presentasi yang akan dibawa boss ke luar negeri, supaya waktu selebihnya bisa saya gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kesekretarisan yang agak ringan.

Rasanya makan siang hari itu tidak lagi bisa saya nikmati. Targetnya hanya memasukkan makanan ke dalam perut. Saking ngantuknya, waktu istirahat makan siang yang hanya 30 menit itu saya gunakan 10 menit untuk makan siang dan selebihnya saya pakai untuk tidur di sofa.

Sepulang kerja, sebenarnya saya ingin mampir ke RS seperti yang Uwa minta. Tapi perasaan saya tidak enak karena ingin segera melihat keadaan anak-anak di rumah. Begitu sampai di rumah, saya baru sadar bahwa paginya saya terlalu buru-buru pergi hingga lupa menyiapkan makanan siang untuk anak-anak. Untung saja tetangga yang menemani Mika berinisiatif memasakkan nasi dan menggoreng telor untuk anak-anak.

Malam itu saya tidak punya energi lagi untuk menyiapkan makan malam. Seperti biasanya kalau lagi malas masak, saya meminta Dika membeli japcay di depot mie bangka. Ketika saya menunggui anak-anak makan, saya tertidur di meja makan saking lelahnya. Rencana menjenguk Uwa ke RS malam itu pun batal. Resikonya, saat saya menjenguk ke RS nanti Uwa pasti tak henti-hentikan "menyanyikan" lagu wajib yang semuanya berisi kekecewaan dan kemarahan. Tapi apa hendak dikata, untuk mengontrol anak-anak cuci kaki dan gosok gigi saja, malam itu saya sudah tak sanggup.

Esok paginya, seperti biasa saya membuatkan sarapan untuk anak-anak. Untuk makan siang, saya hanya menyiapkan nasi putih karena saya yakin bapak datang dari kampung membawakan lauk buatan ibu seperti biasanya. Namun karena bapak pergi terburu-buru, dugaan saya kali itu meleset. Bapak yang tidak pernah menuntut dilayani itupun mengajak Dika memasak dari bahan-bahan mentah yang ada di kulkas.

Sore itu saya berencana pergi ke RS setelah mengurus anak-anak dan menyambut kedatangan bapak. Begitu selesai memandikan Mika, saya dan anak-anak menemani bapak minum teh di ruang tamu. Anak-anak saya biarkan "gelendotan" di badan mbah kakungnya, sementara saya merebahkan badan di sofa sambil mendengar kabar keluarga dan suasana di kampung dari bapak. Entah sampai mana saya mendengar cerita bapak, tapi tertidur pulas saat mendengar kisah seru yang bapak ceritakan, memang sudah biasa terjadi sejak saya kecil dulu. Bapak yang tahu kebiasaan buruk saya, memang sudah maklum. Terlebih lagi sore itu saya benar-benar lelah.

Kira-kira jam 20.30 saya dibangunkan Dika karena ada telepon dari RS. Masih setengah tertidur saya menggapai gagang telepon. Saya benar-benar kaget ketika perawat yang menelpon itu meminta saya untuk datang ke RS malam itu juga. "Ada apa suster? Memangnya pasien dalam keadaan gawat?" tanya saya panik. "Bukan Bu! Malam ini pasien memerlukan obat suntik yang harus ibu beli sendiri di apotik" jawab si penelpon. "Apakah tidak bisa dibelikan dulu oleh rumah sakit, terus nanti dimasukkan ke dalam tagihan" saya menawar. "Maaf Bu, untuk pasien kelas 3 tidak ada pelayanan semacam itu. Kalau keluarga Ibu dirawat di VVIP, kami bisa membantu. Untuk pasien kelas 3, keluarga pasien harus membeli obat sendiri" jawab si penelpon kurang bersahabat. "Bagaimana kalau misalnya saya datang besok pagi?" saya masih menawar. "Maaf Bu, ini emergency. Dokter minta obat tersebut harus segera disuntikkan karena kondisi pasien sangat lemah dan HBnya tinggal 6 saja" kata si penelpon dengan nada memerintah. "Kalau begitu, bisa nggak obat tersebut cepat dibelikan dulu dan malam ini juga saya akan datang membayar semua harga obat" saya memohon kebijaksanaan. "Maaf Bu, obatnya sangat mahal dan ibu harus membeli sendiri di apotik. Kami tidak bisa membantu" jawabnya singkat.

Begitu menutup telepon, badan saya rasanya makin loyo saja. Walaupun perjalanan ke RS cuma kira-kira 30 menit, rasanya saya menghadapi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sambil terdiam menahan segala rasa yang berkecamuk, saya mengambil jaket water proof di lemari gantung. Saya memang biasa mengenakan jaket tersebut sebagai pengganti payung supaya saya bisa bergerak lebih cepat dan lincah walaupun dalam keadaan hujan.

Ketika saya melewati teras di mana anak-anak dan mbah kakungnya sedang makan mie tek-tek, hati saya rasanya kelu sekali. Rasanya saya sudah terlalu banyak mengabaikan mereka hanya untuk mengurus Uwa di RS. Wajah saya yang lelah menahan tangis terbaca oleh bapak. "Lakukan segala sesuatu dengan suka cita. Kalau memang masih lelah, duduk-duduk sebentar sambil makan mie panas biar agak rileks" bapak berusaha menghibur. Saya hanya menggeleng.

Saya sudah berusaha menutupi kesesakan hati saya, tetapi akhirnya toh tidak berhasil menahan air mata. "Nggak usah nangis! Semua ini ujian dari Tuhan dan kamu harus setia menerima dan menjalaninya" bapak menasehati. "Apakah ujian-ujian yang selama ini belum cukup?" tanya saya lirih sambil menangis. "Belum! Masih banyak yang harus kamu pelajari dalam hidup ini" jawab bapak. "Dari semua anak bapak, tidak ada yang diuji Tuhan seberat saya. Saya ingat sekali, dulu waktu saya TK, saya tidak bisa bermain sebebas kakak-kakak yang lain. Waktu itu justru saya yang paling bontot yang harus melayani ibu buang air di pispot selama ibu sakit" kata saya sambil terisak, mengingat masa lalu di mana saya harus drop out dari TK.

"Dulu semua kakakmu kan sudah bersekolah, jadi cuma kamu yang masih TK yang bisa membolos" bapak meminta pengertian. "Tapi, waktu lulus SMA dulu saya juga dikorbankan tidak bisa ikut bimbingan tes dan seleksi UNPTN karena harus merawat Pak Dhe. Kakak-kakak yang lebih disayang Pak Dhe saat sehat, justru bisa cuek" saya mencoba mengingat betapa berat ujian yang saya alami. "Itulah ujian dari Tuhan, supaya kamu bisa belajar melayani orang yang sehari-harinya tidak menyayangimu" bapak terus berusaha menghibur. "Sekarang ini saya benar-benar ibarat sudah jatuh tertimpa tangga juga. Badan saya rasanya sudah remuk, anak-anak tidak terurus, masih juga harus mengurus Uwa yang nggak tahu diri. Kakak yang dulu selalu disayang Uwa, tidak ada perhatian sama sekali. Semua masalah sekarang ditimpakan pada saya " saya memuntahkan kelelahan batin saya. "Kamu nggak boleh bicara seperti itu, pandanglah semua itu sebagai ujian dari Tuhan untuk mengajar kamu supaya menjadi pribadi pengampun yang tegar dan tangguh. Karena kamu sudah melewati ujian-ujian yang belum pernah kakak-kakakmu alami, bapak justru merasa tenang dan lebih siap meninggalkan kamu kalau bapak dipanggil Tuhan nantinya. Kalau bapak meninggal, rasanya bapak tidak ragu lagi meninggalkan kamu yang lebih tangguh dari kakak-kakakmu. Nah, kamu seharusnya mensyukuri ujian-ujian berat itu sebagai berkat Tuhan" bapak berusaha membesarkan hati saya.

Setelah sedikit lega, saya menitipkan anak-anak pada bapak. Tak menunggu waktu lagi, saya bergegas ke rumah sakit. Malam itu saya menembus gelapnya malam yang diselimuti gerimis dank abut tipis.

Sesampainya di RS saya langsung menuju ke ruang perawat untuk mengambil resep yang ditinggalkan dokter. Tak menunggu lama, begitu kertas resep itu di tangan, saya melangkah secepat kilat menuju apotik yang berjarak kurang lebih 100 meter dari kamar perawatan. Saya duduk di kursi tunggu sambil melepas kepenatan yang hampir tak berujung. Saya kaget setengah mati ketika petugas apotik menyebutkan sejumlah rupiah yang harus saya bayar. Jantung saya hampir copot karena malam itu saya harus kembali menguras habis seluruh isi dompet saya.

Sebenarnya begitu obat sudah ditebus, saya ingin sekali segera meninggalkan lingkungan yang memuakkan itu. Saya benar-benar malas menengok Uwa. Tapi apa daya, saya tidak punya ongkos untuk pulang ke rumah. Tidak ada pilihan lain selain menjenguk Uwa di kamar perawatan sekaligus meminjam uang untuk ongkos pulang. Saya tahu persis Uwa pasti punya simpanan uang di stagennya.

Sudah bisa diduga, saya kembali kena damprat Uwa, gara-gara datang terlalu malam. Omelan Uwa kali ini cukup keras hingga didengar oleh semua pasien di barak itu. Dengan gaya memerintah, Uwa menyuruh saya mengambil pispot dan melayaninya untuk buang air kecil. Dengan gaya "setengah budek" saya melayani Uwa tanpa berucap sedikitpun. "Kalau saja ada kenalan di sekitar rumah sakit, malam ini saya nggak perlu meminjam uang Uwa dan kena semprot gaya majikan tuwa itu" pikir saya dalam hati.

Saya tidak tahu apa yang diceritakan Uwa kepada sesama pasien dan orang-orang yang menunggu di bangsal itu. Namun, kepergian saya malam itu diiringi dengan tatapan sinis dan komentar tak mengenakkan. Seorang ibu jutek dengan logat Sundanya yang kental menyindir saya sebagai anak durhaka yang tidak memperlakukan orang tuanya dengan baik. Walaupun sedikit gondok, saya masih berusaha melangkah dengan kepala tegak. "Ya, justru karena saya bukan anak durhaka, malam ini saya harus pulang untuk mengurus orang tua saya sendiri, yang sejak kedatangannya jauh-jauh dari kampung tidak saya sambut sebagaimana mestinya" kata saya dalam hati.

Hari-hari berikutnya, saya hampir seperti robot yang harus bangun jam 03.30 untuk menyiapkan sarapan anak-anak dan air panas untuk mandi. Sebelum berangkat ke kantor, saya harus ke RS untuk melayani Uwa buang air kecil dengan pispot, memandikan dengan waslap dan mengganti pakaiannya. Walaupun saya sudah berusaha melakukan melebihi dari yang seharusnya, tetapi Uwa selalu membalasnya dengan kemarahan dan ketidakpuasannya. Belasan pasang mata juga ikut mengadili saya sebagai anak yang tidak tahu diri. Cemoohan dan sindiran dari orang-orang yang sok tahu, rasanya sudah terlalu biasa di telinga saya.

Begitu juga sore harinya sekembalinya dari kantor, saya langsung ke RS, sementara bapak yang berumur 70 tahun lebih, yang seharusnya saya urus justru sibuk mengurus anak-anak saya. Hati saya sebenarnya berontak. Ya, saya berontak untuk banyak hal. Paling tidak saya berontak karena tidak bisa memperlakukan bapak dengan selayaknya. Saya juga berontak karena semua pengorbanan saya hanya dibalas dengan kekecewaan dan kemarahan Uwa di depan umum.

Rasanya, saya tidakkuat lagi menghadapi sikap Uwa yang arogan itu. Sekali pernah terlintas dalam pikiran saya untuk membiarkan Uwa terlantar di RS, toh dia bukan "siapa-siapa" saya. Namun, setiap benih kebencian itu muncul di hati saya, bayang-bayang wajah Tuhan Yesus selalu muncul di wajah Uwa. Akhirnya, apapun yang terjadi, bagaimanapun perlakukan Uwa dan sikap orang-orang di bangsal itu, saya coba abaikan. Saya selalu men-setting otak saya dengan berikir "Sebodo teuing orang mau bikin apa, yang penting gua melakukan yang Tuhan kehendaki. Biar saja orang jungkir balik, tapi saya mau tetap setia pada Matius 25 : 40"

Memang perlu persiapan khusus setiap pagi dan sore saat hendak menjenguk Uwa di RS. Paling tidak saya harus menyiapkan hati, "menelan pil budek" dan menyiapkan muka hingga setebal tembok. Kadang-kadang saya melucu dalam hati untuk menghibur diri sendiri. Ketika seorang penunggu pasien di sebelah Uwa melepas kepergian saya dengan sindiran sinis "Uh, cantik-cantik kok nggak punya perasaan! Kok tega-teganya menelantarkan orang tuanya sendirian" Saya pun berkelakar dalam hati "Masih mending saya cantik biarpun nggak punya perasaan. Dari pada kamu, udah nggak cantik, nggak punya perasaan pula! Karena saya nggak tega menelantarkan orang tua saya sendiri, makanya saya nggak mungkin menunggui emaknya orang lain di rumah sakit"

Entah malam yang keberapa ketika seorang perawat menyodorkan selembar resep lagi yang harus saya tebus di apotik. Lagi-lagi saya bingung harus mengambil uang dari pos mana. Tabungan kesehatan anak-anak sudah ludes untuk membayar obat-obatan yang sebelumnya. Mau tidak mau saya meminjam dulu seperempat tabungan pendidikan yang saya siapkan untuk biaya Dika masuk SMP. Saya berharap kakak-kakak saya bisa membantu biaya pengobatan Uwa sehingga tabungan pendidikan Dika tidak terganggu.

Setelah mengambil sebagian dari persediaan biaya kelanjutan sekolah Dika, saya minta pendapat bapak. Bapak pun menyarankan saya menghubungi keempat kakak saya yang pernah diasuh oleh Uwa. Malam itu saya mengirim SMS kepada semua kakak saya untuk mengajak mereka memikirkan biaya pengobatan Uwa. Sayang sekali, hanya kakak keempat yang membalas SMS dan mengatakan bahwa kondisi keungannya tidak memungkinkan. Saya pun maklum karena keadaan ekonomi kakak keempat memang tidak lebih baik dari saya.

Ketika ketiga kakak yang cukup berlebih dalam hal ekonomi tidak membalas SMS, saya pun mencoba cara yang lebih sopan dengan menelponnya. Sayang sekali, puluhan ribu pulsa terbuang percuma karena kakak pertama merasa uangnya belum cukup untuk menambah satu mobil lagi untuk memenuhi garasinya. Saya dan bapak hanya geleng-geleng kepala melihat kakak pertama yang masih saja membeli mobil baru, padahal mobil yang telah ada melebihi jumlah anggota keluarganya.

Saya mencoba meminta belas kasihan kakak kedua yang sejak kecil selalu dimanja dan dinomorsatukan oleh Uwa. Kakak kedua yang baru mendapat fee puluhan juta dari kliennya ternyata juga masih merasa kekurangan uang karena harus membayar sejumlah kapling untuk melengkapi 3 rumah yang telah dikoleksinya.

Dengan menangis saya mencoba mengemis belas kasihan kakak ketiga yang suaminya punya jabatan di polantas yang hampir bisa dikatakan tinggal membalikkan tangan untuk mendapat uang dalam jumlah yang cukup. Kakak ketiga yang punya hobby mengkoleksi perhiasan itupun tidak peduli dengan Uwa. Dengan gaya pengemis yang memelas saya mencoba meyakinkan kakak bahwa bantuannya sangat berarti untuk saya dan anak-anak, bukan untuk Uwa. Walaupun urat malu saya telah putus, demi mendapatkan bantuan kakak ketiga, namun kakak hanya menawarkan pinjaman dalam bentuk emas. Saya yang tidak tahu fluktuasi harga emas, tentunya sangat takut kalau-kalau nanti saat saya harus mengembalikan pinjaman, harga emas tiba-tiba melonjak naik.

Tak kurang akal, saya mencoba menelpon kembali kakak kedua yang sedang sibuk mencari kapling. Paling tidak saya ingin meminjam uangnya sebelum kakak menemukan kapling yang cocok. Sayang sekali malam itu kakak mengaku tidak punya otioritas sama sekali atas uang miliknya. Kakak menawarkan saya menempuh prosedur yang panjang dan berbelit-belit untuk meminjam uang lewat istrinya yang tak segan-segan berbicara pedas kepada iparnya.

Kakak kedua yang sering tinggal di rumah saya itupun memberi alternatif kepada saya untuk mengambil semua tabungan pendidikan Dika. Dengan perasaan yang sudah tak karu-karuan, saya hanya menjawab lirih. "Kalau semua tabungan Dika diambil, dengan uang apa lagi Dika masuk SMP? Ironis sekali kalau Dika sampai tidak bisa melanjutkan ke SMP hanya gara-gara saya menolong orang yang seharusnya kita tanggung bersama" Tanpa memperhitungkan perasaan saya sebagai ibu, kakak saya pun menawarkan jalan keluar yang membuat hati saya tercabik-cabik "Kalau tidak bisa membayar uang pangkal ke SMP, Dika bisa dititipkan di rumah bapak, biar disekolahkan di kampung" Mendengar saran kakak, tangis saya kontan meledak. "Masa sih, gara-gara menolong orang, anak-anak saya harus berpencar-pencar?!" tangis saya setengah memprotes.

Dika yang tidak tahu menahu pembicaraan saya dengan kakak, tiba-tiba mendatangi saya sambil bertanya "Bu, kenapa Dika dan adik-adik harus berpencar? Memangnya kalau ibu meminjam uang ke saudara, Dika dan adik-adik harus ditahan untuk jaminan?" Mendengar kata-kata Dika hati saya semakin teriris. "Tuhan, ujian apa lagi yang akan Engkau berikan? Apakah saya belum cukup merelakan apa yang saya miliki untuk menolong orang lain? Apakah kerelaan saya ini akan berbuah penderitaan untuk anak-anak saya? Apakah saya harus merelakan seluruh tabungan Dika, sementara saya tidak punya kepastian dari mana biaya masuk SMP untuk Dika? Tuhan, selama ini saya sudah mengekang nafsu saya hanya supaya bisa menabung untuk anak-anak. Haruskah kedisplinan saya untuk menabung justru hanya membuahkan hasil yang berantakan yang serba tidak teratur ini?"

Bapak yang tahu apa yang sedang saya tangisi, berusaha menguatkan hati saya "Ini adalah pelajaran dari Tuhan untuk menguji seberapa besar kerelaan kamu untuk berkorban" "Ini nggak adil, dari dulu saya selalu berkorban menolong orang lain. Apakah pengorbanan saya belum cukup? Apakah saya harus mengorbankan masa depan Dika hanya untuk menolong seorang pembantu?" saya memprotes sambil terisak. "Ini memang ujian yang berat. Tapi kalau kamu berhasil melewatinya, Tuhan sendiri yang akan menyiapkan masa depan kamu dan anak-anakmu" dengan gaya seorang majelis, bapak menasehati.

Walaupun otak saya blank malam itu, saya bertekad untuk menanggung semua biaya Uwa, tanpa harus mengemis belas kasihan kepada orang lain. Untuk biaya pendidikan Dika, saya pun bertekad untuk tidak meminta belas kasihan atau meminjam kepada sanak saudara. "Saya harus bisa sendiri dan hanya boleh mengandalkan Tuhan" begitu janji saya dalam hati.

Saya mencoba bersikap "legowo" menerima segala sesuatunya dengan suka cita dan rasa syukur supaya beban terasa lebih ringan. Namun tidak semudah membalikkan tangan. Ujian yang lebih berat masih Tuhan berikan kepada saya. Ketika Uwa sudah diperbolehkan pulang, saya hampir pinsan melihat tagihan yang jumlahnya mencapai 8 digit. Malam itu, saya tidak hanya menguras habis tabungan pendidikan Dika di Lippo, tetapi juga harus menguras uang gaji di BNI. Bukan hanya fisik saya yang harus mondar-mandir ke dua lokasi ATM, hati saya pun kacau balau tak menentu. Selain memikirkan biaya masuk SMP yang tinggal satu-dua bulan lagi, saya juga pusing memikirkan bagimana saya akan menyambung hidup sampai gajian bulan berikutnya tiba.

Namun entah mengapa, walaupun sisa uang di dompet kurang dari seratus ribu, saya bangga sekali bisa membayar lunas tagihan RS tanpa bantuan dari anak-anak kandung Uwa maupun keempat kakak kandung saya.

Dengan perasaan gagah bak pahlawan menang perang, saya menghampiri Uwa yang sudah bersiap-siap pulang. Semula saya pikir Uwa akan bangga dengan pengorbanan saya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Uwa kecewa karena kakak saya tidak bisa menjemput dengan mobilnya sehingga Uwa terpaksa saya ajak pulang dengan naik angkot. Sebelum meninggalkan bangsal, Uwa sempat marah-marah karena saya tidak membelikannya sandal. Saya sendiri tidak tahu kemana raibnya sandal yang dipakai Uwa dari rumah. Hilangnya sandal di bangsal itupun Uwa timpakan sebagai kesalahan saya.

Untuk menghindari tatapan mata para penunggu pasien yang tidak ramah, saya pun merelakan sandal saya untuk Uwa. Mau tidak mau, malam itu saya harus menahan jijik menapaki lorong RS yang tidak begitu bersih itu. Tidak tanggung-tanggung, ternyata halaman RS yang harus kami lalui sangat becek sehingga kaki saya mirip kaki petani dari sawah. Orang Sunda yang melihat saya pasti sependapat bahwa keadaan itu benar-benar bikin "geuleuh".

Karena di sekitar RS saya tidak menemukan penjual sandal, saya pun tetap "nyeker" menyeberang jalan untuk mencari angkot yang bisa kami carter sampai di rumah. Tak pelak lagi, setiap sopir angkot selalu memandangi kaki saya yang "udik"; tak beralas sedikitpun lengkap dengan celana panjang yang saya lipat mirip orang kebanjiran.

Sesampainya di rumah, saya tidak bisa langsung istirahat. Saya harus memanaskan air untuk merendam kaki yang mulai gatal-gatal. Perut saya pun kembung karena cukup lama telanjang kaki. Karena banyak tuntutan yang mengharuskan saya gergerak cepat bekas jahitan di lutut saya pun terasa nyeri kembali. Selama ini rasa nyeri tersebut saya hiraukan karena tak sebanding dengan beban yang harus saya selesaikan. Badan saya meriang dan perut saya pun mual. Rasanya kekuatan saya hanya tinggal beberapa persen saja dan mungkin tinggal sejengkal lagi jarak saya dengan sakit.

Ketika bapak menanyakan berapa total uang yang saya keluarkan untuk Uwa, saya hanya menjawab sambil berlinang air mata "Semua gaji, tabungan kesehatan anak-anak dan tabungan pendidikan Dika ludes. Mungkin malam ini, saya adalah orang yang paling miskin di dunia. Cuma ini yang saya punya" kata saya sambil menunjukkan 3 lembar uang dua puluh ribuan "Saya nggak tahu bagaimana saya harus menghidupi anak-anak selama 25 hari lagi, sampai gajian tiba" sambung saya masih dengan berlinang air mata.

Bapak pun menjawab santai "Anak-anakmu itu milik Tuhan, percayalah Tuhan sendiri yang akan memeliharanya. Tuhan itu tidak tidur, tidak kurang bijaksananya dan tidak akan membiarkan anak-anakNya kelaparan" Saya pun merasa tenang karena saya yakin bapak tidak NATO (no action, talk only). Bapak tidak hanya pintar menasehati tetapi juga aktif bertindak. Saya tahu persis, bapak tidak hanya siap dengan nasehat dan doa-doanya, tetapi juga dengan pengorbanan tenaga dan materi yang dimilikinya. "Kira-kira berapa yang kamu butuhkan untuk menyambung hidup sampai kamu gajian? Segini cukup?" tanya bapak sambil menyodorkan segepok uang sisa pensiunnya. "Untuk makan saja sih cukup. Hanya saja, semua uang gaji sudah terpakai untuk membayar rumah sakit, padahal tagihan rumah, telepon, listrik dan SPP Dika belum terbayar" jawab saya ringan, tanpa beban sedikitpun. "Kalau begitu, besok bapak cepat-cepat pulang kampung supaya bisa menjual kopi dan cengkeh yang ada di gudang untuk kamu" bapak menjamin "Nanti untuk biaya masuk SMP Dika, bapak bisa gadaikan SK pensiun ke bank" lanjut bapak. Mendengar kesanggupan bapak, saya kembali menangis. Saya benar-benar tidak tega merampas hak bapak untuk menikmati uang pensiunnya.

Menjelang tidur, saya mencoba-coba membuka email. Sungguh tak terduga, ada beberapa tawaran side job yang saya cukup besar honornya. Saya yang beberapa hari hampir tidak pernah tertawa, malam itu benar-benar girang. "Pak, ternyata berkat Tuhan mengalir pada waktunya. Bapak nggak usah buru-buru pulang kampung, karena saya dapat kerjaan tambahan di beberapa tempat sampai malam hari. Bapak nggak perlu repot-repot membantu keuangan saya. Yang saya perlukan saat ini cuma bantuan tenaga dan perhatian bapak menemani Dika belajar dan menjaga adik-adiknya selama saya tidak ada di rumah" jawab saya kegirangan.

Walaupun semua anak kandung Uwa dan keempat kakak saya yang pernah diasuh Uwa, lepas tangan atas biaya pengobatan Uwa yang mencapai 8 digit, saya masih tetap merelakan puluhan ribu pulsa saya untuk mengabari mereka satu persatu. Kala itu saya tidak lagi mengabarkan kesusahan dan mengemis belas kasihan mereka. Saya hanya ingin menyampaikan kabar suka cita bahwa Uwa sudah sehat dan saya pun telah keluar dari masalah keuangan.

Kakak kedua yang sejak kecil paling dimanja oleh Uwa, waktu itu justru menawarkan rencana yang tidak berpihak pada Uwa. Kakak yang tahu bahwa gaji Uwa masih saya simpan di rekening khusus, menyarankan saya untuk mengambilnya sebagian sebagai penggantian biaya RS. Kalau menilik hubungan saya dengan Uwa sebagai pembantu dan majikan, saran kakak memang masuk akal. Hanya saja saya tidak mau menodai kerelaan saya yang telah saya lakukan untuk Tuhan. Saya tidak mau memotong sesenpun gaji Uwa karena itu murni hak Uwa. Soal tanggung jawab pengobatan Uwa, itu murni urusan saya dengan Tuhan yang mengijinkan hal tersebut terjadi dalam kehidupan saya.

Ujian untuk "memurnikan kerelaan" juga saya lalui ketika para tetangga menjenguk Uwa baik di RS maupun di rumah. Walaupun perhatian, kunjungan dan bantuan finansial dari tetangga merupakan salah satu "tuaian" dari apa yang saya tabur selama ini, tetapi saya tidak mau mengurangi kebahagiaan Uwa. Sebenarnya Uwa juga ingin memberikan semua amplop berisi uang dari para tetangga. Namun dari lubuk hati yang paling dalam, sedikit pun tidak ada keinginan saya untuk mengambil sumbangan yang diberikan kepada Uwa.

Kakak yang sehari-harinya melihat polah tingkah Uwa yang begitu menyesakkan hati, menyarankan saya untuk segera mengirim Uwa pulang dengan mobil travel. Usul kakak memang sangat realistis karena ia tahu persis ketidaksiapan mental dan keuangan saya bila Uwa tiba-tiba sakit hingga meninggal nanti.

Walaupun sejujurnya Uwa sama sekali sudah tidak memberi manfaat untuk saya dan anak-anak, tetapi saya ingin tetap memperlakukannya sebagai manusia. Sangatlah tidak manusiawi jika saya membiarkan Uwa yang masih dalam masa pemulihan untuk menempuh perjalanan ke Jawa. Selain itu saya pun tidak yakin ada salah satu anak kandung Uwa atau kakak saya yang bersedia memberi tumpangan kepada Uwa.

Bapak yang selalu mengikuti "perjalanan iman" saya, tahu persis pergumulan saya. Beberapa kali bapak mengajak saya untuk "rapat rahasia" di belakang Uwa dan anak-anak saya. Kami berdua mencari cara terbaik untuk memberi tumpangan kepada Uwa hingga akhir hayatnya, tanpa harus menimbulkan gejolak pada kehidupan orang lain.

Saya dan bapak cukup lama untuk memikirkan nasib Uwa selanjutnya. Bapak tahu persis, sebenarnya hanya saya dan bapak yang masih memberi tempat untuk Uwa. Saya memang satu-satunya anak yang super cuek dan sangat memaklumi kekacauan perilaku dan arogansi Uwa. Namun karena beban hidup yang harus saya tanggung sendirian sudah cukup berat, bapak tidak tega menambah beban saya lagi. Rumah bapak sebenarnya paling cocok sebagai tempat Uwa menjalani sisa hidupnya. Hanya saja, ibu yang cenderung reaktif dan emosional, sangat tidak menyukai sikap dan perilaku Uwa yang tidak bisa menempatkan diri. Kalau kami memaksakan Uwa tinggal di rumah orang tua saya, kami justru kuatir kesehatan dan emosi ibu terganggu.

Atas permintaan bapak, saya mencoba menghubungi kembali keempat kakak saya untuk meminta sedikit saja hati mereka supaya mau memberikan tumpangan untuk Uwa. Walaupun bapak sudah siap dengan jawaban mereka, tapi saya tahu di mata bapak tersirat kekecewaan yang mendalam atas sikap kakak-kakak saya. "Bapak tahu, diantara kelima saudaramu, cuma kamu yang mengerti kasih Kristus. Walaupun hidup kamu secara materi jauh di bawah kakak-kakakmu, tapi cuma kamu yang merasa berkelimpahan dan bisa menolong orang lain" kata bapak dengan mata yang berkaca-kaca.

Setelah bedoa dan bergumul cukup lama, bapak pun menawarkan jalan keluar yang kami rasa paling baik. Bagaimanapun keadaannya, saya harus tetap merawat Uwa hingga pulih dan benar-benar siap untuk menempuh perjalanan ke Jawa. Otomatis saya harus menambah tenaga pembantu untuk merawat Uwa selama masih di rumah saya. Bapak telah memutuskan setelah pulih dan kembali ke Jawa, Uwa akan tinggal bersama para pekerja di rumah kakak pertama yang berjarak kurang lebih 5 km dari rumah orang tua saya. Untuk kebutuhan makan sehari-hari ibu berjanji akan memberikan bahan-bahan mentah yang bisa Uwa olah sendiri. Bapak pun mengingatkan saya untuk memberikan uang "pensiun" setiap bulan untuk Uwa. Walaupun saya tidak boleh besar kepala, tetapi saya tetap bangga karena saya adalah satu-satunya anak yang diminta oleh bapak untuk memberikan uang bulanan buat Uwa.

Setelah 3 minggu Uwa kami rawat di rumah fisiknya pun membaik kembali. Menurut dokter, Uwa cukup kuat untuk menempuh perajalan ke kampung. Uwa pun secara mental sudah siap. Uwa sendiri memang tahu bahwa saya selalu siap membantu siapapun tetapi belum punya kesiapan mental untuk mengurus hari-hari tua Uwa. Dengan berlinang air mata, Uwa memohon "Walaupun aku sudah menghabiskan uang banyak, dan tidak berguna untuk keluarga di sini, mama Dika masih mau kan memberi santunan sampai nanti aku mati? Aku cuma mengandalkan uang kiriman dari Bogor untuk hidup" pintanya memelas.

"Uwa, nggak usah mikir. Nanti semua gaji Uwa saya kasih utuh dan saya tambahi supaya bisa untuk biaya hidup Uwa sampai akhir tahun ini. Nanti libur natal saya tengok Uwa" kata saya sambil menyodorkan uang gaji dan tambahan lainnya. "Jadi semua biaya pengobatan saya ditanggung seluruhnya sama mama Dika?" tanya Uwa berkaca-kaca. Saya pun hanya mengangguk. "Semua kerelaan mama Dika pasti Tuhan perhitungkan. Tidak ada pengorbanan mama Dika yang Tuhan lupakan. Saya berdoa semoga apa yang mama Dika korbankan untuk saya, Tuhan kembalikan berlipat-lipat" sambung Uwa. "Amen!" jawab saya santai tapi mantap.

Walaupun biaya hidup saya untuk sebulan sudah Tuhan sediakan, tetapi saya masih memutar otak bagaimana mencari uang untuk persiapan Dika masuk SMP. Ketika saya cengar-cengir melihat semua kartu ATM yang tak lagi mengeluarkan uang jika digesek, "manajemen kecil" yang menangangi pemasaran buku saya memberikan laporan yang sangat menggembirakan. Buku "TANGAN YANG MENENUN" cetakan 1-2 yang belum sempat dilaunching secara resmi, ternyata laris manis bak kacang goreng. Hasil royalty yang saya dapat rasanya sudah lebih dari cukup untuk membiayai sekolah Dika di SMP.

Tidak berhenti di situ, Tuhan masih memberikan berkat dari royalty untuk cetakan 3-4 yang sama besarnya. Ternyata benar sekali, ketika saya memberikan seluruh apa yang saya miliki dengan penuh kerelaan, Tuhan menggantikannya dengan jumlah yang tak terkira. Namun demikian saya tetap berdoa supaya Tuhan menjaga hati saya sehingga tidak "maruk" dan tetap menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Saya tetap yakin bahwa apa yang Tuhan berikan, bukan untuk saya pribadi. Tuhan mempercayakan berkat itu kepada saya, supaya orang-orang di sekitar saya bisa merasakan kasih Tuhan. Dan akhirnya merekapun memuliakan nama Bapa di Surga.

Ketika saya telah mencapai tingkat "lilo legowo" (rela dengan sepenuh hati) memberikan semua yang saya miliki untuk orang lain, dan tidak mengukuhi berkat yang saya tuai untuk kepentingan diri sendiri, Tuhan pun mengirimkan anak-anakNya untuk menambal lubang-lubang kekurangan saya. Salah satu hamba Tuhan mengirim SMS yang sungguh menguatkan saya "Baca Kel 35 : 20-29 ! Memberi bukan karena kelebihan, bukan pula supaya Tuhan berbuat baik kepada kita. Berilah karean keinginan hati yang rela untuk berbagi"

Tuhan juga memberikan saya seorang teman sekaligus bapak rohani yang semula hanya saya kenal lewat dunia maya, untuk semakin menguatkan keyakinan saya tentang berkat Tuhan. Tidak hanya memberikan dukungan moral, bapak rohani yang bermukim di Holland selalu menawarkan bantuan materi untuk saya. Bahkan bapak rohani saya meyakinkan akan adanya jalan yang sedang dirintisnya supaya suatu saat Dika bisa melanjutkan sekolah di Eropa.

Tuhan memang sungguh luar biasa dan begitu kreatif untuk memelihara saya dan anak-anak. Dari perkiraan dan hitungan matematis manusia, Dika hampir kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke SMP. Namun ketika kepasrahan saya kepada Tuhan benar-benar total, Tuhan justru memberikan jaminan yang lebih. Tidak hanya jaminan untuk biaya pendidikan di SMP, kemungkinan Dika untuk mendapatkan pendidikan di Eropa pun sudah Tuhan buka.

Ketika "mimpi-mimpi" anak-anak saya harus tertunda karena semua yang ada saya relakan untuk diberikan kepada orang lain, Tuhanpun mengirimkan anak-anakNya untuk menggantikan apa yang tidak bisa saya berikan untuk anak-anak. Ketika mimpi Dika untuk memiliki jam tangan harus saya kalahkan, sebagai anak Dika memang sangat kecewa. Namun sebelum kekecewaan itu mematikan semangat Dika, seorang pendeta senior membawakan oleh-oleh jam tangan dari Singapura untuknya.

Dika sangat girang dengan apa yang ia dapatkan. Perasaan saya pun bercampur aduk antara mensyukuri berkat Tuhan dan terharu melihat ungkapan hati Dika yang disampaikan dalam emailnya kepada pendeta senior itu, sebagai berikut : "Pak terima kasih jamnya. Jamnya bagus sesuai keinginan Dika. Jamnya sudah Dika pakai ke sekolah. Teman-teman ikut kagum. Dika bangga punya jam yang bagus seperti teman-teman lain yang masih punya ayah. Dika mau pakai jam itu sampai selama-lamanya" Ternyata apa yang Dika dapat tidak sekedar jam, seperti yang dimintanya dari saya. Ada kebanggaan tersendiri dalam diri Dika karena jam itu didapatnya dari seorang "bapa".

sumber http://artikel.sabda.org/mengasihi_hingga_sakit_memberi_hingga_tak_tersisa

Mengintip Bach, Beethoven, Mozart...

Dengan rasa kagum sejarah mengabadikan nama komponis-komponis agung seperti Bach, Handel, Haydn, Mozart, Beethoven, Schubert dan lain-lain. Mereka adalah jenius yang menghasilkan musik yang memberi rasa indah kepada hati umat untuk berabad-abad lamanya. Mungkin kita menduga bahwa sebagai jenius mereka dengan mudah menghasilkan karya-karya besar. Dugaan itu keliru. Karya mereka bukan lahir begitu saja, melainkan melalui banyak pergumulan belajar dan berdoa. Marilah kita mengintip pergumulan mereka.

JOHANN SABASTIAN BACH (1685-1750) sudah menjadi yatim piatu pada usia sembilan tahun, justru pada saat ia belajar mengembangkan minatnya pada musik. Tetapi Bach berkemauan keras. Ia membaca buku hanya dengan sinar bulan yang masuk ke jendela kamarnya. Ia tidak segan berjalan kaki sejauh puluhan bahkan ratusan kilometer selama berhari-hari untuk bisa mendegarkan konser organ. Sebelum mengarah sebuah lagu, lama Bach berdiam diri ... lalu di kertas kosong yang akan digunakannya ia menulis : J.J. (Jesu Juva, artinya Yesus, tolonglah saya) Kemudian kalau sudah selesai pada bagian akhir kertas itu Bach menulis : S.D.G. (Soli Deo Gloria, artinya Kemuliaan bagi Allah). Bach mengagumi Daud yang memberikan tempat yang penting pada nyanyian dan musik dalam ibadah. Dalam Alkitabnya, di bawah 1 Tawarikh 25, Bach mencatat :"Musik adalah buah Roh Kudus." Bach juga sangat terkesan pada 2 Tawarikh 5:13-14 "Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya ... Pada ketika itu rumah Tuhan dipenuhi awan ... kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah."

GEORGE FREDERIC HANDEL (1685-1759) mempunyai cara lain dalam pergumulan mencari ilham. Untuk mengarang sebuah oratorium Handel mengurung diri selama berhari-hari di kamarnya. Ia tidak mau bertemu dengan siapapun. Pada suatu hari ia pernah keluar dari kamarnya memegang kertas-kertas berisi karyanya sambil menangis dan berteriak, "Saya telah melihat sorga, saya telah melihat Tuhan!"

FRANZ JOSEPH HAYDN (1732-1809) lahir dalam keluarga miskin di desa di pedalaman Austria. Ia mencari nafkah dengan jalan menjadi pemain biola di depan restoran. Baru kemudian hari ia bekerja sebagai musikus di rumah-rumah bangsawan. Haydn dijuluki "Bapak segala simfoni", sebab ia mengarang begitu banyak simfoni. Sebelum ia mengarang suatu simfoni, ia lebih dulu bertelut di depan pianonya dan meneduhkan diri. Ia pernah menjelaskan, "Dalam keteduhan seperti itulah saya meminta bakat yang diperlukan untuk bisa memuliakan Tuhan dengan pantas."

WOLFGANG AMADEUS MOZART (1756-1791) belajar piano pada usia empat tahun, dan pada usia enam tahun ia sudah bermain konser. Segala sesuatu berjalan begitu cepat dalam hidup Mozart. Ia melejit ke atas sebagai pemusik yang paling populer di Austria. Banyak orang jadi penggemarnya, tetapi banyak juga yang membenci dan iri kepadanya. Pernah Mozart menulis kepada ayahnya, "Papa jangan khawatir, saya dipelihara Tuhan. Saya sering takut Tuhan marah ..., tetapi saya merasakan kemurahan hati dan kelemah-lembutan Tuhan." Mungkin karena merasakan kemurahan Tuhan, maka Mozart bermurah hati kepada banyak orang. Ketika rekannya sakit, Mozart menggantikan kawannya untuk menyelesaikan karyanya, lalu seluruh pembayaran untuk karya itu diserahkan kepada kawannya. Mozart meninggal pada usia 35 tahun dalam keadaan yang mengenaskan. Untuk membeli peti jenazah pun tidak tersedia uang.

LUDWIG VON BEETHOVEN (1770-1827) terserang penyakit telinga menjelang usia 30 tahun, lalu ia menjadi tuli secara total. Bayangkan bagaimana terpukulnya seorang komponis lagu kalau ia menjadi tuli. Dalam kesedihannya ia menulis, "Aku merasa sepi, sangat sepi. Tetapi aku merasa Tuhan dekat." Beethoven banyak membaca buku renungan. Buku kegemarannya adalah Imitatio Christi (artinya: Meniru Kristus) karangan Thomas a Kempis. Walaupun Beethoven tuli, namun ia tetap produktif sepanjang hidupnya dengan menghasilkan begitu banyak simfoni, oratorio, opera dan sonata piano yang menakjubkan. Salah satu warisannya adalah nyanyian "Kami Puji Dengan Riang" di Kidung Jemaat, no. 3.

FRANZ PETER SCHUBERT (1797-1828) lahir dalam keluarga guru sekolah dasar yang miskin. Untuk mengarang lagu ia tidak mampu membeli kertas, sehingga ia menulis di kertas bekas. Schubert meninggal dalam usia 32 tahun karena wabah typhus yang melanda perkampungan kumuh di kota Wina tempat ia tinggal. Dalam catatannya ia menulis : "Ketika saya menciptakan musik, saya beribadah kepada Tuhan, dan saya menciptakan musik supaya orang beribadah kepada Tuhan." Tulisan di atas bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa komponis-komponis besar itu orang-orang sempurna. Mereka manusia biasa dengan sifat buruknya masing-masing. Misalnya, Handel dikenal sebagai orang yang suka mengumpat dan memaki. Mozart kurang dewasa dalam kepribadiannya dan suka memboroskan uang untuk berfoya-foya. Beethoven gampang naik darah, sehingga ia pernah melemparkan makanan di piring ke wajah seorang pramusaji restoran hanya karena makanan itu tidak sesuai dengan yang dia pesan. Yang mau dicatat di sini adalah bahwa orang-orang jenius itu dengan rendah hati mencari Tuhan sebagai sumber ilham. Mereka merasakan kedekatan dan keakraban dengan Tuhan sebagai saat-saat yang mengilhami karya musik mereka. Mereka mengaku bahwa bakat mereka adalah pemberian Tuhan dan adalah pantulan kemuliaan Tuhan, karena itu untuk kemuliaan Tuhan jugalah mereka mempersembahkan karya mereka yang agung itu. Kata dan nada yang lahir dari jari mereka adalah sentuhan tangan Tuhan. Ilham yang mereka peroleh adalah percikan Roh Tuhan.

Sumber: http://artikel.sabda.org/mengintip_bach_beethoven_mozart

Saksi Dari Kursi Roda

Seorang wanita bernama Nancy memasang iklan berikut di surat kabar lokal: "Jika Anda kesepian atau memiliki masalah, teleponlah saya. Saya memakai kursi roda dan jarang keluar rumah. Kita dapat saling menceritakan masalah kita. Telepon saja. Saya senang bercakap-cakap dengan Anda."

Tanggapan terhadap iklan itu sungguh mengejutkan. Ia menerima 30 telepon atau lebih setiap minggunya.

Apakah yang mendorong wanita ini untuk menjangkau dan menolong orang lain yang sedang membutuhkan dari atas kursi rodanya? Nancy menjelaskan bahwa sebelum ia lumpuh, ia memiliki tubuh yang sehat sempurna. Meskipun demikian, ia merasa sangat putus asa. Karena itu ia mencoba untuk bunuh diri dengan melompat dari jendela apartemennya, namun hasilnya ia justru lumpuh mulai dari pinggang ke bawah.

Di rumah sakit, dalam keadaan benar-benar frustrasi, ia merasakan Yesus berkata, "Nancy, dahulu tubuhmu sehat namun jiwamu cacat. Mulai sekarang engkau akan memiliki tubuh yang cacat, namun jiwa yang sehat." Ia pun menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Saat akhirnya diizinkan pulang, ia berdoa agar dapat membagikan kasih karunia Allah kepada orang lain, dan ide untuk memasang iklan surat kabar itu pun muncul. Setiap orang percaya dapat berbuat sesuatu untuk menolong orang lain.

Mungkin kita dibatasi oleh penyakit, usia lanjut, atau cacat tubuh, namun kita dapat berdoa, menelepon, atau menulis. Bagaimana pun kondisi kita, kita dapat menjadi saksi yang efektif bagi Yesus.

HANYA SEUSAI KITA BERBICARA KEPADA ALLAH TENTANG ORANG-ORANG KITA SIAP BERBICARA KEPADA ORANG-ORANG TENTANG ALLAH.

http://artikel.sabda.org/saksi_dari_kursi_roda

Terjadilah Apa Yang Tak Pernah Kau Bayangkan!

Penulis : Tema Adiputra

Seorang teman saya yang sekarang posisinya sebagai General Manager di sebuah perusahaan bercerita, dulu di tempat kerja sebelumnya, boss-nya seorang pria ganteng dan atletis (katanya! mirip tokoh Eric Estrada bintang film Chips) memiliki kebiasaan unik. Setiap pagi sebelum pergi ke kantor si boss itu berdiri di muka cermin, lalu menatap bayangan dirinya terutama wajahnya, dan berkata : kau pasti akan sukses hari ini! Hal itu sudah menjadi rutinitasnya dan memang menjadi pemacu semangat kerjanya hari itu. Dan memang benar kesuksesan pun diraihnya. Seperti yang ditekadkan dan dibayangkannya pada pagi hari dia bercermin itu.

Ya! Ada banyak kiat-kiat yang kita ketahui dari berbagai sumber untuk dapat meraih sebuah keberhasilan. Kita bebas mengikuti petunjuknya dan menerapkannya dalam upaya kita untuk dapat sukses/berhasil. Saya masih ingat seorang Profesor teman saya menganjurkan, mulailah bermimpi/memimpikan apa yang kau ingin capai dalam cita-cita hidupmu, dan lalu mulailah bertindak, mulailah melangkah, sekalipun langkah pertama dimulai hanya dengan setengah langkah. Yang penting mulai melangkah dan berlanjut melangkah. Dan jangan pernah putus asa. Berkomitmenlah! Sang profesor memang telah membuktikan sendiri kiat-kiat itu, dan ia sukses! Apa yang diimpikannya satu persatu tercapai.

Tahun 1982, saat saya masih tinggal sendirian di rumah besar milik abang saya untuk menjagainya, teman yang setia di malam hari adalah sebuah pesawat radio kecil. Sembari membuat tugas dari dosen, atau belajar, saya menyetel radio itu mendengarkan siaran rohani kristen. Saya suka menikmati sajian acara radio rohani tersebut. Sampai pada suatu malam hati saya berkata pada Tuhan : Tuhan saya ingin sekali menjadi penyiar di radio rohani itu, tapi mana mungkin Tuhan, saya tidak tahu seluk beluk dunia radio siaran, dan lagi pula saya mahasiswa sastra. Nah, saya hanya melontarkan sebuah kerinduan dan tidak pernah ada upaya untuk datang ke kantor radio itu karena dilatarbelakangi kontradiktif skill/ketrampilan yang saya miliki saat itu. Jadi hanya pada saat itu saja saya rindukan untuk jadi penyiar tapi tidak berlama-lama memimpikannya. Namun apa yang terjadi kemudian? Dua tahun kemudian, saat saya sedang nongkrong di sekretariat persekutuan mahasiswa kristen di kampus saya, datanglah seorang teman wanita (yang ternyata dia penyiar honorer di radio yang sering saya dengar itu) menghampiri saya sembari berujar: mau nggak kamu melamar posisi peresensi puisi di radio saya? Kamu kan mahasiswa sastra dan sering bikin puisi serta pentas puisi di kampus kita ini. Wah ditantang begitu, tentu saja saya ladeni. Maka mulailah saya berkiprah di stasion radio yang tahun 1982 lalu sempat saya rindukan sesaat. Dari tukang membuat naskah resensi puisi, akhirnya di-test jadi penyiar, lalu jadi penyiar, dan seterusnya tugas-tugas saya di radio itu merambah ke mana-mana sampai dengan berprofesi saat ini sebagai konsultan radio siaran dan menjadi pemandu acara yang direkrut secara khusus oleh lembaga-lembaga kristen maupun gereja yang bersiaran di sebuah stasion radio rohani di Jakarta. Bila merenungkan semua hal ini saat ini maka dalam hidup saya telah terjadi dan terwujud sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Segala pujian hanya untuk Tuhan!

Bagaimana dengan peristiwa berikut ini yang beberapa waktu lalu menimpa saya? Pada tulisan-tulisan saya sebelum ini, ada saya saksikan bagaimana saya dan tim pelayanan mengatasi persoalan keuangan untuk membayar dana shooting camera, akibat ingkar janjinya seorang donatur. Pada akhirnya Tuhan buka jalan bagi kami sehingga seorang pengusaha yang adalah juga pendeta (ibu Pdt.FAS) tergerak hatinya untuk memberi pinjaman uang yang pelunasannya akan kami cicil selama 8 bulan. Wah betapa lega hati kami waktu itu karena telah lolos dari persoalan yang berisiko tinggi. Maka tentu saja saya dan tim bertekad (dengan berdoa khusus) untuk tepat waktu membayar cicilan setiap bulan itu. Kami buktikan! Pada tanggal 7 bulan pertama cicilan, kami datangi kantor ibu itu, dan bertemu sekretarisnya dan lalu menyerahkan uang di amplop sebagai cicilan pertama. Puji Tuhan lagi! Ya, kami bersukacita untuk bulan berikutnya akan membayar tepat waktu. Sekalipun uang itu hasil saweran bersama.

Nah kira-kira seminggu sebelum jatuh tempo tanggal bulan cicilan kedua, saya jumpa dengan ibu itu di sebuah pertemuan ministry. Tentu saja saya sedikit kagok namun ibu itu tersenyum dan menyapa saya dengan tidak membicarakan masalah uang tersebut. Sehingga orang banyak di sekitar saya pun tidak tahu menahu urusan ini. Saat bubaran pertemuan ministry itu, ibu yang baik hati ini tiba-tiba menghampiri saya dan berkata, saya ingin bicara sebentar dengan kamu! Lalu kami berdua masuk ke sebuah ruangan dan pintunya saya tutup. Saya pasrah saja, seandainya dia mempersoalkan uang yang kami pinjam itu. Lalu ia berkata: ...hati saya digerakkan Tuhan, uang cicilan yang 7 bulan lagi, tidak perlu kalian lanjutkan pembayarannya! Untuk beberapa detik saya terkesima! Setelah sadar, langsung saya tepuk kening saya dan berkata : Aduhhhhh...! Puji Tuhan! Puji Tuhan! Terima kasih, bu. Terima kasih, bu. Tuhan memberkati ibu dan pelayanan ibu. Sembari berkata begitu tanpa sadar saya tepuk pelan pundak ibu itu sebagai ungkapan sukacita saya. Ibu itu hanya tersenyum penuh ketulusan. Ya! Saya harus berkata apa lagi? Kembali sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, datang menghampiri saya. Terpujilah Tuhan!

Hanya satu kunci jawaban dari hal yang saya alami seperti di atas itu. Tuhan tahu keperluan kita. Bahkan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh kita ke depan. Juga Tuhan mau menunjukkan betapa berkuasanya Dia. Betapa dia selalu memiliki rencana yang terbaik untuk kita. DIA tahu isi doa kita yang paling dalam yang tak mampu kita ungkapkan dan kita pikirkan. DIA sangat menghargai seruan kita. Seorang bapak pendeta pernah memberikan ayat Firman Tuhan berikut ini untuk saya renungkan : (I Korintus 2 : 9) Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.

sumber http://artikel.sabda.org/terjadilah_apa_yang_tak_pernah_kau_bayangkan

Tuhan Meluputkan Kami Dari Tsunami

Penulis : Yohana Fonny - Jakarta

Shalom,saya mau bersaksi tentang kemurahan dan penyertaan Tuhan yang telah menyelamatkan keluarga saya dari bencana Tsunami di Aceh. Saya berasal dari kota Banda Aceh tetapi sekarang sedang kuliah di salah satu universitas di Jakarta. Memang rencana Tuhan sungguh indah dan tiada terduga,sebenarnya sebelum ujian tengah semester adik saya berencana untuk pulang ke Banda Aceh. Adik saya lalu menelepon papa saya supaya dia diberi izin pulang. Tetapi papa saya malah marah-marah dan tidak mengijinkan dia pulang karena papa saya menilai itu adalah pemborosan mengingat liburan Natal hanya 2 minggu.Papa saya bahkan mengancam dia kalau berani pulang maka tidak usah kuliah lagi.Lagipula liburan tersebut bertepatan dengan pernikahan paman saya jadi mama saya berencana untuk ke Jakarta. Akan tetapi mendengar rengekan adik saya, mama saya tampaknya ingin membatal kan rencana kedatangannya ke Jakarta.Tetapi papa saya terus mendesak mama saya ke Jakarta dan akhirnya tanggal 12 Desember 2004 mama saya ke Jakarta membawa adik saya yang paling kecil. Pada tanggal 26 Desember pagi jam 8 pagi papa saya menelepon kalau terjadi gempa dan gempanya sangat kuat dan banyak rumah yang roboh.Pada saat itu papa saya lagi di pasar menjual hasil panen udangnya.Biasanya papa saya selesai panen sekitar jam 10an,tetapi pagi itu papa sebelum jam 7 sudah selesai panen.

Agen yang menampung udang terus mendesak agar papa saya menjual udang kepadanya, padahal papa saya tidak berniat menjual kepadanya. Tetapi akhirnya papa saya juga menjualnya kepada dia. Setelah dari pasar papa saya tidak langsung pulang ke rumah, padahal biasanya dia pasti pulang dan tidur karena kelelahan.Mungkin ini karena tidak ada mama dan adik saya jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan keadaan rumah pasca gempa. Dia lalu keliling kota menyaksikan bangunan-bangunan yang runtuh. Sekitar jam 9an dia lalu menelepon bahwa terjadi gempa lagi. Sesudah itu komunikasi terputus.Kami di Jakarta tidak tahu bahwa ada tsunami,ada yang bilang terjadi banjir tetapi saya pikir itu hanyalah banjir yang biasa saja.

Keesokan harinya terdengar berita bahwa terjadi air bah di Aceh dan banyak yang meninggal.Tetapi puji Tuhan hati saya sedikitpun tidak merasa khawatir tetapi yang ada hanyalah sukacita,mungkin ini adalah karena kuasa Roh Kudus. Mama saya sangat cemas akan keadaan papa saya,tetapi saya berusaha menguat kan dia. Saya juga mau mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman saya maupun pendeta-pendeta yang telah mendukung saya lewat doa. Pada hari Rabu tanggal 29 ada keluarga saya menelepon kalau ada yang melihat papa saya.Sebenarnya pada tanggal 28 keluarga saya mendapat kabar kalau daerah tempat keluarga kami tinggal sudah hancur dan rata dengan tanah dan tetangga kami banyak yang meninggal. Akhirnya sekitar jam 10 pagi tanggal 29 papa saya mene lepon kalau dia bersiap-siap untuk ke Medan menumpang pesawat hercules.

Air mata saya langsung tertumpah saat itu karena menyadari akan kasih Tuhan yang sangat besar bagi saya.Memang benar kata Firman kalau seorang bertobat seisi keluarga diselamatkan. Rupanya sewaktu datang air bah papa saya berada di tempat yang agak tinggi sehingga dia bisa lari menyelamatkan diri ke rumah paman saya. Padahal paman saya pada tanggal 26 berencana ke Sabang tetapi batal karena gempa.Papa saya berangkat ke Medan bersama 14 orang lainnya,dan puji Tuhan juga berkat yang seharusnya saya terima bisa saya bagikan kepada orang lain. Ke 14 orang itu mau ke Jakarta,akan tetapi tiket pesawat gratis padahal korban yang lain mesti membayar mahal.Saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan akan penyertaan dan pertolongannya.Bahkan pegawai papa saya yang bekerja di tambak semuanya selamat dan kalau dipikir-pikir ini adalah sesuatu yang mustahil karena tambak papa saya berada di pusat gempa. Tetapi tidak ada yang mistahil bagi Tuhan Yesus. Kiranya kesaksian saya bisa membangun dan bisa menyatakan kemuliaan Tuhan. Tuhan Yesus itu mulia,ajaib perbuatannya dan penuh kasih. Haleluyah Amin.

sumber http://artikel.sabda.org/tuhan_meluputkan_kami_dari_tsunami

Tuhan, Aku Bukan Orang Samaria itu...

Penulis : Soni Santana

Malam mulai merambat kota Jakarta. Hujan yang hampir setiap malam mengguyur Jakarta, malam ini sedang beristirahat. Mungkin Dia yang membuat hujan tahu, kalau anaknya harus berjalan melakukan apa yang Dia lakukan 2000 tahun yang lalu. Mencari yang terhilang, mengunjungi yang terbuang, memberi makan yang lapar, dan menyatakan kabar baik kepada mereka yang tidak mempunyai harapan.

Yup.. hari ini Ci Merry salah satu rekan dan pemimpin di Yayasan Rumah Roti, mengajak saya untuk pergi melakukan PI dan kunjungan ke jemaat kami yang merupakan jemaat dari ibadah Tuna Wisma, yang isinya pemulung, pengamen, anak-anak jalan, dan orang-orang yang tersingkirkan di kota ini. Entah kenapa, saya yang diajak hari itu, karena sebenarnya kita punya 2 team untuk kunjungan ke anak-anak jalanan yang masih remaja, dan kami biasa menyebutnya anak gaul. Team yang satu Waktu yang tadinya kita tetapkan jam 7 malam untuk jalanadalah Ci Merry dan Roy, sedangkan team yang satu lagi adalah K´ Maria dan saya.

Sepulang dari kantor, saya sudah mempunyai pikiran lelah, dan semakin lelah karena tahu kalau malam ini saya punya 2 buah agenda yang continyu dan baru selesai sampai jam 5 pagi. yang pertama yaitu PI ke stasiun-stasiun, sedangkan yang satu lagi adalah doa semalaman bersama anak-anak JPJ(Jaringan Pemuda Jakarta) di Plasa Central. Jam 7 malam saya sudah sampai di tempat ci Merry, tapi ternyata Ci Merry pun baru pulang dari kantor, jadi saya harus menunggu ci Merry bersiap-siap. Kebetulan disana ada Yusuf dan Ester, rekan di pelayanan Tuna Wisma juga. sambil ngobrol ngalor-ngidul, dan mulai ada cerita tentang salah satu anak kecil yang ditangkap kamtib di daerah Juanda, dan ibunya minta supaya kami membantu membebaskan anak tersebut. Akhirnya ci Merry siap untuk berangkat dan berpikir sebentar tentang anak kecil tersebut.

Malam yang semakin gelap, yang membuat semakin was-was apakah akan hujan malam ini ? Sampailah kami di stasiun Mangga Besar, dan saya memarkirkan motor di sebrang stasiun. Pemandangan kumuh mulai menusuk mata, seiring kami memasuki stasiun Mangga Besar. Stasiun yang seharusnya stasiun yang indah, bahkan bisa dibilang melebihi stasiun Gambir dari segi konstruksi dan arsitekturnya, tapi sayang, karena kurang perhatian dari pemerintah setempat, stasiun ini malah menjadi tempat singgah bagi para pemulung dan pengamen, bahkan tempat-tempat yang diperuntukan sebagai tokopun berubah fungsi menjadi tempat tinggal tetap yang disewakan sebulannya hanya 50 ribuan rupiah.

Memasuki stasiun tersebut, pikiran yang lelah namun masih ada kegairahan dalam roh saya, menjadi hilang seketika dan perasaan marah, kecewa dan sedih mulai masuk ke dalam pikiran saya. Anak-anak jalanan yang biasa saya bina setiap minggu, sedang ngefly dengan lem aibon yang membawa pikiran mereka menuju surga dunia. Ah.. Tuhan apa yang bisa membuat anak-anak ini berubah... Tahu kalau kami datang, merekapun berusaha bersembunyi. Tidak lama kemudian, mereka mulai berani untuk menyapa kami, tapi dengan aibon yang masih tersembunyi di balik baju mereka.

Mulai banyak hal yang mereka ceritakan, dan seolah suatu koor mereka bercerita kalau mereka mulai ngelem lagi karena kumpulan mereka yang suka ngelem. Sungguh pergaulan sangat berpengaruh sekali dalam kehidupan seseorang. Taufik yang malu-malu dan belum pernah menyentuh aibon, sekarang sudah sangat akrab dengan aibon. Hendra, lelaki kecil yang badung bahkan sudah terbiasa dengan rokok. Si Ambon, anak kecil hitam yang kini sudah sering memakai lexotan. ah.. Tuhan mereka tidak memakainya secara sembunyi-sembunyi, merak tidak melakukannya di ruangan yang tertutup, tapi mereka lakukan ini di tengah keramaian, tapi mengapa tidak ada yang perduli dengan paa yang merak lakukan ????

Tidak lama kemudian si Ambon mulai merengek-rengek, "ka.. tolong temen saya Ka.. bawa ke dokter, kakinya ngga bisa jalan...". Saya yang sudah sangat kecewa saat itu hanya bisa berpikir, " ah... anak ini sedang mabuk lexotan, paling alesan aja untuk minta duit..." Saya coba alihkan perhatian saya ke Taufik, yang saya kenal santun dan baik, tapi setelah beberapa minggu tidak pernah datang lagi, ternyata sudah tidak asing lagi dengan aibon. Tapi si Ambon masih terus merengek-rengek....

Akhirnya saya coba dekati anak ini. Seorang anak yang sudah cukup dewasa, dengan usia sekitar 19 tahunan, sedang tergolek lemah sambil tiduran. Bau yang datang dari dirinya membuat saya tidak tahan berlama-lama dekat dengan dia. Saya berpikir saat itu, anak ini habis terjatuh ke dalam Got, karena suasana stasiun yang remang-remang membuat saya tidak bisa melihat dengan jelas kondisinya, saya hanya melihat kotorang hitam yang sudah mengering di bagian kaki kanannya. Saya mulai bertanya apa yang terjadi, dan anak ini yang tidak pernah saya lihat di stasiun ini sebelumnya mulai cerita kalau dia terkena peron kereta, sambil saya perhatikan ternyata terdapat luka-luka seperti sayatan di kakinya, dan ternyata kotoran hitam tersebut adalah darah yang sudah mengering.

Saat itu perasaan marah, kecewa dan sebagainya yang membuat hati saya tidak damai sejahtera, membuat pikiran saya blank, dan saya hanya bisa cerita ke Ci Merry yang sedang ngobrol dengan anak-anak lainnya, tentang keadaan anak ini, dan bertanya apa yang harus kita lakukan. kemudian ci Merry pun menghampiri anak ini, kemudian tidak lama kamipun berdiskusi dan kami memutuskan untuk membawa anak ini ke klinik Pesona, yang merupakan klinik yang telah bekerja sama dengan kami untuk mengurusi anak-anak jalanan di daerah tersebut. Kamipun memanggil salah satu jemaat kami yang tinggal di stasiun tersebut yaitu Pak Sobari. Setelah saya memanggil Bajaj, Pak Sobaripun memapah anak ini dengan sangat sulit sekali, karena ternyata anak ini tidak bisa jalan. Bahkan untuk naik ke Bajajpun sulit sekali.

Sesampainya di klinik ini, Puji Tuhan ternyata klinik ini dalam keadaan sepi, karena biasanya kalau saya mengantar mereka ke klinik ini tidak jarang harus menunggu satu sampai dua jam. Setelah anak ini di bawa ke dokter, ternyata dokter melihat ada kemungkinan kalau tulang di daerah lutut terjadi pergeseran, dan melihat hal ini dokter klinik tersebut angkat tangan, tidak bisa melakukan tindakan lebih lanjut. Di Klinik inilah kami bisa mendapatkan cerita lebih banyak tentang kejadian ini.

Bahkan secara tidak sadar kami tidak mengerti, bagaimana anak ini yang mengalami kejadian di Stasiun Gondangdia bisa dibawa ke stasiun Mangga Besar. Dan yang luar biasanya ternyata anak ini mengalami kejadian ini dari tadi pagi, dan setiap kali lukanya dibersihkan darah akan terus mengalir. Sampai akhirnya darah itu dibiarakan mengering dan menjadi kehitaman. Ah.. ternyta sudah begitu apatisnyakah dunia ini ? Anak yang terbaring dari pagi sampai malam belum ada yang menolongnya. Saya ngga tahu rencana Tuhan begitu ajaib, waktu PI kami yang biasa kami lakukan hari Sabtu pun bisa bergeser ke Hari Jumat.

Setelah dokter melihat, dokter hanya bisa bilang kalau anak ini harus dirontgent terlebih dahulu untuk mendapatkan tindakan selanjutnya.

Tindakan selanjutnya yang diambilpun antara di gips atau di pen. Benak saya dipenuhin dengan pikiran-pikiran bahwa ini akan memakan proses dan biaya yang cukup banyak. Bahkan Dokterpun bilang akan sangat banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan anak ini, dan bukan hanya biaya saja, tapi juga waktu yang harus diberikan untuk membawa anak ini rawat jalan, sampai anak ini bisa berjalan normal kembali, karena minimal dalam satu minggu harus dibawa ke dokter 2 kali untuk melakukan perawatan lebih lanjut. Kemudian saat itu kami cuman minta supaya dokter bisa mengambil tindakan seperlunya seperti menyuntik dengan anti tetanus dan memberikan obat untuk menahan rasa sakit. Setelah itu saya mulai mencari tahu rumahsakit yang bisa memberikan pengobatan untuk anak jalanan dengan biaya yang murah, ternyata bahkan dokterpun tidak pernah mendengar ada rumah sakit yang seperti itu. Bahkan yang luar biasanya dokter menyuruh kami untuk bawa ke dukun patah tulang. Dalam hati saya cuman bisa tertawa, kok bisa-bisanya nyuruh kami ambil tindakan seperti itu ?

Kemudian kami hanya memberikan uang kepada anak tersebut untuk dia bisa makan dan roti-roti yang kami bawa untuk kami berikan ke anak-anak jalanan. Melalui Pak Sobari, kami cuman berpesan untuk melihat-lihat anak tersebut. "Son, dosa ngga ya kita kalau kita cuman bawa ke klinik ini ??" tanya Ci Merry setelah mereka berangkat ke stasiun kembali, saat itu saya cuman bisa bilang kalau kita sudah lakukan apa yang kita bisa.

Setelah itu kami melanjutkan PI kami ke daerah Gunung Sahari, dan rasa kecewa saya bisa sedikit terobati ketika saya bertemu dengan anak-anak di daerah ini yang rata-rata mereka mengamen, tapi perilaku mereka yang cukup baik dan santun serta cara bicara mereka yang lebih terjaga.

Ternyata di daerah ini banyak sekali anak-anak jalanan dan mereka mempunyai komunitas yang cukup kuat untuk hal ini. Selesai PI hampir jam 9 lewat 10 menit, saya pun mengantar Ci Merry pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Kemudian saya melanjutkan pulang kerumah untuk menunggu rekan-rekan saya yang mau ikut doa semaleman tersebut.

Sesampai dirumah, saya dipenuhi pikiran tentang perumpamaan Orang Samaria yang baik hati. Saya tidak tahu posisi saya saat itu ada dimana, sebagai Imam Yahudikah ? sebagai orang Lewikah ? atau sebagai orang Samaria ? Bahkan ketika doa pun saya masih teringat-ingat hal ini.

Akhirnya setelah selesai doa, kami menuju roti bakar di daerah pancoran, dan disitu mulailah saya bercerita tentang apa yang saya alami, dan saya katakan bahwa ini realita dan saya minta pendapat mereka kalau mereka mengalami hal ini. Rekan-rekan saya yang merupakan pemimpin-pemimpin pun bingung apa yang harus dilakukan. Karena ini bukan perkerjaan sehari saja, tapi harus terus menerus, minimal seminggu dua kali harus membawa anak ini ke sinshe. Ah... ini real, ini nyata dan ini yang harus saya alami. Pertanyaan ci Merry pun tentang apakah dosa dengan perbuatan kami terus menggantung dipikiran saya.

Sampai keesokan paginyapun pikiran ini terus menggelayuti saya. Sampai akhirnya saya mencoba menghubungi seorang rekan untuk menuju ke stasiun dan membawa dia ke sinshe, karena dia lebih berpengalaman untuk berurusan dengan orang seperti ini. Sayapun juga mengirim sms ke Ci Merry dan menceritakan apa yang saya dapatkan melalui hal ini.

Ternyata memang perumpamaan yang sering sekali saya ceritakan, yaitu tentang orang Samaria yang Baik Hati, yang mudah sekali sepertinya dilakukan, yang mudah sekali diucapkan, tidak bisa saya lakukan di dunia yang real. Bahkan kondisi seperti inipun membuat saya harus berpikir sangat panjang.

Tuhan aku bersyukur mengalami hal ini. Terima Kasih aku sudah dibawa mengalami perumpamaan yang telah Kau ajarkan, dan ternyata memang sangat sulit sekali hal ini untuk dilakukan. Saat ini aku gagal Tuhan untuk menjadi Orang Samaria itu.. aku ngga sanggup Tuhan untuk menjadi orang Samaria itu.. aku ngga tahu Tuhan dimanakah posisiku... Imam Yahudikah ?? atau orang Lewikah ?? Tuhan saat ini aku bahkan tidak bisa menyalahkan Imam Yahudi dan Orang Lewi itu, karena akupun ternyata sama seperti mereka, dan bahkan duniapun dipenuhi dengan orang-orang seperti mereka, tapi aku ngga akan pernah melupakan pengalaman ini, dan aku akan terus belajar untuk bisa menjadi orang Samaria itu...

sumber http://artikel.sabda.org/tuhan_aku_bukan_orang_samaria_itu

KESAKSIAN PELAWAK KANG MAMAN

Bersama ini saya kirimkan kesaksian dari seorang Sunda yg jadi salah satu anggota group lawak dari Bandung dan pimpinannya adalah sdr Us-us (mantan bintang film di thn 60 an).

Kesaksian ini saya dengar sendiri waktu ada rubrik kesaksian di Persekutuan doa yang siadakan dirumahnya Jendral (Purn) Pranowo, mantan dirjen Imigrasi. Fisik dari orang tersebut pendek sekitar 150 cm tapi giginya ada 4 buah yg copot karena dipukulin sama teman dan kerabatnya ketika dia pindah agama (bertobat). Kesaksian berikut ini saya ambil dari majalah Narwastu. Adalah kang Maman alias Pak Elisa Dari Sungai Ciliwung ke Sungai Yordan. Sebelumnya ia bernama Muhammad Shalat, karena ia dilahirkan pas jam sembayang (Shalat umat Muslim)

Panggilan akrabnya adalah Maman. Tapi…, kata dia, karena sekarang sudah menyeberang dari Sungai Ciliwung ke Sungai Yordan, maka namanya diganti menjadi Elisa. Wajahnya kelihatan awet muda, padahal usianya sudah 55 tahun. Boleh jadi karena ia memang selalu gembira, atau mungkin lantaran ia seorang pelawak.

Ditemui NARWASTU di sebuah gereja dibilangan Depok. Kang Maman atau Pak Eliza memberikan kesaksiannya berikut ini…

Dulu saya bukan orang Kristen, dan saya pernah juara membaca kitab suci agama saya yang dulu (Islam) karena itulah saya diangkat menjadi pegawai di Kantor Kecamatan. Saya juga mantan pelawak Grup Sangkuriang Bandung. Saya mengikut Kristus baru dua tahun ini. Ceritanya mula-mula ada orang datang ke kantor kecamatan tempat saya berkerja untuk mengurus surat-surat. Setelah saya baca, ternyata dia orang Kristen, dan saya nggak mau layani. Saya benci orang Kristen, lalu saya pulang padahal dia masih nunggu terus di kantor kecamatan. Di rumah saya sembahyang saya memang tidak pernah ketinggalan sembahyang. Waktu itu saya bersujud minta ampun kepada Tuhan. “Ya Tuhan ampunilah perbuatan-perbuatan saya yang salah tadi siang”.

tiba-tiba ada suara deru angin, dan saya langsung melek. Ternyata ada yang berdiri di hadapan saya. Dia menampakan wajah-Nya dan badan-Nya dengan pakaian yang putih, pakai selendang merah bawa tongkat. Merahnya menyala tidak ada bandingnya. Sendal-Nya seperti bakiak dan berwarna emas. Lalu Dia bilang begini,”Syalom…, syalom.” Saya nggak mengerti apa syalom itu. Tapi…, seperti langit mau pecah ketika terdengar suara-Nya. Ketika itu spontan saya mengucap “Astagafirullah aladzin.” Saya didatangi kira-kira sekitar 5 menit. Lalu Dia bilang begini, “anakku, Akulah Isa Almasih, dan Akulah Yesus Kristus. Akulah jalan yang lurus dan akulah yang terkemuka di dunia dan di akhirat. ” Saya seperti nggak sadar, lalu bertanya “Kau ini siapa?” Lalu Dia menaruh tangan-Nya di kepala saya. “Aku menumpangi kepala kamu, Aku akan memberkati kamu. Ikutlah Aku, Jalan yang lurus. “Astagafirullah aladzin…” ketika saya melek lagi Dia sudah nggak ada. Lalu saya membangunkan istri saya. “Mah.., bangun…” Dia tanya,”Aya naon(Ada apa)?”. Lalu saya ceritakan kejadian itu. Dia malah bilang,”Itu teh jurik, setan, iblis.” Dia suruh saya berdoa. Saya berdoa lagi, dan istri saya kembali tidur, saya nggak bisa tidur. Sampai satu minggu saya nggak bisa tidur. Pikiran saya nggak tenang. Saya merasa masih melihat wajah-Nya terus-menerus. Rumah tangga saya jadi guncang, dan akhirnya saya keluar dari pekerjaaan.

Suatu sore, saya berjalan-jalan sampai kedekat gereja. Waktu itu ada kebaktian, jemaatnya nggak banyak lalu saya dengerin saja dari luar. Tapi Pak Pendeta ngajak saya masuk. “Entar diberkati Tuhan,” katanya. Saya takut masuk, nanti saya disalib pikir saya begitu. Saya pulang saja…! Minggu berikutnya saya ikut seminar di Gereja itu, ada pelepasan katanya. Walaupun saya nggak tahu apa itu artinya pelepasan, namun saya mengikuti pelepasan tersebut, lalu dikasih Alkitab sama Pak Pendeta. Tapi nggak pernah saya bawa ke rumah. Saya taruh saja di kebun singkong, Takut… karena mertua saya kan ulama. Tapi saya belajar terus di gereja itu. Selama tiga bulan saya membohongi istri. Kalau ditanya,”Bapak dari mana?” Saya jawab’”Kondangan, Mah…”. Istri saya nggak percaya “Kok siang malam kondangan terus. Punya pacar kali?” katanya curiga. Saya nggak mau begitu terus, sayakan umat Kristus.

Akhirnya saya mulai mendoakan orang sakit, nggak dibawa ke dokter tapi sembuh. Yang lumpuh, saya doakan demi Nabi Isa Almasih, dia sembuh. Hingga suatu hari ada yang datang ke mertua saya, dan bilang,”Pak…, sekarang mantunya jadi dukun Kristen lho!”

Inilah titik awal dimana iman saya kepada Kristus diuji. Malam itu juga jam dua subuh saya dibangunin sama mertua saya.”Bangun setan, anjing laknat lu..!!!” Saya dibilang orang kafir lalu diusir. Saya pergi malam itu juga ngajak istri dan anak saya. Istri saya langsung minta dicerai, tapi saya nggak mau. Lalu saya sujud kepada-Nya”Tuhan sekarang saya hidup di dalam namaMu, Yesus Kristus jangan sampai sia-sia, berkati istri saya karena dia tidak mengenal Engkau”. Tuhan memberkati saya, saya bisa ngontrak rumah.

Tapi kemudian saya dianiaya oleh penduduk di situ. Waktu itu hari Jumat, saya dipukuli, mulut saya dimasuki kayu dengan paksa sampai gigi saya rontok. Waktu itu saya sedang jalan pulang ke rumah, Saya di cegat dan diseret sepanjang jalan menuju rumah saya, sampai tangan saya terkelupas semua kulitnya. tidak hanya sampai disitu, didalam rumah tangan saya dijepit pakai meja sampai patah. Kira-kira 5 bulan setelah penganiayaan itu saya sudah pulih kembali. Namun dianiaya lagi, dipukuli lagi hingga kaki saya cacat. Puji Tuhan, Karena kasih-Nya saya kembali dipulihkan, dan sampai sekarang saya bisa jalan.

Rumah tangga saya semakin terguncang, istri saya minta dicerai lagi, tapi saya nggak menceraikannya. Saya masih dianiaya terus sampai akhirnya saya minta cepat-cepat dibabtis.”Pak Pendeta, saya minta cepat dibabtis . Takut umur saya pendek.”Saya memang takut mati karena setiap hari berdarah trus.

Setelah dibabtis, saya masih juga dianiaya. Suatu hari, saya dipanggil oleh saudara-saudara saya di daerah Ciapus, Bogor. Saya disuruh minum kopi. Yang lain, empat orang, pada minum teh. Jadi saya curiga apa lagi mereka kelihatan bisik-bisik. Saya belum berani minum. Tapi Roh Kudus bilang, “AnakKu.., minumlah kopi itu, karena sudah dikuduskan oleh namaKu Yesus Kristus, hormatilah saudaramu”. Lalu saya minum kopi itu. Ketika saya meminum kopi tersebut mereka bisik-bisik. Tapi, Puji Tuhan, sampai pulang ke rumah saya nggak apa-apa. Kemudian, saya dipanggil oleh kakak saya. Disuruh betulin kandang kambingnya. Saya tidak tahu kalau di belakang saya waktu itu ada minyak tanah dalam ember. Tiba-tiba saya diguyur dan sempat dibakar. Katanya sih apinya sudah nyala, luar biasa… saya nggak merasakan apa-apa. Dan pernah juga kuku saya dicabut satu. Tapi dua hari kemudian sudah sembuh. Saya berdoa, agar Tuhan memberkati mereka yang menganiaya saya. Tapi kemudian, mertua saya meninggal. Sebelumnya dia pernah paksa saya supaya pindah lagi ke agama dulu. Jadi saya ini kenyang dianiaya. Saya dibenci masyarakat. Dibilang setan, kafir, anjing, dan segala macam. Tapi, Puji Tuhan.. saya selalu merasakan berkat dan pertolonganNya.

Kalau agama saya diejek orang, saya bilang,”Lho.. kenapa..? Inikan untuk keselamatan saya sendiri”. Saya dulu belum bisa menerangkan firman, buta rohani. Tapi saya kemudian belajar akan kebenaran Firman Tuhan. Saya mulai bertumbuh sampai sekarang. Saya mulai bersaksi di mana-mana, lama-lama makin banyak yang kenal. Saya sering diundang ke sana-sini, saya juga dikenalkan sama pendeta ini pendeta itu.

Saya selalu bertanya kepada istri saya, “setelah jadi Kristen, saya jahat nggak?” Puji Tuhan, istri saya nggak mau diceraikan sekarang. Sedikit demi sedikit istri saya dikasih tahu Injil, dia mulai berubah, walaupun masih sedikit. Saya percaya Tuhan akan memberkati dan memperlihatkan kuasa-Nya seperti kepada saya. Sekarang di dalam rumahtangga saya ada damai sejahtera dan tidak kekurangan apa-apa.

Saya sering diminta berdoa untuk orang sakit, Puji Tuhan… mereka sembuh setalah saya doakan. Ada adik saya dari Bandung, dulu benci saya. Suatu hari dia datang kepada saya. Katanya,”Kang saya disantet dukun dari Cirebon”. Matanya sampai keluar. sudah dioperasi sampai habis dua juta juga nggak sembuh-sembuh. Terus saya bilang sama dia, “Mau nggak kamu didoain?” dia mau dan menginap di rumah saya. Saya pakai minyak urapan, karena kemana-mana saya selalu bawa minyak zaitun. Saya tumpangi tangan ke dia dan berdoa “Tuhan Yesus, sembuhkan adik saya, Kalau ada roh-roh jahat, roh-roh santet, roh-roh apa saja dalam tubuh adik saya, kau aku hancurkan dalam nama Yesus Kristus”. Saat itu juga, keluar dari hidungnya mimisan. Malam harinya dia mimpi begini, “Yesus yang menyembuhkan, Yesus yang memgeluarkan roh-roh jahat dari tubuhku, Dia rambutnya panjang.” kata adiku. Saya bilang “Makanya percaya pada Gusti Yesus Kristus, Karena kalau percaya kepada Gusti Yesus, akan sembuh”. Setelah pulang ke Bandung, dia bilang mau ngikut Gusti Yesus. Kata adik saya,”Bilangin ya pada saudara-saudara di Bandung, di Garut, kalau saya sudah sembuh tanpa dokter. Yesuslah dokter di atas segala dokter.”

Saya dikaruniai 4 anak .yang paling besar sudah SMP, yang paling kecil umurnya 5 tahun. Istri saya namanya Siti Cholifah. Sekarang ini saya ajari mereka tentang Kristus. Saya nggak mau mereka sia-sia. Kenapa orang lain diselamatkan, kok keluarga saya tidak? Saya terus beritakan Injil kepada semua orang. Ke kampung-kampung, ke pegunungan, sampai tempat yang terpencil saya beritakan. Pokoknya saya jalan terus, meskipun nggak punya kendaraan. Saya tidak takut bersaksi di mana-mana. Sebab saya tidak menjelekan agama. Kalau orang lain tidak menghormati saya, kita sih tetap hormatinya. Saya terus memberitakan Injil, sambil mendoakan orang sakit. Saya mau mereka mengenal Yesus. Untuk apa saya dianiaya kalau bukan untuk Yesus. Kalau saya memberitakan Injil, saya tidak melihat suku. Mau suku apapun, pokoknya saya rangkul. Ke Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan kemana saja, saya juga pernah. Saya beritakan injil ke gembel-gembel, gelandangan-gelandangan, tukang becak, ulama-ulama, Pejabat-pejabat, penyanyui-penyanyi, Puji Tuhan banyak yang terima.

Tapi saya tidak mengkristenkan orang. Pokoknya saya beritakan dengan kasih. Pernah ada sudara saya yang datang. Dia tanya,”Ngapain kamu jadi Kristen? Miskin, sengsara. Sudah ini tanda tangan!” Saya mau dikasih rumah kalau saya mau kembali ke agama dulu. Saya sampai menangis. Saya berdoa di kebun waktu magrib. Saya pilih surga. Teman-teman saya di Sangkuriang, ada yang sudah tahu. Malah ada yang mulai bertobat, rumahnya di Cirebon. Sekarang memang jarang tampil, karena rumahnya jauh-jauh. Tapi setiap Agustus banyak undangan menghibur di masyarakat. Kalau ada peresmian ,saya tampil memainkan calung. Saya pernah ditawarkan sekolah teologi, tapi saya belum kepingin. Saya pingin beritakan Injil saja. Saya selalu minta pertolongan Roh Kudus supaya mengerti. Kuku saya sekarang sudah tumbuh lagi, yang bekas cabutan tadi. Jadi orang Kristen memang nggak selalu enak. Tapi, sekarang banyak yang maunya enak-enak, maunya besar-besar. Coba lihat saya, yang dianiaya begini. Ini sekarang masih sakit, tapi saya hanya serahkan pada Yesus saja.

Kiranya kesaksian ini menjadi berkat bagi saudara-saudar semuanya. Adapun ayat yang saya sukai adalahFilipi 4 ayat 13 dan 19: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemulaiaanNya dia dalam Kristus Yesus”.

Tepat Pada Waktunya

Penulis : Calvin Palmer

Dibawah ini adalah kesaksian dari seorang dokter yang saya muat dalam dua bahasa - Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia -- agar bermanfaat berganda bagi pembaca: Oleh Dr. Calvin Palmer (Terjemahan bebas oleh Sammy Lee) "ADA SEORANG WANITA MUDA DIKURSI BELAKANG MOBILKU, dan saya rasa dia sudah mati." Pada hari Jumat pagi itu, saya adalah satu-satunya dokter yang bertugas pada sebuah rumah sakit yang bernama Warburton Sanitarium and Hospital, di Warburton, Australia.

Pengumuman yang mengejutkan dari pemuda itu menyebabkan saya tersentak dengan melongo.

"Apa yang sudah terjadi?" saya bertanya.

"Saya tidak tahu," jawabnya.

"Tetangga kami - mereka baru saja menikah belum lama. Pagi ini suaminya pergi kerja seperti biasanya, dan isteri saya, yang selalu suka bertindak sebagai tetangga yang baik, pergi melihat bagaimana keadaan isterinya dan menjumpai dia dalam keadaan terbaring pingsan diatas lantai. Ini adalah rumah sakit yang terdekat, sebab itu saya telah meletakkan dia di kursi belakang mobil saya dan telah mengadakan perjalanan sejauh 110 km melalui jalan setapak yang berliku-liku melalui rimba belantara untuk mencapai tempat ini."

Kami tidak membuang waktu segera berlari menuju ke mobilnya. Disana terjerembab dikursi belakang mobil, terdapat tubuh kaku dari seorang wanita muda. Kulitnya terasa dingin dan pucat. Saya tidak dapat merasakan denyut nadi pada pergelangannya , saya hanya dapat merasakan debaran jantungnya yang sangat lemah. Dia masih hidup, tapi sudah dalam keadaan sangat sekarat.

Kami segera mengangkat tubuhnya keatas tandu dan membawanya kedalam rumah sakit. Saya menghadapi seorang pasien yang mengalami shock berat, sedang sekarat, tapi tidak mempunyai informasi sedikitpun mengenai apa yang menyebabkan kondisinya itu.

Dimana Kami Harus Mulai?

Setelah memeriksa wanita itu lebih lanjut, saya berkata kepada suster kepala, Matron Mitchell, "Perutnya menggelembung dengan cairan. Saya rasa itu adalah darah. Saya rasa kita sedang menghadapi kasus ectopic (pendarahan akibat bagian organ tubuh pecah atau pindah tempat)"

Keadaan seperti ini yaitu pecahnya pembuluh nadi pada bagian tulang selangka atau pinggul memerlukan pembedahan dengan segera. Kami melakukan terapi infus (intravenous), kemudian menilpon Melbourne, meminta pengiriman darah dengan segera menggunakan taksi. Staff kami mempersiapkan kamar operasi untuk pembedahan darurat. Yang menjadi masalah kami sekarang adalah anastetik. Saya adalah satu-satunya dokter di rumah sakit itu, dan berhubung keadaan wanita itu yang sangat kritis, kami sangat membutuhkan seorang ahli anestesia. Pada zaman itu dimana ether digunakan sekitar 30 tahun yang lalu kebanyakan anestesia itu dilakukan oleh dokter umum.

Hanya terdapat sedikit sekali ahli anestesia, dan saya tidak ingat nama dari seorang pun. Matron Mitchell, sang suster kepala, mempunyai sedikit pengalaman memberikan anestetik, jadi berhubung tidak ada dokter lain, saya berpaling kepadanya dan berkata: "Saya harus meminta anda mengadakan anestetik." "Kita harus mengadakan operasi terhadap dia karena kalau tidak maka itu akan terlambat. Kalau sampai dia meninggal, anda akan dipanggil ke pengadilan, tapi saya akan pergi bersama anda."

Sementara staf kami sedang mempersiapkan pasien dan ruang operasi, saya masuk ke kantor saya dan berdoa. "Tuhan, saya dalam keadaan darurat. Nyawa seorang wanita menjadi taruhan. Saya benar-benar sangat membutuhkan seorang ahli anastesi.

Saya katakan kepada Matron Mitchell, "Saya akan memulai memberikan anestetik itu. Kemudian setelah itu saya akan serahkan kepada Anda sementara saya mengadakan pembersihan dan pembedahan."

Pada saat saya sedang bersiap-siap melaksanakan anestetik itu, pintu kamar operasi tiba-tiba terbuka. Seorang asing menonjolkan kepalanya dan berkata, "Saya Dr. Smith. Apakah saya bisa menolong anda?"

Saya harus mengetahui apakah dia ini seorang Ph.D, doktor dalam ilmu musik, ahli penyakit kulit, ataukah ahli ilmu jiwa. Jadi saya bertanya kepadanya, "Apakah bidang pekerjaan anda?"

"Saya seorang ahli anestesia"

Saya menjelaskan situasinya kepadanya, dan dia mengambil alih pekerjaan anestetik itu. Seluruh keahliannya dia tumpahkan untuk menjaga supaya wanita itu tetap hidup sementara saya melakukan pembedahan. Saya membedah perutnya dan mendapati bahwa itu penuh sekali dengan darah. Saya tidak pernah melihat baik sebelumnya maupun sesudahnya pendarahan yang demikian hebatnya. Pompa pengisap listrik yang kami gunakan tidak mampu untuk menangani begitu banyak darah. Saya menggunakan kedua tangan saya untuk mengeluarkan darah dari perutnya sama seperti menimba air keluar dari perahu orang-orang di Kepulauan Solomon. Saya dapati urat nadi yang robek masing memuntahkan darah. Waktu saya mengikat urat nadi itu, saya pun yakin bahwa wanita itu akan hidup.

Ketika wanita itu sudah dipindahkan ke zal, saya berpaling kepada Dr. Smith. "Bagaimana caranya sampai anda boleh muncul didepan pintu kamar operasi kami pada saat yang begitu tepat?"

"Saya tidak dapat menjelaskannya," dia berkata, "Tapi saya akan ceritakan apa yang telah terjadi."

Suatu Penunjukan Ilahi

Dia mulai ceritanya: "Sebagaimana anda tahu, ada sedikit sekali ahli anestesiologi, dan saya sudah bekerja terlalu lama. Pagi ini saya muncul dirumah sakit kami untuk mengadakan beberapa kasus, tapi mendapat informasi, tanpa ada penjelasan, bahwa daftar kasus-kasus itu telah dibatalkan.

"Saya pikir, Alangkah bagusnya! Saya akan segera meninggalkan kota Melbourne untuk berakhir pekan. Saya akan pergi ke suatu tempat dimana tidak ada seorang pun mengenal saya, dimana tidak ada rumah sakit, tidak ada kamar operasi, dan tidak ada anestetik."

Kemudian dia berkata, "Saya merasa terdorong untuk pergi ke Warburton. Saya tidak dapat menerangkan apa sebabnya, tapi saya segera menentukan saya harus pergi kesana. Saya tidak pernah ke Warburton sebelumnya tapi saya tahu ada beberapa penginapan dimana saya bisa tinggal selama akhir pekan ini."

Ketika saya tiba di Warburton, saya melihat sebuah bangunan yang besar terletak diatas bukit. Itu kelihatannya seperti sebuah penginapan, saya berpikir. Jadi saya mengemudikan mobil saya kedalam halaman ini, tapi ternyata bahwa ini adalah sebuah rumah sakit. Pada saat saya baru saja hendak memutarkan mobil saya untuk pergi, seorang wanita muncul didekat pintu gerbang.

"Nama saya adalah Dr. Smith," saya berkata kepadanya, "Dan saya sedang mencari sebuah penginapan untuk ditempati akhir pekan ini."

"Dia menjambret tangan saya, ´anda diperlukan dikamar operasi sekarang juga,´ dia mengatakan kepada saya.

"Saya telah datang ke Warburton untuk menghindarkan diri dari kamar operasi," saya menjawab.

"Tapi ini adalah keadaan darurat," dia mendesak.

"Nah, begitulah caranya mengapa sampai saya berada disini." Dr. Smith melanjutkan.

Membandingkan Catatan

"Dapatkah anda mengatakan kepada saya" saya bertanya kepadanya, "Jam berapakah itu waktu anda merasakan dorongan untuk datang ke Warburton?"

"Pagi ini pada jam 8 lewat sepuluh menit."

Urutan peristiwa yang telah terjadi mulai terbeber dalam otak saya. Pada jam 8 tepat wanita itu telah jatuh pingsan di Matlock, 110 km jaraknya dari Warburton. Pada jam 8:10, Tuhan menanamkan dalam benak ahli anestetik itu, ditempat yang letaknya 80 km sebelah barat, bahwa dia harus pergi ke Warburton. Sekitar jam 10:30 saya memohon kepada Tuhan untuk pertolonganNya, tetapi Dia sudah menjawab doa saya lebih dari dua jam sebelum itu. Permasalahan yang kami hadapi datangnya dari sebelah timur, dan solusinya datang dari sebelah barat, tapi saya tidak tahu apa-apa sama sekali mengenai hal itu.

Saya telah mendapat suatu pelajaran besar mengenai pemenuhan keperluan kita oleh Tuhan dari pengalaman itu. Dan ini telah memberikan kepada saya penghargaan yang lebih besar terhadap janjinya "Sebelum mereka berseru, Aku akan menjawab" (Yesaya 65:24).

Sebelum masa pensiunnya Dr. Calvin Palmer, M.D. melayani di rumah sakit kusta yang ada di Solom Island, dan kemudian sebagai ahli bedah di Warburton Hospital, dan setelah itu sebagai dokter ahli bedah di Rumah Sakit Sydney Adventist Hospital. (Saya kenal benar dengan Dr. Palmer karena saya dulu bekerja selama dua tahun di rumah sakit Sydney Adventist Hospital, selama mengikuti kuliah di Macquarie Universityu, dan dialah juga yang menangani pembedahan hernia saya di tahun 1979. Semoga kisah ini telah menguatkan iman anda sekalian bahwa kita mempunyai Tuhan yang telinganya terbuka lebar mendengar doa kita dan menjawabnya sebelum kita berseru kepadaNya. Dalam bahasa Mandarin nama Yesus adalah " Ye Su ", yang terdiri dari huruf "Ye" terdiri dari gambar "dua telinga" berdampingan, dan "Su" terdiri dari gambar "ikan" dan "padi" yang berdampingan, dengan kata lain: "Tuhan Yesus telinganya dua-dua selalu terbuka untuk mendengarkan seruan doa kita, dan Dia selalu menyediakan makanan k672 merupakan nasi atau gandum (roti) serta lauk pauknya untuk kebutuhan kita sehari-hari!" What a wonderful God we have!

sumber http://artikel.sabda.org/tepat_pada_waktunya

KISAH HIDUP SHELLEY LUBEN MANTAN ARTIS PORNO DAN PELACUR

Anda merasa hidup Anda gagal total? Anda merasa hidup Anda hancur? Apakah Anda berpikir seorang pelacur dan pemain film porno masih memiliki harapan untuk hidup yang berkemenangan dan hidup yang berkelimpahan? Semua itu mungkin dalam kasih karunia Allah, tidak ada yang menghalangi kasih dan kuasa Tuhan mengubahkan seorang manusia yang mau bertobat dan berseru kepada Dia. Jadi janganlah putus asa dan teruslah berseru dan berharap kepada Dia karena Tuhan adalah Kasih dan Dia tidak pernah meninggalkan kita. Bacalah cerita ini dan milikilah pengharapan baru dalam Tuhan.

Saya lahir tahun 1968, dan tumbuh di California selatan. Saya adalah yang tertua dari
tiga bersaudara, seorang anak berkemauan keras dengan kepribadian yang
“bersemangat”. 8 tahun pertama dalam hidup saya, keluarga saya menghadiri gereja
yang baik di mana saya belajar tentang Tuhan dan Yesus. Sebagai seorang gadis kecil,
saya mengenal dan sangat mengasihi Yesus.

Ketika saya berumur 9 tahun, banyak hal berubah di dalam keluarga kami. Kami pindah
ke Glendora, meninggalkan gereja dan sahabat-sahabat yang kami kenal dan cintai.
Kedua orang tua saya berhenti menghadiri gereja, dan perlahan-lahan keluarga kami
terseret menjauh dari Tuhan dan dari satu sama lain. Saya tumbuh tanpa hubungan yang
berarti dan intim dengan kedua orang tua saya, meskipun mereka bukan orang tua yang
jahat. Banyak dari waktu dalam keluarga kami, kami habiskan duduk di depan televisi.

Keluarga kami SANGAT SUKA menonton televisi. Saya masih ingat kebanyakan
episode dari televisi tahun 70 dan 80an. The Love Boat, Three’s Company, Star Trek,
Twilight Zone, Chips, I love Lucy (favorit kami), The Munsters, Carol Burnett show,
Gilligan’s Island, Bewitched, Bonanza, dan Happy Days. Singkatnya, saya dibesarkan
oleh televisi dan mulai mengembangkan cara berpikir yang salah dan berbahaya. Ibu
saya sering berkata bahwa, televisi adalah sebuah pengasuh bayi yang hebat.
Saat bertumbuh, saya berbeda dari anak-anak lain. Saya benar-benar kreatif, dan pada
usia yang sangat muda saya sudah mulai menulis puisi dan cerita pendek. Waktu itu
saya sangat frustrasi karena saya tidak memiliki tempat untuk mengarahkan energi
kreatif saya.

Orang tua saya tidak mendaftarkan saya ke dalam kegiatan ekstrakulikuler,
dan dalam kebanyakan waktu saya, saya merasa sangat bosan. Pada umur 6 tahun, saya
menulis, menyutradarai, dan “membintangi” drama sekolah saya. Guru kelas satu saya
melihat kreativitas dalam diri saya. Dia memberitahu ibu saya bahwa dia terkagumkagum
dengan bakat saya, dan dia tidak sabar melihat saya di usia saya yang ke-30. Dia
percaya saya bisa menjadi artis Hollywood atau produser film.

Saya ingat juga waktu itu saya seorang yang aneh, karena saya mulai masturbasi dan
memiliki tendensi seksual pada usia yang sangat muda. Mata saya dibukakan terhadap
seksualitas oleh seorang gadis remaja dan saudara laki-lakinya ketika umur saya 9
tahun, dan mulai saat itu mengalami perlakuan seksual dengan perempuan dan laki-laki
sebelum saya berumur 18 tahun. Seks menjadi sesuatu yang membingungkan untuk
saya. Seks berarti “cinta” untuk saya karena enak rasanya merasa dibutuhkan dan
diingini oleh orang lain dan menerima perhatian, tapi pada saat yang sama saya merasa
kotor. Saya tidak sadar pada saat itu, sebagai seorang anak kecil, saya sedang diperkosa
secara seksual.

Sebagai seorang remaja, saya mencari cinta dari laki-laki dan alkohol, dan mulai
berhubungan seks di usia 16 tahun. Usia remaja saya dipenuhi dengan teriakan-teriakan
dan pertengkaran yang konstan dengan kedua orang tua saya. Saya punya seorang ibu
yang marah pada saya sepanjang waktu, dan seorang ayah yang terlihat terlalu sibuk
berteriak menegur saya karena sikap saya yang tidak sopan terhadap ibu saya, dibanding
membangun hubungan ayah-anak yang berkualitas dengan saya. Aku tidak ingat
seorangpun mengatakan “aku mengasihimu” dalam tahun-tahun itu. Kedua orang tuaku
tidaklah jahat, tapi aku merasa mereka tidak tertarik denganku, dan aku menjadi seorang
remaja pemberontak yang bertingkah aneh untuk mendapat perhatian. Tapi bukannya
mendapat perhatian mereka, orang tuaku malah memilih tinggal diam di rumah. Begitu
apatisnya mereka, saya diperbolehkan melakukan hal-hal seperti berpakaian kostum
kelinci playboy pada usia 15 tahun. Saya diperbolehkan mengencani pria-pria yang
mereka tidak kenali. Pada usia 15 tahun saya diperbolehkan pergi ke sebuah malam
prom dengan seorang laki-laki berumur 18 tahun, yang akhirnya membuat saya mabuk
untuk pertama kalinya. Kejadian ini memulai gaya hidup berpesta untuk saya, dan saya
memulai nongkrong di klub malam, menggunakan narkotika, di usia 16 tahun. Orang
tua saya tahu saya punya masalah alcohol, tapi mereka tidak tahu apa yang harus
mereka perbuat. Mereka mencoba konseling keluarga, tapi ayah terlalu “sibuk” bekerja
dan hanya berhasil datang satu kali. Jadi saya pergi mencari keluarga baru dan
menemukan “cinta” di kerumunan yang salah, minum alkohol dengan dosis yang
teratur, dan mulai merokok ganja. Orang tuaku melalui kesedihan yang dalam karena
tindakan-tindakanku, dan akhirnya – di batas kesabaran mereka – mengusir saya dari
rumah di usia saya yang ke-18.

Saya berakhir di San Fernando Valley tanpa uang dan makanan. Seorang pria “baik”
melihat saya kesulitan dan mengatakan betapa dia mengasihani saya. Dia melingkarkan
lengannya di sekeliling saya dan menawarkan bantuan. Tapi kemudian dia mengatakan
pada saya dia mengenal seorang pria yang ingin berhubungan seks dengan saya dan
akan memberi saya uang. Saya masih sangat terkejut dan penuh kemarahan karena
orang tua saya mengusir dari rumah, sehingga saya tidak peduli lagi dan menerima
tawarannya. Saya menjual diri seharga 35 dollar dan hidup saya sebagai pelacur dimulai
dari situ.

Tidak lama aku bertemu seorang ibu yang memperkenalkanku pada sisi “glamour” dari
pelacuran. Dia mengajariku setiap trik pelacuran dan cara memanipulasi pria. Awalnya
terlihat menarik dengan pria-pria memberiku uang, perhiasan, dan hadiah-hadiah, tapi
tidak lama hidup saya terasa seperti perbudakan. Saya menemukan diri saya melakukan
seks yang aneh dengan orang asing dan mulai membencinya. Pelanggan mulai
melakukan hal-hal menyeramkan seperti menyobek kondom dengan sengaja atau
mengikuti saya kemana-mana. Lainnya mencoba membunuh saya dan menabrak saya
dengan truknya. Pria lain membawa pistol kapanpun ia bersama saya dan mengancam
akan membunuh saya kalau saya tidak melayaninya dalam posisi-posisi seks tertentu.

Pria-pria menuntut dan terus meminta dari saya dan saya terus menerus mesti
berbohong untuk keluar dari situasi-situasi yang menakutkan. Saya menjadi seorang
pembohong professional dan dapat benar-benar berbohong untuk melicinkan jalan saya.
Saya bahkan bisa berbohong pada polisi untuk keluar dari tuntutan mengemudi mabuk,
dan beberapa pengalaman mengerikan lainnya. Ini adalah standar untuk industri seks
dan alat meloloskan diri paling utama untuk setiap penari telanjang, pelacur, atau artis
porno.

Gaya hidup dalam industri seks menjadi semakin buruk bagi saya dan saya merasa tidak
ada jalan kemanapun untuk lari. Yesus terus mengetuk pintu hati saya tapi saya tidak
menghiraukan-Nya. Saya berpikir, Tuhan tidak memelihara saya, jadi saya harus
melakukan apa saja yang bisa saya lakukan untuk bertahan hidup sendiri.
Siklus ganas sebagai seorang pelacur dan penari eksotik di California selatan bertahan
selama delapan tahun. Selama bekerja sebagai pelacur, saya hamil tiga kali dari
pelanggan dan hal itu menghancurkan saya. Jutaan pertanyaan muncul dalam pikiran
saya setiap kali. Bagaimana saya membiarkan hal ini terjadi? Bagaimana saya akan
merawat bayi ini? Haruskah saya aborsi? Kemana saya harus mencari bantuan? Saya
bahkan tidak tahu siapa ayah-ayah dari dua kehamilan. Kemudian saya mengingat
Yesus dan saya meminta-Nya, “Tolong saya”. Tuhan menghibur saya dan saya tahu
saya tidak bisa membunuh dan akhirnya saya menjaga bayi saya. Dua dari kehamilan itu
gugur karena tidak terawat, tapi salah satunya berhasil dan saya punya putri pertama
saya, Tiffany, di usia saya yang ke-20. Tiffany memiliki darah Asia dan sangatlah
cantik. Saya mencoba kembali untuk hanya melakukan tari eksotik, tapi pelacuran terus
menghantui saya dan godaannya sulit untuk ditolak, apalagi untuk seorang orang tua
tunggal.

Setelah beberapa tahun membesarkan anak seorang diri dan bekerja sebagai seorang
pelacur dan penari, saya mulai minum alkohol secara berlebihan dan mulai bergantung
pada alkohol dan narkotika. Tiffany tumbuh sebagai seorang gadis kecil yang sedih, dan
kepolosannya terkadang dinodai. Ketika dia tumbuh semakin besar, dia sadar akan
keberadaan pria-pria aneh yang “mengunjungi” saya dan memarahi saya. Saya
memaksanya bersembunyi di kamarnya sementara saya “menghibur” pelanggan. Dia
juga melihat saya dengan hubungan yang “aneh” dengan wanita-wanita. Dia tidak
benar-benar mengerti semua itu, tapi jelas dia tahu bahwa dia hidup dengan seorang
perempuan liar yang cabul. Ketika itu saya merupakan seorang ibu yang buruk, saya
biasa memberinya pager dan menyuruhnya pergi ke taman sementara saya melacur.
Umurnya baru empat tahun.

Saya mulai melihat diri saya sendiri sebagai sebuah kegagalan total. Saya kehilangan
semua harga diri dan membenci diri saya sendiri sebagai seorang ibu yang buruk. Saya
sangat lelah selalu mencoba untuk bertahan hidup. Tidak pernah ada istirahat dari gaya
hidup itu. Pria-pria mengikuti saya pulang, menyayat ban mobil saya, menelepon saya
setiap saat, datang mabuk di tengah malam, dan bahkan mencoba membunuh saya.
Untuk bisa berfungsi, saya selalu bergantung pada sebotol besar Jack Daniels di tangan.
Kadang saya akan duduk di sudut dengan botol saya dan dalam keadaan mabuk total
menangis pada Yesus, “Saya mohon, tolong saya!”, tapi sepertinya Dia tidak ada di
sana. Entah mengapa saya selalu merasa ada “perlindungan” aneh di sekeliling saya.
Seiring dengan perjalanan menyakitkan saya berlanjut, saya mulai terlibat dalam
industri film porno. Saya pikir saya bisa mendapat uang yang mudah dan cepat, juga
film porno terlihat lebih aman dan legal dibanding pelacuran. Banyak pelacur yang saya
kenal diperkosa dan dikirim ke penjara, dan saya tidak mau hal itu terjadi pada saya.
Juga dalam waktu itu, saya benar-benar seorang pecandu berat alkohol dan narkotika
dan tidak mampu mengambil keputusan yang rasional.

Ketika saya membuat film porno saya yang pertama, sesuatu yang sangat “gelap”
datang pada saya. Saya hampir bisa mendengar iblis berkata, “Lihat Shelley, aku akan
membuat kamu terkenal dan KEMUDIAN semua orang akan mencintai kamu.” Sebuah
kekuatan aneh yang sangat besar membuat saya mampu berhubungan seks dengan
penuh semangat, hanya untuk kemudian ‘jatuh dari ketinggian’ dan hancur, merasa
dipermalukan dan dilecehkan. Saya menyukai perhatiannya, tapi membenci diri saya
sendiri dalam saat yang sama. Saya suka mendengar betapa hebatnya saya ‘tampil’, tapi
saya juga benci seks yang begitu brutal. Saya mulai membintangi film-film seks yang
lebih brutal, dan hanya dengan menggunakan lebih banyak alkohol dan narkotika saya
berhasil melakukannya. Saya merasa seperti saya harus membuktikan sesuatu pada
dunia dan semua orang yang pernah menyakiti saya. Dan ketika industri pornografi
membuka lengan besar mereka dan mengundang saya ke dalam sebuah “keluarga”,
akhirnya saya merasa diterima. Tapi harga yang saya bayar untuk “keanggotaan”
keluarga itu adalah hidup saya sendiri. Saya menjual apa yang tersisa dari hati, pikiran,
dan femininitas saya pada industri pornografi, dan wanita dan sisi manusia dari saya
mati sepenuhnya dalam studio pornografi.

Saya juga berisiko terinfeksi vírus AIDS seperti bintang porno lainnya. Saya bermainmain
dan mempertaruhkan hidup saya dalam bahaya. Industri pornografi tidak dan
TIDAK AKAN PERNAH mendukung penggunaan kontrasepsi dalam film-filmnya, jadi
penyakit menular seksual dan HIV sejak dulu masih merupakan resiko antara artis dan
actor film porno. Bulan Mei 2004, Lembaga Medis Industri Pornografi (Adult Industry
Medical Foundation - AIM), yang menawarkan tes sukarela bulanan untuk bintang
porno bagi HIV, mengumumkan bahwa lima “aktor” pornografi telah diperiksa positif
atas virus AIDS. Saya lebih beruntung dari aktor-aktor itu. Tuhan tidak mengijinkan
HIV menjamah saya. Bagaimanapun, saya terjangkit herpes, penyakit menular seksual
lainnya yang tidak dapat disembuhkan. Saya ingin bunuh diri. Waktu saya mendapat
herpes, tidak ada yang menolong saya. Tapi sejak AIM terjun ke lapangan, organisasi
ini mengklaim telah menurunkan beberapa penyebaran HIV di industri pornografi dan
meningkatkan kewaspadaan di antara para pelaku film. Tapi kebenaran itu tetap tinggal,
aktor porno terus membahayakan hidup mereka dan menyebarkan penyakir. Dalam
sebuah wawancara dari Court TV dengan penemu AIM, Sharon Mitchell, juga seorang
mantan artis porno, mengakui bahwa di antara aktor porno dewasa ini terdapat “7%
HIV, dan 12-28% penyakit menular seksual. Herpes selalu berada di sekitar 66%.

Mereka diobati dengan acyclovir untuk herpes, yang sangat efektif untuk mencegah
penularan herpes. Chlamydia dan gonorrhea, akan tetapi, seperti hepatitis, sepertinya
menempel pada segala sesuatu mulai dari dildo ke permukaan rata sampai tangan, jadi
biasanya kami sudah habis akal menangani Chlamydia.” Itu merupakan kata-katanya
sendiri dan wawancaranya dapat ditemukan di
http://www.courttv.com/talk/chat_transcripts/2001/0723mitchell.html

Tidak ada yang lebih menghancurkan dari menerima hasil positif untuk sebuah
penyakit menular seksual yang tidak dapat disembuhkan. Waktu itu aku ingin
mengakhiri hidupku.
Saya menelan banyak pil-pil berharap saya overdosis, dan mengiris pergelangan tangan
saya, tapi tampaknya apapun yang saya lakukan, saya tidak bisa mati. Rasa sakit itu
benar-benar membanjiri, dan suasana hati saya benar-benar tidak stabil. Satu menit saya
berjalan seperti mayat hidup dan menit berikutnya saya marah besar, berteriak dan
memecahkan barang-barang. Saya marah terhadap Tuhan, membenci diri saya sendiri
dan orang tua saya. Hanya alkohol dan narkotika dapat meringankan rasa sakit saya.

Saya memanggil Yesus untuk menolong saya dan mencoba meninggalkan pola hidup
saya yang berantakan, tapi tidak sampai seminggu saya sudah kembali lagi. Saya
kehilangan semua harapan dan membenci hidup saya. Saya benar-benar tanpa harapan,
dan hidup benar-benar tanpa arti. Setelah terinfeksi dengan herpes, perlahan-lahan saya
meninggalkan industri pornografi tapi kembali melacur untuk tetap hidup.
Tahun 1994 saya bertemu seorang pria bernama Garrett. Seorang pria berusia 22 tahun
dan begitu polos dibandingkan dengan saya. Saya memberitahunya ia harus membayar
untuk mengencani saya. Ia berpura-pura membutuhkan “pelayanan” saya untuk sebuah
pesta bujangan jadi saya memberinya kartu nama. Ia sering menelpon saya tapi saya
terus berkata tidak. Saya tidak mampu memulai hubungan normal karena hati saya
benar-benar hitam dan dingin terhadap semua laki-laki. Namun kemudian, karena
alasan-alasan Tuhan, saya mengubah pikiranku dan pergi bersamanya. Dengan cepat
kami menjadi sahabat. Ketika saya menghabiskan waktu bersama-sama, hati saya yang
hitam dan terluka mulai bisa merasakan lagi. Saya ingat benar-benar merasakan rasa
sakit secara fisik di hati saya ketika Garrett mencoba mendekati saya. (Lihat akhir film
kartun Grinch ketika hatinya mulai tumbuh, dan seperti itulah saya.)

Saya mencoba menjaga hubungan kami tetap jauh, tapi sulit karena Garrett membuat
saya merasa seperti gadis kecil lagi. Dia akan datang ke rumah dan kami akan merokok
ganja bersama dan bermain catur dan kartu selama berjam-jam. Waktu itu kami seperti
dua anak kecil sedang bersenang-senang. Saya tidak pernah merasa “senang” sejak
masa kecil saya. Garrett dan saya bisa membicarakan apa saja, dan satu hari kami
membicarakan Yesus. Kami berdua tumbuh sebagai anak-anak yang mengasihi dan
mengenal Yesus Kristus. Saya belajar bahwa Garrett tumbuh di sebuah keluarga Kristen
dan dibesarkan dididik di sekolah Kristen. Untuk dua orang yang bertemu di bar, ini
adalah sebuah “kebetulan” yang luar biasa. Saya membuka hati tentang trauma yang
saya alami, dan ia mendengarkan dan ada bagi saya. Ia tahu saya pernah terlibat dalam
industri pornografi dan pelacuran, tapi dia benar-benar bersedih bagi saya. Ia berkata ia
mau menyelamatkan saya. Saya tidak pernah bertemu pria seperti Garrett. Ia melihat
sesuatu dalam diri saya yang tidak dilihat orang lain. Ia seorang sahabat bagi pelacur,
seperti Yesus. Kami tahu Tuhan sedang bekerja dalam hidup kami, jadi kami kembali
kepada Yesus dan menikah tanggal 14 Februari 1995.

Hidup baru kami dimulai sebagai kekacauan besar. Garrett kehilangan pekerjaannya
setelah kami menikah karena ia tertangkap basah menggunakan narkotika di tempat
kerja. Kami harus pergi ke departemen sosial dan menerima bantuan finansial. Semua
menjadi semakin buruk dan godaan untuk saya kembali ke gaya hidup yang lama benarbenar
menggoyahkan. Tapi Tuhan punya ide yang lebih baik. Garrett bergabung dengan
angkatan bersenjata.

Setelah pelatihan dasar, Garrett kembali sebagai pria yang baru, bebas dari
ketergantungan narkotika dan akan dipromosikan ke basis militer Fort Lewis di Negara
bagian Washington. Saya hamil dan melahirkan Teresa di tahun 1997. Saya bisa lepas
dari alkohol selama hamil tapi segera kembali setelahnya.

Setiap kali saya menggendong bayi baru saya, saya teringat kembali betapa tertolaknya
saya oleh orang tua saya dan semua pria dan wanita yang telah melecehkan saya. Tuhan
membangkitkan memori itu agar Ia dapat menyembuhkan saya, tapi bagi saya rasa sakit
itu tidak tertahankan. Akhirnya saya lari kembali ke alkohol. Tapi rasa sakit itu menjadi
semakin buruk sehingga saya pergi mencari pertolongan ke klinik kesehatan mental
militer dan di-diagnosis mengidap bipolar disorder, kesalahan pada pengaturan detak
jantung, ketergantungan alkohol, depresi, dan stress pos-traumatik. Saya diberikan
zoloft, pil tidur, lithium dan waktu konseling. Saya diberikan video untuk melatih saya
mengontrol kemarahan saya, yang malah membuat saya semakin marah ketika
menontonny! Saya sudah melalui program-program inti dari angkatan bersenjata tapi
tetap ketergantungan saya tidak hilang. Saya juga didiagnosis mengidap kanker tengkuk
yang harus segera dioperasi. Konsekuensi masa lalu saya mengejar-ngejar saya. Saya
ingin menyerah saja. Tidak ada yang berhasil!! Tapi Tuhan punya rencana yang lebih
baik.

Tuhan memimpin Garrett dan saya menghadiri sebuah gereja luar biasa bernama
Champions Centre di Tacoma, Washington di mana kami diajar menjalani hidup seperti
seorang pemenang. Gereja ini dikenal karena membangun hidup berkemenangan
melalui kebijaksanaan Firman Allah. Saya diajar untuk hidup dengan percaya, bahwa
saya dapat melalui APA SAJA karena dengan Tuhan TIADA YANG MUSTAHIL.
Bersama Tuhan, saya sudah diampuni total dari segala dosa saya dan diberi kesempatan
untuk bertumbuh menjadi seseorang yang baru tanpa harus menjadi sempurna dulu.
Benar-benar melegakan! Saya belajar bahwa Tuhan mengasihi saya tanpa syarat, tidak
peduli masa lalu saya, dan bahkan Ia punya rencana untuk masa depan saya. Tuhan
punya rencana untuk hidup saya? Saat itu saya merasa seolah-olah seseorang telah
menyalakan lampu di hidup saya yang selama ini gelap.

Di bulan November, 1999, saya melahirkan Abigail, dan meskipun saya minum alkohol
selama kehamilan saya, Tuhan membiarkannya hidup. Setelah ia lahir, Tuhan
AKHIRNYA menjawab doa-doaku dan mengangkat ketergantunganku terhadap
alcohol. Saya bersih tanggal 9 April 2000, dan itu adalah waktu yang sangat spesial bagi
hidup saya. Saya mulai lapar untuk mengenal Tuhan lebih lagi, dan giat belajar
bagaimana menjadi wanita yang “normal”. Saya mulai membaca buku tentang
bagaimana menjadi ibu dan istri yang baik, dan bagaimana memasak dan mengurus
rumah saya. Saya memperhatikan wanita-wanita lain bagaimana mereka mencuci
pakaian, bagaimana mereka berpakaian, dan bagaimana mereka berbicara terhadap
suami dan anak-anak mereka. Bertahun-tahun saya memasang telinga KEMANA SAJA.

Saya bisa berdiri di bagian penjualan daging di sebuah super market dan mendengarkan
ibu di dekat saya menjelaskan bagaimana membuat daging panggang, dan langsung
pulang ke rumah dan mencobanya! Sering saya berlama-lama di super market hanya
untuk belajar!! Harfiahnya, saya mungkin punya lebih dari 100 mentor yang saya
sendiri bahkan tidak tahu betapa mereka telah membantu saya. Saya harus mengulang
SEMUANYA dari nol dan belajar bagaimana menjadi seorang normal yang hidup di
lingkungan normal, jadi saya mengelilingi diri saya dengan orang-orang unggul untuk
belajar dari mereka.

Saya juga mempraktekkan prinsip-prinsip Allah dalam segala sesuatu yang saya
lakukan dan saya mulai merasakan sukacita sejati untuk pertama kali dalam 13 tahun
terakhir!! Tuhan juga membantu saya belajar mendesain web, membuat saya merasa
berhasil dan dapat menggunakan kreativitas saya. Saya sudah memiliki dan
mengoperasikan bisnis desain web saya selama 4 tahun. Saya juga mulai menghadiri
universitas, dan sekarang saya hampir menjadi seorang sarjana muda Teologia.

Karena saya memilih mengikuti Dia segenap hati, Dia memberkati segala sesuatu yang
saya sentuh tepat seperti yang dijanjikan-Nya dalam firman:
Yoh 13:17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika
kamu melakukannya.

Setelah hari pertama saya melangkahkan kaki saya ke Champion center dengan hati
yang luka dan hidup yang berantakan, delapan tahun kemudian saya berjalan keluar
sebagai seorang wanita pemenang (champion) yang disembuhkan dan bersemangat akan
hidup saya! Tuhan secara total melepaskan saya dari narkotika, alkohol, memori yang
sakit, penyakit mental, kecanduan seks, trauma seksual, dan rasa bersalah dan rasa malu
dari masa lalu saya. Tuhan mengambil saya keluar dari hidup saya yang lama,
menawarkan sebuah hidup baru, dan meskipun pada awalnya saya tidak bisa
melihatnya, saya menyerahkan hidup saya dan mempercayai-Nya. Itu adalah keputusan
terbaik yang pernah saya ambil!

Tuhan juga memulihkan kewanitaan saya dan menyembuhkan seksualitas saya, yang
merupakan suatu mukjizat besar bagi saya. Setelah melacur dan terjun ke dalam dunia
pornografi, saya kehilangan fungsi saya secara seksual. Fakta bahwa saya dapat
menikmati hubungan intim yang sehat sekarang ini, nyata merupakan sebuah mukjizat.
Tuhan juga menyembuhkan saya dari penyakit herpes yang menurut manusia tidak
dapat disembuhkan. Waktu saya menjadi objek pembelajaran angkatan bersenjata untuk
wanita hamil yang menderita herpes pada tahun 1996, saya diperiksa dan mereka
berkata saya tidak bisa ikut dalam program itu, karena tidak ada virus herpes dalam
darah saya. Hasil tesnya negatif! Saya juga bebas dari kanker karena dokter-dokter
berhasil membuang semua kanker tengkuk saya. Dialah Jehovah-Rapha, Allah yang
menyembuhkan kita!

Tuhan juga menyembuhkan pernikahan kami dengan cara yang luar biasa. Garrett dan
saya memiliki hubungan cinta yang indah dan penuh warna! Baca cerita kami yang
LUAR BIASA di sini.
Tuhan telah melakukan lebih banyak mukjizat lagi di dalam keluarga saya sendiri.
Garrett memiliki pekerjaan yang hebat sehingga saya bisa tinggal di rumah, menjadi ibu
yang baik, juga melakukan pelayanan. Tiga putri-putri pemenang kami dibesarkan
dengan iman dan kasih terhadap Yesus Kristus, dan mereka menghadiri sekolah Kristen.
Tiffany, putri saya yang paling tua, yang sekarang berumur 18 tahun, telah mengampuni
saya dan memberi saya kesempatan menjadi ibu yang bijak baginya. Ia telah melewati
banyak hal dalam hidupnya dan sekarang membagikan kesaksiannya dengan banyak
orang untuk menginspirasi dan menguatkan mereka. Saya SANGAT bersyukur saya
tidak melakukan aborsi, karena Tiffany adalah seorang wanita yang cantik dan brilian
yang punya begitu banyak talenta dalam hidupnya. Ia sangat berbakat secara musikal
dan dapat memainkan beberapa instrumen. Tiffany juga merasa Tuhan memanggilnya
untuk menjangkau kaum muda yang terluka dan akan memimpin forum remaja di situs
ini. Kerinduannya adalah masuk universitas dan mengambil gelar dalam bidang
konseling, jadi ia dapat menggunakan pengalaman masa lalu dan pendidikannya untuk
menjangkau kaum muda di tengah kesulitan mereka.

Seperti Anda lihat, Bapa sudah bekerja begitu luar biasa dalam hidup saya dalam dua
belas tahun terakhir. Saya memang harus melewati delapan tahun pemulihan. Saya
harus membuat pilihan memulai kembali hidup saya dan percaya apa yang Tuhan
katakan pada saya, bukan kebohongan-kebohongan dari iblis atau kebohongan tentang
gambar diri saya yang sudah rusak. Tuhan menjadi Bapa sejati saya, dan Dia mengajar
saya bagaimana mengasihi, mengampuni, dan memiliki gambar diri saya di dalam Dia,
bukan masa lalu saya. Saya juga belajar bagimana memiliki hidup yang sukses dengan
mempraktekkan prinsip-prinsip Tuhan dalam segala sesuatu. Apapun yang Firman
Tuhan katakan, itu pasti bagi saya. Saya menjadi ciptaan yang baru dan kuat melalui
kuasa Yesus Kristus, Pemenang sejati yang sudah mengubah hidup saya!
Tuhan sekarang mengirim saya dengan sebuah pesan pada dunia betapa riil-nya kasih-
Nya yang luar biasa itu. Bagaimana Ia sudah menciptakan setiap kita serupa dengan
gambarnya, dan betapa kita begitu dikasihi dan diterima.

Bagaimana Ia mengirim Anak-Nya Yesus Kristus untuk membebaskan kita dari
narkotika, alkohol, keterikatan seksual, penolakan, dan semua kebohongan iblis. Saya
bangga menunjukkan pada dunia, bahwa YA, Tuhan mengambil seorang bintang porno
dan pelacur dan menjadikannya Pemenang. Tuhan adalah Bapa terbaik, dan Ia ingin
semua anak-anak-Nya menemukan jalan pulang kepada-Nya supaya Ia dapat
menyembuhkan mereka dan menjadikan mereka Pemenang-pemenang. Tapi pilihannya
ada di tangan ANDA.

Saya juga ingin semua orang tahu bahwa apapun yang Tuhan lakukan bagi saya, Ia akan
melakukannya bagi Anda. Dan Ia akan melakukan ini karena Ia MENGASIHI Anda dan
mengirimkan anak-Nya Yesus Kristus untuk memberimu hidup yang baru. Yang perlu
kita lakukan adalah datang pada Yesus dan belajar dari-Nya.

Mat 11:28 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku
akan memberi kelegaan kepadamu.”
Inginkan Anda memiliki ketenangan dalam jiwa Anda? Saya ingin. Dulu saya sakit dan
lelah diombang-ambingkan hidup. Saya lelah harus bertarung untuk hidup setiap hari.
Saya hanya ingin merasakan damai dan menemukan kasih sejati tapi dunia tidak bisa
memberi itu bagi saya. Saya sudah mencari kasih dalam laki-laki, benda material,
ketenaran dan kekayaan, dalam narkotika dan alcohol dan saya MASIH KOSONG.
Yang saya inginkan dulu hanyalah kehidupan yang normal. Sampai saya menemukan
kebenaran:

Yesus datang untuk memberimu hidup dalam segala kelimpahannya
(Yohanes 10:10).
Dan tentu saja, SAYA AKHIRNYA menemukan kehidupan yang selalu saya inginkan.
Mengapa Anda tidak menaruh kepercayaan Anda pada Tuhan dan Anak-Nya Yesus
Kristus, dan segera mengalami hidup berkelimpahan itu? Mungkin tidak akan terjadi
dalam satu-dua hari, tapi saya berjanji, itu PASTI terjadi. Saya tahu karena hal ini
terjadi bagi saya. Sayalah bukti hidup bahwa Tuhan itu ada, bahwa Ia mengasihi ANDA
tidak peduli apa yang sudah Anda lakukan, dan Ia punya rencana yang sempurna dan
tujuan bagi hidup Anda.

Klik disini untuk mempelajari lebih lagi tentang Tuhan dan kasih-Nya yang luar biasa
untuk Anda.
Shelley, seorang sahabat yang mendukung anda.


Secara pribadi saya ingin mengucapkan “Terima Kasih” untuk begitu banyak orang
yang telah membantu pemulihan saya:
• Pastor Kevin dan Sheila Gerald di www.championscentre.com – Untuk
mengajari saya kebijaksanaan dan menjadi seorang pemenang dalam hidup.
Dapatkan pengajaran mereka yang luar biasa di www.kgcmedia.com.
• Patricia dan Argis Hulsey – Untuk mempercaya saya, mendukung saya, dan
kesempatan yang kalian berikan untuk mulai melayani di penjara. Mereka juga
dua orang tua “spiritual” terbaik yang dapat saya miliki.
• Nuggie Lubben – Untuk sudah menjadi seorang ibu mertua yang luar biasa. Ia
mengajar saya bagaimana menjadi ibu yang hebat dan semuanya, mulai dari
mencuci pakaian, menyetrika, sampai berkebun! Terima kasih, Mama!
• Kedua orang tuaku – Untuk mengasihi saya dan mengizinkan saya membagi
cerita “kita” dengan dunia. Terima kasih sudah mengampuni saya dan memberi
saya kesempatan kedua menjadi putri kalian. Saya mengasihi kalian, Mama dan
Papa!
• Saudara laki-laki saya Chris – Untuk mengampuni saya dan memberi saya
kesempatan menjadi seorang saudara perempuan yang benar, yang selalu saya
rindukan. Kamu memiliki hati yang luar biasa dan roh yang indah. Saya ingin
terus bekerja denganmu dan sesama pekerja lainnya dalam Kerajaan Allah. Saya
mengasihimu Chris.
• Saudara perempuan saya Stacy – Untuk mendoakan saya bahkan ketika saya
tidak layak menerimanya. Saya tahu waktu-waktu lalu tidaklah mudah. Saya
mengasihimu! Saya juga berdoa Tuhan akan terus memulihkan hubungan kita
menurut kehendak-Nya.
• Nenekku yang berketurunan Italia, Nonnie – Yang mempercayai saya ketika
tidak ada seorangpun yang mempercayainya. Yang melihat emas dalam diri saya
bahkan ketika sinarnya tersembunyi. Ia berpesan ketika saya masih kecil bahwa
saya dapat melakukan apapun kalau saya sungguh-sungguh. Ia tidak akan pernah
tahu berapa kali ia sudah menyelamatkan hidup saya. Ia adalah seoarang
Pemenang sejati.
• Putriku Tiffany – Untuk mengampuni saya dan mengizinkan saya bertumbuh
dan menjadi seorang ibu yang bijak baginya. Terima kasih untuk kesempatan
mengasihimu dan menjadi bagian dari hidupmu. Terima kasih untuk
menunjukkan kasih Kristus ketika Mama tidak punya siapa-siapa. Terima kasih
untuk tidak mengizinkan masa lalu mengikatmu tetapi memilih berlari sebagai
Pemenang. Mama sangat bangga terhadapmu, betapa hari ini kamu sudah
menjadi seoarang wanita yang luar biasa!
• Dan terima kasih yang sangat istimewa untuk suamiku Garrett – Terima
kasih telah menjadi Hosea, Yesus, dan Abraham bagiku. Kepedulianmu
terhadap seorang pelacur hari ini berbuah, membangkitkan wanita terhormat
yang ada di dalamnya. Kamu beriman dan mempercayai Tuhan akan mengubah
situasi yang sulit. Kamu rendah hati, sabar, tahan menderita, dan lembut
terhadap wanita terluka yang memerlukan lingkungan yang aman untuk sembuh.
Kamu lebih dari pemenang. Aku bedoa aku terus dapat menjadi wanita
impianmu.

Sumber: http://www.shelleylubben.com/articles/ShelleyStoryIndonesian.pdf