13 May 2009

205 Tahun Hans Christian Andersen

Penulis : Andar Ismail

TAHUN 2009 ini merupakan tahun persiapan menyambut perayaan "205 Tahun Hans Christian Andersen". Perayaan itu akan berpuncak pada tanggal 2 April 2009. Seluruh dunia akan merayakan "205 Years HCA". Siapakah Hans Christian Andersen? Apakah makna hidup dan karyanya? Hans Christian Andersen (selanjutnya: HCA) mengarang 156 buku cerita yang sudah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa. Bukunya disukai oleh tua dan muda di segala benua. Beberapa ceritanya sudah begitu meluas sampai orang tidak tahu lagi bahwa itu karangan HCA. Misalnya, cerita tentang raja yang keranjingan baju mewah sehingga tertipu membeli kain "begitu halus sampai tidak tampak" padahal sebenarnya ia telanjang bulat. Atau cerita tentang anak yang menyalakan korek api dagangannya sebatang demi sebatang untuk menahan dingin salju lalu batang terakhir menyala menjadi sinar dari sorga bersama neneknya yang menjemput dia.

Tahun ini penerbit di seluruh dunia sibuk mencetak ulang atau mencetak perdana buku-buku HCA. Selain itu, puluhan buku cerita akan digubah menjadi naskah sandiwara untuk dipentaskan oleh murid sekolah. Di Kopenhagen, Denmark, sebagai pusat perayaan "200 Tahun HCA" akan diluncurkan buku The Complete Works of HCA terdiri dari 18 jilid setebal 9.000 halaman langsung dalam berbagai bahasa.

Cerminan Realitas
Ciri pertama cerita HCA adalah unsur otobiografi. Di situ terselip secuil riwayatnya sendiri. HCA lahir dalam keluarga miskin pada tanggal 2 April 1805 di Odense, Denmark. Ayahnya tukang sepatu, ibunya tukang cuci.

Para pelaku cerita HCA tampil hidup karena mereka adalah simbolisasi orang- orang di masa kecil HCA. Di situ ada Si Baik dan Si Jahat. Hidup ini terdiri dari babak yang indah dan buruk yang silih berganti.

Contohnya terdapat dalam buku Siti Jempol. Siti Jempol lahir dalam kelopak bunga dan badannya hanya sebesar jempol orang. Angin dan arus air mudah menyeretnya. Dalam jalan hidupnya ada tokoh-tokoh yang menjahati dia, seperti Si Katak dan Si Kumbang. Namun banyak pula tokoh yang suka menolong seperti Si Kupu-Kupu dan Si Burung. Dalam buku Anak Bebek yang Jelek diceritakan penderitaan seekor anak bebek yang dicibirkan masyarakat, padahal kemudian ternyata ia sebenarnya seekor angsa yang anggun.

Terpuruk untuk Bangkit Kembali
Cerita-cerita HCA mengandung nilai edukatif. Pelaku cerita dihadang kendala dan krisis. Ia terpuruk. Kuncinya ada pada mental pelaku itu sendiri. Apakah ia cuma meratapi keterpurukannya? Apakah ia cuma berputar-putar di situ juga dan sibuk mencari kambing hitam? Apakah ia melarikan diri dari akar persoalan lalu mengurusi perkara sepele? Atau sebaliknya, ia punya sense of crisis, cepat bertindak mencari solusi dan bekerja keras memperbaiki situasi lalu bangkit kembali.

Banyak cerita HCA memandang penderitaan dan kejatuhan dari perspektif iman. Pelaku cerita bisa mencari dan menemukan hikmah di balik musibah. Allah bisa menjadikan suatu kegagalan sebagai sebuah pelajaran yang membuat kita lebih kreatif dan dinamis. Yusuf memakai perspektif itu ketika ia berkata, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud..." (Kejadian 50:20).

Tamat Bukan Kiamat
Pelaku cerita HCA juga menghadapi realitas bahwa tidak ada keberhasilan yang abadi. Kita bisa naik ke bukit namun tidak bisa seterusnya ada di puncak bukit. Cepat atau lambat, semua akan tamat. Kiprah HCA pun tamat. Ia menjadi tua renta, sakit kanker dan tidak punya cukup uang untuk berobat. Ia meninggal dalam usia 70 tahun.

Penderitaan masa tua HCA tergambar dalam buku Pohon Cemara. Di situ diceritakan tentang sebatang pohon cemara kecil yang ingin cepat menjadi besar. Benarlah ia cepat bertumbuh menjadi pohon yang bagus. Lalu ia ditebang dan dijadikan pohon Natal di sebuah rumah. Seusai Natal ia dibuang ke luar dan diinjak-injak orang. Daunnya layu. Ia menjadi sampah buangan. Sambil menitikkan air mata ia berdesah, "Masa jayaku di hutan telah berlalu. Masa indahku sebagai pohon Natal juga sudah berlalu. Riwayatku sudah tamat. Tetapi aku tidak menyesal. Pada malam Natal di rumah itu, aku mendengar cerita Natal. Itu cerita bagus ..."

Riwayat pohon cemara itu sudah tamat. Namun hidupnya tidak sia-sia. Ia telah memberi diri untuk dijadikan pohon Natal. Sebaliknya, ia telah menerima diri Sang Tokoh cerita Natal.

Riwayat HCA pun sudah tamat. Namun cerita-ceritanya terus bergema ke seluruh dunia selama 200 tahun ini. Hari kelahiran HCA, yakni 2 April, kini dirayakan sebagai Hari Buku Anak Internasional (International Children's Book Day).

Sumber: Suara Pembaruan Daily

Arti Sebuah Pengharapan

Penulis : Joshua MS

Semilir angin bertiup. Aku mencoba untuk tetap terlihat tenang. Koridor Rumah Sakit PGI Cikini murung dan kaku. Sekali aku kaget ketika seorang berteriak keras. Satu kali lagi aku merinding karena seorang menangis tersedu-sedu sambil memegang ponsel kuat-kuat. Kali ini aku benar-benar bergidik ngeri.

Ruangan yang penuh alat-alat menyeramkan bergantungan di dinding putih. Beberapa bunyi aneh mengikuti garis-garis di monitor terasa sangat menyiksa. Kalau bisa, aku ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan aneh dan asing ini. Bergegas aku meninggalkan ruangan M2. Seorang Efendy Troy Sitorus, SH terbaring lemah di balik kaca ruangan cuci darah. Sudah hampir dua jam dia menjalani proses cuci darah di sana. Walau dia mencoba tersenyum, aku tahu dia menderita kesakitan yang tak tergambarkan. Perlahan aku mengalihkan perhatian. Aku tidak mau kegundahan hatiku tergambar jelas di matanya. Seorang perempuan 50 tahun, Ibu yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang seorang notaris muda yang memiliki masa depan cerah. Saksi dari seorang Efendy Sitorus yang seharusnya duduk di kantor menangani banyak order dari klien, tetapi sekarang terkapar tak berdaya. Sebuah riwayat penyakit berantai membelenggunya. Seolah enggan pergi, penyakit itu begitu erat dan kuat mencengkeram. Penyakit itu seperti sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya.

"Dia anak ke-2 dari 6 bersaudara." Ibu Sitorus berupaya untuk memulai pembicaraan pastoral dengan aku. Ini menjadi sedikit berbeda karena tidak dilakukan di kantor gereja sebagaimana biasanya. Koridor rumah sakit yang lengang menjadi sebuah pilihan untuk duduk dan bercerita dengan seorang ibu yang tertatih dalam tuntutan memikul salib. Mengikut Kristus dalam perjalanan panjang padang gurun yang gersang. Pembicaraan pastoral yang menjadi sangat berbeda karena disampaikan oleh seorang ibu yang melahirkan anak laki-laki dengan segala cinta dan kasih sayang. Seorang ibu bagi anak laki-laki yang tergeletak tak berdaya dalam gerogotan penyakit yang silih berganti.

"Awalnya ibu tidak menyangka jadi serumit ini." Raut wajah perempuan itu terlihat lelah, bukan hanya karena semalaman dia tidak bisa tidur mengingat darah kental yang kehitam-hitaman dimuntahkan anak yang paling dikasihinya. Lebih dari itu, raut wajahnya perempuan itu menggambarkan penderitaan selama bertahun-tahun merawat anak laki-laki yang terkasih.

"Waktu itu, keluarga kita terpaksa harus pindah-pindah karena tugas bapak." Ibu Sitorus mengatur posisi duduknya yang sejak tadi kaku dan tegang.

"Bapak bekerja sebagai hakim dan sering berpindah-pindah. Tapi karena anak-anak sudah kuliah, Efendy akhirnya kuliah di UNILA Lampung. Setelah tamat ambil S2 di UI. Dalam waktu yang singkat, dia dapat panggilan kerja di sebuah instansi pemerintah. Tapi karena lebih suka usaha sendiri, Efendi lebih memilih mundur dan membuka kantor sendiri. Dia memulai kantor Notaris dan PPAT di Jawa Barat tepatnya Kota Padalarang." Ibu Sitorus berdiam sejenak.

"Ketika kantor di Padalarang siap operasional, tiba-tiba Efendy jatuh sakit. Ibu kira mungkin karena dia kecapaian jadi ibu minta pulang ke Jakarta sekalian medical chek up. Tapi sangat aneh, ketka dicek oleh dokter tensi darah Efendy sangat tinggi dan sangat berisiko. Kami semua kalang kabut. Dokter menganjurkan untuk tes laboratorium. Diagnosis sementara dokter, Efendy mengalami gangguan ginjal." Aku melihat mendung bergayut di raut muka Ibu Sitorus.

"Berita buruk itupun akhirnya datang, ginjal Efendy tinggal 9%. Ibu mulanya berpikir yang rusak 9% tetapi ternyata yang tertinggal justru hanya 9%. Ibu sungguh terpukul dengan angka-angka yang membingungkan itu. Menurut dokter, satu-satunya cara adalah transplantasi ginjal. Seluruh anggota keluarga berunding dan diputuskan untuk segera dibawa ke Mount Elizabeth Hospital di Singapore. Kami tidak mau ambil risiko. Setibanya di Singapura, dokter di sana geleng-geleng kepala, mereka berkata mengapa selalu setelah parah baru dibawa ke sini? Ibu tidak mau pusingkan itu, yang penting anakku sembuh." Ibu Sitorus mengusap wajahnya yang kuyu. Garis-garis wajahnya masih terlihat cantik. Perempuan Batak kelahiran Pematang Siantar ini memang masih tetap terlihat cantik di usianya yang menjelang senja.

"Singkat cerita, seluruh keluarga berunding, adik perempuannya yang sekarang tinggal di Lampung bersedia mendonorkan ginjalnya. Puji Tuhan, setelah melalui beberapa tes medis yang ketat, semua syarat-syarat medis untuk transplantasi memenuhi syarat. Hati Ibu benar-benar terguncang dan pilu ketika melihat kedua kakak beradik itu didorong ke ruang bedah. Ibu hanya berdoa dan menangis. Tuhan tolonglah kami, hanya itu yang dapat ibu katakan."

"Puji Tuhan, operasi berjalan dengan baik dan ketakutan yang sempat dipikirkan keluarga ternyata tidak terjadi. Adik perempuan Efendy ternyata tetap dapat melahirkan dan Efendy dapat hidup dengan normal dengan ginjal dari adiknya sendiri. Ibu berpikir Tuhan sudah membawa keluarga ini keluar dan melalui badai yang berat. Walau semua harta tersita dan terkuras untuk membayar semua biaya rumah sakit, akomodasi, dan transportasi ke Singapura, yang penting semua anak- anak sehat dan bahagia, itu doa Ibu." Aku melihat ada setitik garis sendu di wajah Ibu Sitorus. Garis senyum yang memancarkan aura keteguhan iman dan hatinya. Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam untuk melanjutkan kesaksiannya.

"Selama hampir satu tahun, semua berjalan dengan baik. Ginjal Efendy berfungsi dengan baik. Tapi tahun kedua masalah baru datang. Efendy waktu itu sudah pindah kantor ke Jakarta, jadi ibu dapat mengontrol. Lagi-lagi Efendy harus dilarikan ke rumah sakit. Hasil diagnosis dokter, levernya mengalami gangguan serius. Ibu menyaksikan sendiri perlahan-lahan perut Efendy membesar. Seperti perempuan hamil delapan bulan. Ya! Seperti orang yang sedang hamil, sedangkan badannya kurus kering. Ibu kembali menjerit kepada Tuhan. Dokter menganjurkan agar cairan yang tidak terkendali akibat lever yang tidak berfungsi disedot secara rutin. Ya Tuhan, ujian apa lagi ini yang harus kami alami? Ibu benar-benar sangat bingung." Mendung kembali bergayut di raut wajahnya.

"Ibu berdoa, Tuhan aku minta lagi mujizat-MU. Jikalau cairan yang memenuhi perut anak saya harus di sedot, aku minta cukup satu kali saja. Ajaib sekali, Tuhan mendengarkan doa ibu. setelah di sedot satu kali, Efendy bisa pulang ke rumah dan tidak perlu di sedot lagi. Belakangan dokter yang melakukan operasi penyedotan itu bertemu Efendy setelah satu tahun berlalu. Tuhan bekerja dengan sangat ajaib. Bahkan dokterpun terhera-heran. Ibu sungguh sangat terheran-heran dan mengucap syukur atas mujzat ini." Segaris senyum di paras ibu Sitorus.

"Waktu bergulir, ternyata Tuhan masih terus menguji. Sejujurnya Ibu sudah tidak kuat. Bermula dari ketiadaan dana untuk pulang-pergi ke rumah sakit di Singapura, akhirnya perawatan dirujuk di salah satu rumah sakit di Jakarta. Entah karena apa, anak saya jatuh sakit lagi, kali ini benar-benar berat dan tidak terkira-kira."

"Dua hari yang lalu Ibu pergi mengunjungi adik ipar Efendy di Pondok Kopi, Jakarta Timur, adik iparnya yang berdarah Eropa itu jatuh sakit. Tapi karena takut rumah sakit Indonesia, dia tidak mau di bawa ke rumah sakit. Di rumah Ken, adik ipar Efendy, sangat tiba-tiba suhu badan Efendy naik. Dia juga merasa mual dan pusing. Ibu mencoba mengolesi dengan minyak angin. Bukan membaik, ternyata malah semakin tidak keruan," katanya.

"Puncaknya, Efendy muntah darah kental yang menghitam. Ibu panik, keluarga panik, kami semua panij dan menjerit-jerit. Segera kami larikan dia ke rumah sakit PGI Cikini." Ibu Sitorus mengatur desah nafasnya. Rasa galau, takut, dan sedih bercampur aduk tidak karuan.

"Apalagi Tuhan yang hendak Engkau lakukan? Ibu terus bertanya-tanya pada Tuhan. Tapi kali ini Tuhan memvonis sangat berat, analisis dokter sudah positif, Efendy terserang Hepatitis C. Dugaan sementara penularan penyakit akibat terapi dan penggunaan alat-alat medis rumah sakit yang tidak steril. Sepertinya dunia ini berwarna kelabu, hitam pekat dan mengerikan. Ibu benar-benar terpukul, anakku terserang penyakit yang mengerikan. Ibu pikir Tuhan sudah keterlaluan!" Ibu Sitorus terengah-engah. Nafasnya memburu, air matanya mulai jatuh, biji matanya berkaca-kaca menambah sendu dan suaranya pun mulai serak.

"Kemarin ususnya mengalami varises, jadi pembuluh darahnya ada yang pecah. Efendy harus menjalani rawat intensif. Cuci darah secara rutin. Ibu sudah pasrah, Ibu tidak punya apa-apa lagi. Uang sudah habis dan semua angota keluarga sudah letih. Yang Ibu tahu dan masih ingat Tuhan Yesus tidak memberikan ujian melebihi kemampuan kita. Ibu masih percaya bahwa Tuhan dapat melakukan apa yang mustahil bagi manusia. Ibu percaya mujizat."

Aku terhenyak mendengar kata-kata Ibu Sitorus kali ini. Dalam keadaan terempas dan tergeletak, Ibu yang berhati teguh ini berhasil mengkhotbahi aku. Pikiranku cepat-cepat berlari kepada sebuah ayat dalam Kitab Suci, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab A265239h setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberkan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya." 1 Korintus 10:13. Matahari sudah tergelincir ke ufuk barat. Senja mulai membiaskan jingga di langit Jakarta. Perlahan-lahan malam akan turun menyelimuti bumi. Akupun telah sedari tadi pamit setelah menumpangkan tangan dan berdoa.

"Firman Tuhan berkata, Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh, jadi berdoalah dengan Iman!" Aku mencoba untuk membangun kembali iman dan pengharapan ibu yang hampir terpuruk ini. Masih sempat aku bacakan beberapa ayat yang sudah menjadi kesukaanku sebagai seorang pelayan dan konselor Kristen kalau akan mendoakan orang sakit. Akupun masih menyaksikan wajah Effendy yang berseri-seri dan mengangguk-angguk. Dia sangat senang mendengar Yesaya 53 : 3-5 yang sengaja aku bacakan lembut di sampingnya. Sekarang akupun harus pulang dan melangkah pergi meninggalkan rumah sakit yang telah menguras segenap perasaanku. Meningalkan Ibu Sitorus yang dengan setia tidak mau beranjak dari sisi anak laki-laki kesayangannya. Langkahku berat menuruni tangga. Sebuah pikiran aneh tiba-tiba mengejarku. Tuhan apakah aku tidak sedang menipu diriku sendiri? Sejujurnya akupun tidak menyakini akan mampu berdiri tegar dengan ujian seberat Effendy. Aku bahkan hampir tidak bisa berpikir akan ada sebuah mujizat lagi yang akan menyelamatkan dia dari penyakit maut itu. Ah, peduli amat dengan apa yang aku pikirkan. Yang aku tahu, aku punya iman yang membuatku harus menawan segala pikiran dan menaklukkannya. Aku harus mengenakan pikiran Kristus. Bukankah dengan mendengarkan firman Tuhan akan mengalirkan iman dalam jiwa? Aku kemudian berjalan melintas pelataran parkir. Jiwaku mulai menghafalkan ayat favoritku, "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lukas 1 :37)".Amin.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/

Bayang-Bayangnya Berbentuk Salib


(Kisah Selamatnya Seorang Atlit Olimpiade)

Pada tahun 1967 ketika mengikuti pelajaran di kelas fotografi Universitas Cincinnati, aku berkenalan dengan seorang pemuda bernama Charles Murray, siswa pada sekolah yang sama, yang sedang dilatih untuk persiapan Olimpiade musim panas tahun 1968 sebagai seorang pelompat indah papan kolam renang. Charles sangat sabar terhadapku ketika aku berbicara selama berjam-jam dengannya tentang Yesus Kristus dan bagaimana Ia telah menyelamatkanku.

Charles tidak dibesarkan di dalam keluarga yang berbakti di gereja manapun, jadi semua yang kuceritakan kepadanya mempesonakannya. Ia bahkan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pengampunan dosa. Akhirnya tibalah harinya di mana aku mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya. Aku bertanya apakah ia menyadari kebutuhan dirinya akan seorang penebus dan apakah ia siap untuk mempercayai Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Aku melihat wajahnya berubah dan perasaan bersalah tergambar di situ. Namun jawabannya tegas sekali "Tidak".

Di hari-hari berikutnya, ia tampak diam dan sering kali aku merasa bahwa ia menjauhiku, sampai aku menerima telepon, yang datangnya dari Charles. Ia ingin mengetahui di mana ia dapat menemukan beberapa ayat di dalam Perjanjian Baru yang telah kuberikan kepadanya mengenai keselamatan.

Aku memberikan kepadanya referensi menuju beberapa pasal dan bertanya apakah aku dapat menemuinya. Ia menolak tawaranku dan mengucapkan terima kasih untuk ayat-ayat yang kuberikan. Aku dapat menebak bahwa ia amat gelisah, namun aku tak tahu di mana ia berada atau bagaimana cara untuk menolongnya. Oleh karena ia sedang berlatih untuk pertandingan Olimpiade, maka Charles memperoleh fasilitas khusus di kolam renang Universitas kami.

Di antara pukul 22.30 dan 23.00 malam itu, ia memutuskan untuk berenang dan melakukan sedikit latihan lompat papan. Malam di bulan Oktober itu sangat cerah dan bulan tampak penuh dan cemerlang. Kolam renang Universitas kami berada di bawah langit-langit kaca sehingga bulan dapat bersinar terang melalui puncak dinding di areal kolam.

Charles mendaki papan lompat yang paling atas untuk melakukan lompatannya yang pertama. Pada saat itu, Roh Allah mulai menempelaknya akan dosa-dosanya. Semua ayat-ayat yang telah dibacanya, semua saat-saat bersaksi kepadanya tentang Kristus, mulai memenuhi benaknya. Ia berdiri di atas papan dengan membelakangi kolam untuk melakukan lompatannya, merentangkan kedua tangannya untuk keseimbangan, memandang ke atas dinding dan melihat bayang-bayangnya sendiri yang disebabkan oleh cahaya bulan. Bayang-bayangnya berbentuk sebuah salib. Ia tak dapat menahan beban dosanya lebih lama lagi. Hatinya hancur dan ia duduk di atas papan lompat itu dan meminta Allah untuk mengampuninya dan menyelamatkannya. Ia percaya kepada Yesus Kristus di ketinggian lebih dari pada dua puluh kaki dari tanah.

Tiba-tiba, lampu-lampu di areal kolam menyala. Petugasnya masuk untuk mengadakan pemeriksaan kolam. Ketika Charles menengok ke bawah dari atas papannya, maka yang dilihatnya adalah kolam yang kosong yang telah dikeringkan untuk beberapa perbaikan. Hampir saja ia menerjunkan dirinya menuju kematian, namun salib telah menghentikannya dari bencana tersebut.

I Korintus 1:18 "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."

Sumber: Highways Of Hope

Ceritakan Pada Dunia Untukku

Penulis : John Powell, S.J.

Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm dibawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh ? sangat aneh.

Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan. Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih.

Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, "Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?" Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh.

"Oh," sahutnya.

"Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan." Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil. "Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu."

Tommy mengangkat bahu, lalu pergi.

Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku. Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur.

Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi.

Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas. "Tommy ! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung. "Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi."

"Kamu mau membicarakan itu?"

"Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?"

"Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?" Jawabnya, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang 'utama' dalam hidup ini."

Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku. "Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Pastor itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh. "Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya", Tommy melanjutkan "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital,saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga.

Tapi tak terjadi apa pun.."

Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu."

"Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting," lanjut Tommy. "Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka.

Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit: ayah saya. "Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya." "Pa, aku ingin bicara." "Bicara saja." "Pa, ini penting sekali." Korannya turun perlahan 8 cm. "Ada apa?" "Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu." Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu. "Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."

"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy. "Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya.

"Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya."

"Tommy," aku tersedak,

"Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih."

"Tommy," saya menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?"

Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan.

Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali. Saya tak akan mampu hadir di kuliah Pastor," katanya. "Saya tahu, Tommy." "Maukah Pastor menceritakannya untuk saya? Maukah Pastor menceritakannya pada dunia untuk saya?" "Ya, Tommy. Saya akan melakukannya."

SUMBER Http://artikel.sabda.org/ceritakan_pada_dunia_untukku

Hadiah Terindah untuk Seorang Terpenjara

Penulis : Lesminingtyas

Pelayanan saya di Kalimantan Barat yang cukup lama membuat saya merasa dekat dengan orang-orang China di sana. Saya merasa mereka adalah keluarga saya yang kedua. Kecintaan saya terhadap masyarakat Kalimantan Barat dan sekitarnya juga tercermin dari beberapa tulisan saya. Walaupun sekarang saya tidak lagi melayani masyarakat Kalimantan Barat, rasanya sebagian hati saya masih tertinggal di sana. Untungnya rasa kangen saya sedikit terobati dengan kiriman foto dan cerita-cerita dari Ati (adik laki-laki).

Ati adalah seorang pemuda China yang merupakan adik angkat saya di Kalimantan Barat. Ati lahir dan dibesarkan dalam keluarga Konghucu yang hancur berantakan, karena jerat-jerat dosa seksual, perjudian dan minum-minuman beralkohol. Masa lalu Ati yang hitam pekat hampir membuat saya tercengang sekaligus kagum dengan pertobatan dan pemulihan yang telah dialaminya. Sejak menerima Tuhan Yesus, Ati justru mengambil bagian untuk melayani Tuhan.

Setelah sekian lama persaudaraan kami, Ati menceritakan betapa hancurnya jiwa mama gara-gara penghianatan suaminya. Ati dan adik kandungnya; Willy juga pernah terjerumus ke dalam kubangan dosa yang sama dengan papanya. Kejujuran Ati tidak membuat saya menjauhinya, tetapi saya justru merasa perlu menguatkannya. Saya sangat mengerti mengapa Ati dan Willy sampai jatuh dan bergelimang dosa. Saya melihat ada kemarahan dan kekecewaan mereka di bawah alam sadar terhadap papanya. Di sisi lain, papa memang menghadirkan sosok yang tidak layak diteladani.

Saya sangat gembira karena Ati telah mengalami pertobatan dan pemulihan. Bahkan ketika Ati merencanakan untuk studi lanjut di bidang teologi, saya pun memberi dukungan sebisa saya. Pergumulan pribadi dan paper Ati yang perlu saya edit, selalu saya tempatkan pada prioritas pertama. Ini semua saya lakukan sebagai apresiasi dan dukungan saya terhadap kehidupan Ati yang baru.

Menjelang akhir tahun 2004, Ati menelpon dari Kalimantan Barat dan menceritakan bahwa Willy sudah hampir 2 bulan mendekam di tanahan polres karena terlibat kasus penipuan. Kalau saya gembira melihat kehidupan baru Ati, saya punya beban tersendiri dengan kehidupan Willy yang masih bergelimang dosa. Walaupun saat itu kesibukan kerja saya sangat tinggi, tetapi saya yakin Tuhan tidak menginginkan saya mengabaikan Willy. Karena beban dan tanggung jawab Ati di Kalimantan Barat sangat besar, maka saya mencoba menenangkannya dan berjanji untuk ikut memikirkan Willy.

Karena saya tidak bisa mempengaruhi proses hukum yang akan dihadapi, maka saya hanya bisa meminta kakak kandung saya untuk menjadi pengacara Willy, dengan biaya sepenuhnya dari Ati. Dengan demikian saya bisa meyakinkan bahwa keadaan Willy baik-baik saja, sehingga Ati bisa tetap berkonsentrasi mencari uang dan melayani Tuhan di Kalimantan Barat.

Setelah 2 bulan mendekam di Polsek, Willy dipindahkan ke rutan Salemba. Di rutan, Willy ditempatkan di sebuah barak bersama ratusan tahanan yang lainnya. Sebenarnya Willy membutuhkan uang Rp. 2 juta untuk bisa masuk kamar sel di rutan supaya ia tidak harus tidur berdesak-desakan layaknya ikan asin di emper-emper atau di lorong bangsal, bersama penjahat kelas teri yang tidak berduit. Sebenarnya kakak saya juga menyarankan hal yang sama, tetapi saya dan Ati berpikir lain. Kami berdua berpikir, biarlah Willy mendapatkan pelajaran yang berharga dari penderitaannya selama di penjara. Kami berdua berharap siksaan tersebut memiliki efek jera terhadap Willy.

Walaupun ada oknum penegak hukum yang menawarkan kekebasan dengan sejumlah uang, namun saya dan Ati tidak mau melibatkan diri dengan hal-hal yang berbau ketidakadalian dan KKN. Kami berdua justru berharap dengan terkurung di penjara, Willy bisa duduk diam, mendengar dan menerima Firman Tuhan. Setidaknya kami berharap bisa mengetuk pintu hati Willy sehingga ada tersedia tempat bagi Tuhan di hatinya.

Sejak Willy mendekam di rutan Salemba saya rindu untuk melawat, sekedar meminjamkan telinga, hati dan mulut saya, sama seperti saya memperlakukan Ati. Tapi sayang, kakak saya keberatan kalau saya harus datang ke tempat para pendosa itu dikurung. Banyak hal mengerikan yang diceritakan oleh kakak saya, membuat hati saya ciut sehingga tidak ada nyali sedikitpun untuk datang sendirian ke rutan salemba. Terlebih lagi dengan kenyataan bahwa di dalam rutan praktek UUD (Ujung-Ujungnya Duit) masih tetap kental. Bukan hanya para napi dan tahanan yang "diporoti", keluarga atau tama yang membesuk juga "dipalak". Kakak saya yang datang atas nama hukum saja selalu kena "palak" di setiap pintu pemeriksaan.

Waktu Willy merasa putus asa karena hampir seluruh kulitnya borokan dan kejelasan waktu sidang juga belum ada, Willy mengirim SMS yang mengatakan dirinya ingin bunuh diri saja. Willy menantang Ati untuk memutuskan hubungan persaudaraan karena Ati menolak permintaannya untuk membayar kamar dan "salam tempel" untuk oknum yang menjanjikan keringanan perkara. Sekali lagi, saya dan Ati tidak mau menggunakan perasaan. Kami berdua berkeras dan menyerahkan perkara Willy ke dalam jalur hukum yang normal, walaupun beresiko pada vonis hukuman yang cukup berat untuk Willy.

Beberapa saat saya dan Ati tidak mau terlalu berat memikirkan Willy. Kami percaya Tuhan punya rencana tersendiri untuk Willy. Bahkan secara ekstrim saya dan Ati berprinsip bahwa kami bukanlah juru selamat yang bia menolong Willy dan biarlah Willy mencari dan mengandalkan Juru Selamat yang Sejati.

Kamis 10 Maret 2005, menjelang libur hari Raya Nyepi, tiba-tiba HP saya berdering. Ketika saya lihat nama Ati terpampang di layar ponsel, saya bergegas mengangkatnya. Saya tahu persis, kalau Ati menelpon berarti sedang ada masalah yang serius. Ketika Ati menanyakan kesediaan saya untuk membantu membelikan soft lens untuk Willy, saya masih mencoba menawar untuk mengirimkan softlens tersebut lewat kakak saya pada hari Senin. Namun karena Ati mengatakan bahwa softlens Willy sudah kedalu warsa, maka tanpa berpikir lagi saya pun langsung mengiyakan. "Inilah kesempatan saya berkunjung ke rutan Salemba, mumpung tidak ada kakak yang melarang" begitu pikir saya. Memang Ati hanya mempercayakan keuangan untuk Willy melalui saya, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan uang, Ati selalu mentransfer ke rekening saya.

Begitu telepon ditutup saya mulai kebingunan. Di satu sisi saya ingin melawat Willy, di sisi lain saya takut dengan birokrasi untuk masuk ke rutan. Terlebih pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan akibat narapidana salah mengartikan perhatian dan kasih sayang kami. Ketika masih kuliah dulu saya melayani beberapa narapidana di LP Salatiga, Jawa Tengah. Begitu narapida memasuki masa asimilasi dan diberi kesempan bersosialisasi dengan dunia luar, beberapa dari mereka ada mencari ke kampus karena merasa pernah diperlakukan secara special.

Walaupun saya yakin Willy tidak akan menyusahkan saya, tapi saya terus ingat Ati yang selalu wanti-wanti karena sorot mata Willy yang alim, memelas tapi penuh tipuan. Saya mulai bingung dan panik karena membayangkan betapa ngerinya saya masuk sendirian ke dunia yang sangat asing. Saya mencoba menghubungi De De, Di Di dan adik-adik rohani sekaligus teman diskusi saya dari Gereja Kristus Ketapang. Sayang sekali, mereka sudah punya acara sendiri-sendiri.

Sementara itu tanggal 11 Maret jam 11.00 saya sudah membuat janji untuk datang dalam acara jumpa darat member milis Krisen-Katolik teramah yang saya ikuti. Rasanya sangat tidak bijaksana kalau saya ingkar janji atau tidak datang. Terlebih ada seorang rekan milis yang meminta saya untuk membawa asinan Bogor. Otak ini rasanya mau pecah, karena banyak sekali hal yang belum tertangani sore itu.

Sambil menunggu bis jemputan, saya mencoret-coret daftar kegiatan yang harus saya selesaikan, diantaranya : mengambil uang di ATM, membeli soft lens, mencari teman untuk ke rutan, mencari informasi dari kakak mengenai tata cara membesuk Willy, membeli asinan Bogor, datang ke jumpa darat di Mall Artha Gading jam 11.00, dan membesuk Willy jam 13.00.

Dengan banyaknya hal yang harus diselesaikan, saya memutuskan untuk mulai melakukan sebagaian mulai sore itu, paling tidak untuk mengambil uang di ATM dan membeli soft lens. Saya pun sengaja tidak pulang dulu ke rumah, tetapi langsung ke Plaza Jambu Dua, Bogor. Setelah ada cukup uang tunai di tangan, saya mencoba mencari soft lens yang dipesan Willy. Sayang sekali, dari 2 optik yang saya datangi, semuanya tidak menyediakan soft lens untuk ukuran minus 11. Petugas optik tersebut menyarankan saya mencoba mencari soft lens tersebut ke beberapa optik di Plaza Ekaloka, di Sukasari.

Semula saya agak ragu, karena hari sudah gelap sedangkan kacamata saya sendiri tertinggal di bis jemputan. Namun demi Willy, saya nekat juga untuk pergi. Perjalan saya memang agak terhambat karena dalam situasi gelap dan tanpa kacamata, saya tidak berani menyeberang. Mau tidak mau, saya sedikit membuang waktu untuk naik angkot 09 yang ngetem di dekat Plasa Jambu Dua sambil menunggu angkot itu penuh.

Dari tujuh optik yang ada di Ekaloka, ternyata tidak satu pun yang memiliki persed248222n soft lens untuk ukuran yang dimaksud. Saya mencoba menghubungi Ati dan istri Willy, tetapi HP mereka tidak satu pun yang aktif. Semula saya sudah GR (gede rasa) dan menyangka kalau memang Tuhan tidak mengijinkan saya pergi sendirian ke rutan Salemba.

Kira-kira jam 20.30 saya keluar dari Plaza dengan hati yang sangat cemas. Kebetulan penerangan di depan Plaza yang masih relatif baru itu sangat kurang. Di sisi lain, banyak kendaraan yang melintas di depan Plaza dengan kecepatan tinggi. Saya berpikir sejenak supaya bisa menyeberang jalan dengan aman. Sejenak kemudian saya memutuskan untuk naik angkot ke depan Terminal Tas Tajur karena penerangan di sana cukup bagus dan jalanan cukup datar sehingga saya berharap dapat menyeberang dengan mudah.

Sejenak pikiran saya blank dan tahu-tahu saya sampai tempat yang gelap dan sepi. Itulah salah satu kelemahan saya yang mudah sekali mengalami disorientasi ruang di dalam suasana gelap. Karena sudah terlalu jauh, saya pun turun. Dengan setengah berlari, saya menyeberang di tempat yang benar-benar sepi itu. Begitu sampai seberang, saya baru tahu bahwa saya sedang berada di depan tempat bilyard yang remang-remang. Lama saya menunggu angkot yang lewat, hati saya pun mulai menguluh "Tuhan, saya ingin melayani, tapi jangan terlalu sulit seperti ini!"

Begitu ada angkot lewat, saya pun segera naik. Di dalam angkot itu saya masih menggugat Tuhan "Tuhan, dari dulu saya sudah melayani orang-orang miskin yang kelaparan dan hidup menggelandang, masihkan saya harus melawat orang yang di penjara?". Suara hati saya mulai menegur "Kamu pikir, Amanat Agung dalam Matius 25:31-46 sudah kau lakukan dengan sempurna? Kamu jangan terlalu cepat puas, masih banyak yang belum kamu lakukan untukKu. Sekarang saja, untuk melawatKu di penjara, kamu setengah hati"

Begitu sampai rumah saya masih berusaha menelpon Willy, dengan harapan ia sabar menunggu softlens hingga hari Senin. Namun Willy mengeluh, karena matanya sudah memerah dan kulitnya borokan, sehingga ia berharap saya mencarikan soft lens dan caladin cair di Pasar Baru, dan sebelum jam 13.00 saya harus sudah berada di rutan Salemba. Saya kembali bingung. Untung saja, kakak saya segera mengirim SMS mengenai petunjuk besuk narapidana.

Sebelum berangkat tidur, seorang teman sesama warga Bogor yang hendak ikut acara jumpa darat, mengirim SMS menanyakan baju yang akan saya pakai besok. Terus terang saya masih bingung, mencari baju yang layak untuk bertemu dengan orang-orang terhormat di sebuah mall, tetapi juga cocok untuk berkunjung ke penjara. Dengan dua acara yang sangat berbeda itu saya ingin penampilan saya tidak terlalu mencolok ketika di penjara, tetapi juga tidak terlalu njomplang dengan teman-teman dari kalangan yang terpelajar.

Singkat cerita, acara jumpa darat dengan teman-teman sungguh sangat menyenangkan. Rasanya ingin sekali saya melanjutkan curhat dengan beberapa member yang sudah terbiasa curhat di milis. Suasana yang hangat dan penuh persaudaraan itu membuat saya engan untuk meninggalkan acara tersebut. Ada perasaan sedih dan kecewa ketika alarm reminder ponsel saya berdering, tanda saya harus segera pergi ke Pasar Baru. Berat rasanya saya meninggalkan "pesta kecil" dengan makanan lezat dan istimewa yang dibawa oleh rekan-rekan yang jago masak. Ego saya pun sedikit berontak seraya berkata "Willy, kenapa sih kamu bikin kejahatan dan pakai ngrepotin saya segala? Nglawat sih ngalawat, tapi saya kan juga berhak untuk bersuka cita. Masak sih kamu tega merampas kesempatan emas saya bersama teman-teman curhat yang seiman?". Untung saja, pemberontakan itu segera saya tepis sendiri dengan mengingat perkataan Tuhan Yesus "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina, kamu telah melakukannya untuk Aku"

Sebenarnya saya malu untuk berterus terang dengan teman-teman milis yang sangat terpelajar itu, bahwa saya punya saudara angkat, seorang pendosa yang harus mendekam di penjara. Namun, untuk berbohong saya juga tidak bisa. Lagi pula rasanya tidak ada alasan lain yang lebih tepat dan bijaksana untuk meninggalkan persekutuan itu selain alasan yang sebenarnya. Puji Tuhan, dengan keterusterangan saya beberapa rekan senior justru sangat mengerti. Ibu Ine yang jago masak dan Cik Aina, teman curhat saya yang paling seru membekali saya dengan beberapa bungkus makanan untuk Willy. Walaupun tas plastik hitam berisi makanan sungguh tidak serasi dan merusak penampilan saya, namun demi Willy saya rela melakukannya.

Begitu selesai berpamitan, secepat kilat saya meninggalkan tempat bergensi itu, menuju ke Pasar Baru. Suasana pasar yang tidak teratur dan agak kumuh, membuat saya kurang nyaman. Hati kecil saya pun mulai mengeluh "Tuhan, kenapa sih susah amat melakukan kehendakMu. Di dalam Injil, Engkau hanya memintaku untuk melawat orang di penjara, tapi kenapa Engkau tuntut juga aku untuk keluar masuk tempat yang tidak elit ini?" Suasana yang tidak nyaman tersebut mendorong saya untuk segera meninggalkannya dan dengan dengan langkah seribu, saya menuju ke tempat di mana Willy mendekam.

Walaupun di setiap pintu penjagaan/pemeriksaan, jelas-jelas tertulis "Kunjungan Tidak Dipungut Biaya" tetapi dalam prakteknya tetap saja UUD. Untuk sampai ke dalam dan bertemu dengan kaum terpenjara, saya harus melewati 4 (empat) pintu, masing-masing dengan salam tempel sebesar Rp. 10,000. "Willy, kasus umum, pasal 378" dengan sok PD saya mengucapkan "pasword" yang dipesan kakak, saat masuk pintu pemeriksaan.

Entah pada pintu yang keberapa, saya diminta masuk ke ruang tertutup untuk diperiksa. Semua isi tas harus dikeluarkan. Beberapa saat kemudian, saya diminta mengangkat kedua tangan dan seorang petugas perempuan meraba seluruh permukaan tubuh saya. Kantong-kantong saku saya tak terlewatkan juga dari pemeriksaan petugas. Begitu petugas tahu bahwa saya membawa HP, saya diminta untuk menitipkannya dengan biaya Rp. 10,000 juga. "Duit lagi, duit lagi" kata saya dalam hati setengah geregetan.

Ketika saya sudah lolos pemeriksaan di bagian perempuan, saya pun masuk ke pintu kerangkeng yang berikutnya. Namun sebelum badan saya masuk kerangkeng seluruhnya, tiba-tiba seorang penjaga laki-laki menangkap tangan saya "Eits, dicap dulu!" katanya. Tanpa permisi dan tanpa menanyakan saya suka atau tidak suka, petugas itu membubuhkan stempel di atas pergelangan tangan saya. Walaupun hati saya berontak diperlakukan seperti binatang, saya tak mampu menolaknya. Terlebih kejadiannya sangat cepat dan tidak meminta persetujuan saya sebelumnya.

Begitu sampai di dalam kerangkeng, beberapa pembesuk laki-laki mentertawakan saya sambil berkata "He,he,he.mbak disangka laki-laki, ya?!" Saya pun baru sadar, ternyata dari sekian banyak pembesuk perempuan, hanya saya yang distempel. Saya cuma mesam-mesem, setengah malu bercanpur geli "Akhirnya si tomboy ini kena batunya juga" saya meledek diri sendiri.

Ketika sampai di dalam, saya agak kesulitan mencari Willy karena memang sebelumnya belum pernah bertemu. Namun melihat saya clingak-clinguk, Willy pun menghampiri saya sambil menyodorkan tangan "Ini Mbak Ning, temannya Koko ya?" Saya pun tersenyum. Agak lama kami berputar-putar memilih tempat. Beberapa pembesuk yang punya cukup uang memang membayar petugas supaya bisa duduk dan ngobrol di sofa di ruangan kantor rutan. Namun sayang waktu itu ruangan sudah dipenuhi oleh beberapa tahanan dan keluarganya yang tentunya sudah lebih dulu membayar "O...ternyata bukan cuma hotel yang fullbook" kata saya dalam hati.

Semula Willy mengajak saya berdiri di emper kantor rutan yang cukup terlindung dari sengatan matahari. Namun tak lama, kami diusir oleh petugas karena tempat itu juga sudah "dipajak" oleh tahanan lain. Saya dan Willy pun pindah ke tempat lain. Setelah menengok kesana kemari, tidak ada pilihan lain keculai jongkok berhimpit-himpitan dengan nara pidana lain. Saya berusaha mengambil jarak kira-kira 20 cm supaya tidak bersinggungan dengan Willy, tapi pundak dan badan saya justru menempel dengan tahanan lain. Suasana barak di rutan siang itu mirip dengan terminal Pulo Gadung sehari menjelang lebaran.

Begitu saya siap meminjamkan telinga, Willy memuntahkan segala kekesalan dan kemarahannya terhadap sikap Kokonya; Ati. Saya menjadi merasa bersalah dan bertanggung jawab untuk meluruskan, karena selama ini saya pun banyak mempengaruhi sikap Ati. Ketika Willy menuduh Ati tidak mempedulikannya, dengan jujur saya katakan "Sekarang ini saya ada di sini karena Tuhan dan Ati yang meminta. Sebelumnya kita bukan siapa-siapa dan saya besedia datang ke sini karena Tuhan dan Ati sangat mengasihi Willy".

Tidak mudah untuk meluluhkan hati Willy. Pandangan mata Willy yang memelas dan sok alim yang diceritakan Ati sama sekali tidak terbukti. Yang ada hanyalah pandangan kebencian yang liar. Rasanya dulu selama tinggal di Kalimantan Barat, saya belum pernah menemukan China se-preman Willy. Walaupun kulitnya masih tetap putih dan matanya masih tetap sipit, tetapi wajah Willy sangat jauh dari kesan kalem. Kulit tangannya yang dihiasi borok memang membuat saya jatuh kasihan sekaligus jijik. Tapi mau bag268249223 lagi, untuk sedikit menjauh darinya, sudah tidak ada tempat lagi.

Walaupun saya sudah mengenakan baju yang sederhana mungkin, tapi sejujurnya penampilan saya siang itu paling mencolok. Asli, waktu itu semua orang pasti akan setuju kalau saya paling cantik di antara pembesuk lainnya. Mungkin itulah sebabnya kakak melarang saya duduk bersama dengan para pelaku kejahatan dan keluarganya yang tidak jauh berbeda sangarnya.

Walaupun banyak pembesuk perempuan yang berdandan menor, tapi jelas terlihat bahwa dadanan dan penampilan mereka sangat jauh dari kesan terpelajar. Lipstik tebal, eye shadow mencolok dan blus on kemereh-merahan tidak sanggup menyembunyikan raut muka yang putus asa.

Walaupun pakaian saya cukup sederhana, tetapi kulit tangan saya yang lebih mengkilat karena usapan hand body lotion, dan bau wangi parfum yang menyegarkan serta sepatu boot yang tersemir mengkilat, membuat saya menjadi pusat perhatian para tahanan dan keluarganya. Willy pun berbisik ke telinga saya "Mbak, gara-gara saya ditengok orang keren seperti Mbak, nanti saya malah repot. Petugas pikir, saya ini orang berada dan mereka akan meminta bagian dari saya. Untuk sekali keluar seperti ini saja, saya harus membayar uang pintu Rp. 20,000. Di sini apa-apa harus membayar. Kita juga diijinkan menggunakan HP, tapi juga harus membayar pajak" "Untuk makan bagaimana?" tanya saya. "Sama saja Mbak. Kalau mau mendapatkan makanan yang bersih dan sehat, saya harus membeli sendiri. Saya sudah tidak tahan lagi di sini. Kalau tidak ada uang, saya tidak bisa makan yang layak. Mbak, boleh nggak nanti saya minta uang, biar nanti Koko yang mengganti" pinta Willy "Ini ada uang Rp. 100,000 punya Koko" kata saya. "Sst..hati-hati Mbak ngasihnya. Kalau ada orang yang tahu, nanti saya dipalak" Willy mengingatkan.

Karena wajah Willy masih agak tegang dan sedikit sangar, saya mencoba menawarkan makanan yang saya bawa dari tempat acara jumpa darat. Tanpa rasa canggung sedikitpun, Willy langsung membuka bungkusan yang saya berikan. Hati saya sangat miris ketika melihat Willy melalap habis makanan yang saya bawakan. Willy benar-benar rakus, seperti orang yang sudah seminggu tidak makan. Walaupun saya berusaha membuang padangan, namun sudut mata saya masih saja menangkap pemandangan memilukan yang berjarak kurang lebih 20 cm dari mata saya.

Hati saya semakin teriris, ketika Willy menceritakan malam-malam panjang selama di rutan. Gara-gara tidak bisa membayar uang kamar Rp. 2 juta, Willy terpaksa tidur di emper-emper atau lorong bangsal. Untuk mencegah supaya air mata saya tidak menetes, saya berusaha mengajak Willy berngajaknya ngobrol santai. "Willy, kamu masuk ke sini karena petualangan atau kecelakaan sih? Apa sih enaknya main-main dengan perbuatan tidak baik kalau cuma akhirnya menyengsarakan?" tanya saya. Willy pun mulai tersenyum sambil berkata pelan "Ya, beginilah jalan hidup saya!" Saya tak mau kalah "Dulu Ati juga tidak kalah gilanya, tapi mau bertobat. Seharusnya kamu pun bisa bertobat" "Nanti setelah keluar dari sini, saya akan mengikuti jejak Koko" jawab Willy. "Bener nich? Kalau kamu nggak bertobat, malu-maluin Koko kamu yang jadi pelayan Tuhan" kata saya sekenanya. "Oh iya tho Mbak?! Memangnya Koko mau jadi pendeta ya? Saya juga nggak tahu tuh, kenapa Koko bisa berubah begitu?" Willy keheranan. "Yang aneh bukan Koko, tapi kamu yang keras kepala, nggak mau ndegerin kata-kata Koko kamu. Kamu harusnya sadar, sudah banyak pengorbanan Koko untuk kamu, mama dan adik-adik kamu. Besok kalau Koko kamu pergi sekolah lagi, seharusnya kamu yang mengambil alih tanggung jawab keluarga" saya menasehati. "Iya Mbak, saya janji kalau nanti sudah bebas, saya akan kerja baik-baik biar dapat uang. Makanya tolong bilang ke Koko untuk segera mengeluarkan saya dari sini" Willy memohon dengan wajah yang sudah mulai ramah. "Saya nggak janji lho, Ati orangnya pantang untuk menyuap atau memberi uang pelicin. Ati maunya Willy melalui proses hukum yang normal" jawa saya.

Ketika bel tanda jam besuk berakhir, saya pun begegas keluar. Sama seperti waktu masuk, untuk keluarpun saya harus melewati beberapa kerangkeng besi yang dilengkapi dengan gembok yang teramat besar. Sebelum saya meninggalkan gerbang paling depan, saya menengok ke kanan dan ke kiri untuk meyakinkan bahwa tidak ada teman atau kenalan yang melihat saya keluar dari hotel prodeo itu. Begitu yakin tidak ada seorang pun yang saya kenal di sekitar jalan Percetakan Negara itu, saya pun berusaha kabur secepat mungkin.

Di sepanjang perjalanan dari rutan Salemba hingga Bogor, telapak tangan kanan saya berusaha menutup punggung tangan kiri saya yang masih menyisakan stempel. Di bis, sesekali saya mengintip stempel di tangan saya seraya berkata "Inilah hadiah yang terindah buat seorang terpenjara". Hadiah terindah yang saya berikan memang bukanlah oleh-oleh materi yang kasat mata, tetapi kerelaan saya merendahkan diri, menyangkal keinginan daging dan kesanggupan melewati perjuangan yang panjang untuk bisa melawat dan "jongkok bersama" dengan orang terpenjara yang merupakan sampah di mata masyarakat umum.

sumber http://artikel.sabda.org/hadiah_terindah_untuk_seorang_terpenjara

Harapan Seorang Pemabuk

Berikut ini adalah kesaksian dari salah seorang misionaris (pendeta dari Korea) yang melakukan pelayanannya di Afrika Selatan.

Ladang misiku adalah suatu wilayah di Naral, yang ada di bagian timur Afrika Selatan. Saat ini, aku bekerja di dua tempat yaitu di suatu daerah perkotaan bernama Kwamashu dan daerah pertanian bernama Ruganda.

Sehubungan dengan kebijaksanaan apartheid yang diberlakukan di Afrika Selatan, banyak daerah perkotaan -- terdiri atas kota- kota mono-ethnis yang didiami orang-orang "campuran" (keturunan dari pasangan yang berbeda ras), orang-orang Indian dan orang-orang berkulit hitam -- berkembang pesat di daerah-daerah pinggiran kota- kota, tempat di mana penduduk asli Afrika (keturunan Eropa) tinggal. Kota Kwamashu terkenal dengan tindak-tindak kekerasan yang terjadi hampir setiap hari sebelum dilangsungkannya pemilihan bersejarah di negara Afrika yang melibatkan setiap ras yang ada di negara tersebut, tepatnya pada tanggal 28 April 1994.

Menyadari resiko yang harus dihadapi karena situasi kekerasan yang ada di Kwamashu, beberapa peristiwa tertentu terus menguatkanku untuk meneruskan pelayanan misi di kota tersebut. Salah satu dari peristiwa-peristiwa tersebut terjadi ketika aku sedang melakukan penginjilan dari rumah ke rumah di sebuah desa di Kwamashu. Pada sebuah rumah yang aku kunjungi, aku menjumpai dua orang pria sedang minum bersama. Kami mulai berbincang-bincang dan aku memperkenalkan diri kepada mereka sebagai pendeta Korea. Nampaknya mereka tertarik dengan pembicaraan tentang gereja dan mereka mulai melontarkan banyak pertanyaan yang berkaitan dengan kekristenan. Untuk menanggapi rasa ingin tahu mereka, aku mulai mensharingkan Injil -- berita keselamatan yang diberikan kepada mereka melalui pengorbanan Yesus Kristus. Selain itu aku juga mensharingkan tentang pentingnya berpartisipasi dalam kehidupan bergereja untuk menguatkan dan menumbuhkan ke kedewasaan mereka dalam iman. Meskipun kedua pria tersebut dalam keadaan benar-benar mabuk, mereka mengundangku untuk datang lagi, sebagai ungkapan kerinduan mereka untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Injil. Setelah menyelesaikan kunjungan di desa tersebut, aku kembali ke gereja untuk mengadakan PA bersama-sama anggota-anggota gereja lainnya. Begitu aku bersiap-siap hendak pulang setelah PA, salah satu dari dua orang pria peminum yang aku kunjungi tadi datang menghampiriku.

"Misionaris Kim," katanya memanggilku, "Apakah anda memiliki waktu luang malam ini?" "Saya ingin anda menceritakan lebih banyak lagi tentang Injil kepada saya dan tunangan saya," lanjutnya menjelaskan. Salah satu anggota gereja yang kebetulan ikut mendengarnya sangat terkejut. Demikian pula aku yang merasa ragu karena Kwamashu bukanlah kota yang aman. Namun demikian, aku terima juga undangan tersebut.

Matahari telah terbenam dan hembusan angin mengantarkan kami memasuki Wilayah "J" di kota Kwamashu -- wilayah yang paling berbahaya di kota Kwamashu. Setelah kami tiba di rumah pria pemabuk itu, dia mulai memperkenalkan anggota keluarganya yaitu ibu, adik, kakak, dan juga tunangannya. "Ini tunangan saya," katanya kepada saya, "Dulu ia biasa pergi ke gereja yang dipimpin oleh misionaris dari Barat. Bahkan waktu dia kecil, dia juga pernah mengikuti Sekolah Minggu. Tetapi sekarang ia tidak mau melakukannya lagi. Tolong sharingkan Injil kepadanya dan bantulah dia untuk memulai kehidupan kristennya lagi." Begitu mendengar permintaan tersebut, sebuah doa terucap dalam hatiku, "Oh Tuhan, Engkau sungguh Allah yang Mahakuasa." Aku benar-benar heran saat melihat bagaimana Allah membuat diriku memiliki keberanian untuk memasuki daerah berbahaya tersebut, sehingga seorang pemabuk dan tunangannya dapat mendengar berita Injil. Aku berdoa memuji Tuhan yang telah mengatur dunia dengan kuasa-Nya.

Sumber: Living Life, Volume 3, Number 12 Judul Artikel: The Drunkard

Jebakan Pelayanan

Oleh: Sunanto

Beberapa hari yang lalu, secara kebetulan saya membaca sebuah majalah kristen yang biasanya sangat jarang saya baca. Halaman demi halaman saya buka dan ternyata ada sebuah artikel yang membahas tentang Franky Sihombing, sang penyanyi rohani yang saya sukai lagu-lagunya.

Hati saya tersentak saat membaca isi artikel tersebut sebab di sana Franky menceritakan secara terang-terangan bahwa hidup kerohaniannya belakangan ini sempat mengalami kejatuhan/kemerosotan. Selama sekitar 8 bulan, ia sering pergi ke club pada malam hari untuk mendengarkan lagu dan baru pulang sampai pagi.

Franky mengakui waktu itu ia tidak lagi mengalami keintiman dengan Tuhan sehingga hatinya begitu kering. Tetapi ironisnya walaupun begitu ia tetap melayani dan membuat lagu rohani sehingga tidak ada seorangpun kecuali isterinya yang mengetahui bahwa sebenarnya kerohaniannya sedang mengalami kemunduran. Wow, sungguh saya sulit untuk mempercayainya bila tidak membaca sendiri kesaksian tersebut. Puji Tuhan sekarang ini, oleh anugerahNya Franky boleh mengalami pertobatan dan kembali memiliki kasih yang mula-mula. Saya bersyukur dan salut dengan keterbukaannya sebab dengan begitu bisa menjadi pelajaran bagi pelayan Tuhan yang lain. Saya percaya sebenarnya bukan hanya seorang Franky Sihombing yang mengalami hal ini. Saya percaya tidak sedikit pelayan Tuhan yang saat ini terlibat aktif dalam pelayanan tetapi hidup kerohaniannya kering kerontang. Mungkin salah satu orang tersebut adalah anda yang sedang membaca tulisan ini.

Pada hari yang sama juga, saya merasa tergerak untuk membaca sebuah buku yang berjudul "Matters Of The Heart' karangan Dr. Juanita Bynum. Sebenarnya saya sudah lama mengetahui keberadaan buku tersebut tetapi tidak pernah tertarik untuk membacanya. Saya percaya hari itu Roh Kudus yang menggerakkan saya untuk membaca buku tersebut sebab Ia ingin berbicara kepada saya melalui buku itu. Dalam pembukaan buku tersebut, Dr. Bynum menyaksikan bagaimana proses terciptanya buku tersebut yaitu ketika ia ditegur oleh Tuhan karena lebih mengutamakan pelayanan daripada hubungan dengan Tuhan. Prioritas hidupnya bukan untuk menyenangkan hati Tuhan melainkan untuk menyenangkan manusia dan diri sendiri melalui pelayanan yang ia lakukan melalui mimbar, konferensi dan televisi. Dr. Bynum berkata " Hal yang menakutkan saya adalah bahwa saya sudah lama tidak mengetahui keadaan saya karena pekerjaan saya sangat hebat. Saya bertanya-tanya bagaimana saya dapat menolong orang-orang lain untuk menemukan jalan menuju Kristus sementara saya sendiri tersesat di gereja."

Saya percaya bukan sebuah kebetulan bila pada hari yang sama saya membaca kesaksian Franky Sihombing dan Juanita Bynum. Ada sebuah pelajaran yang Tuhan sedang ajarkan kepada saya yaitu begitu banyak pelayan Tuhan yang aktif melayani namun sebenarnya mereka sedang tersesat melakukan sesuatu yang bukan kehendak Allah. Tuhan mengingatkan saya bahwa selama tujuh tahun pertama saya mengikuti dan melayani Tuhan juga melakukan kesalahan yang sama yaitu lebih mengutamakan pelayanan daripada melakukan kehendak Allah. Dalam salah satu bukunya Dr. J.I Packer berkata seseorang bisa diselamatkan dan mengalami kelahiran baru dengan bukti pertobatan yang nyata yaitu dilepaskan dari kebiasaan buruk seperti kecanduan alkohol/obat-obatan tetapi ia tetap bisa tidak mengenal kehendak Allah dalam hidupnya.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan ! (Mat 7:21-23) " Banyak yang berpendapat bahwa orang yang dimaksud Yesus disini bukanlah orang percaya dan sudah lahir baru melainkan orang yang belum percaya. Tetapi bisakah orang yang belum percaya dapat mengusir setan demi nama Yesus sebab di kitab kisah para rasul ada anak-anak Skewa yang mencoba mengusir setan demi nama Yesus justru malah mereka diserang oleh roh jahat yang ingin mereka usir. Menurut saya Yesus menujukan ayat ini kepada para pelayan Tuhan yang sangat giat melayani tetapi tidak mengutamakan hubungan dengan Tuhan. Prioritas hidup mereka bukanlah untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendak Allah tetapi melayani untuk memuaskan keakuan diri sendiri.

Saya menyadari bahwa tulisan ini keras dan mungkin banyak diantara anda tidak sependapat dengan apa yang saya utarakan. Namun saya harus mengatakan apa yang saya percaya Tuhan telah taruh di hati saya untuk disampaikan bagi umatNya. Tulisan ini bukan untuk menghakimi atau menakuti siapapun tetapi saya hanya ingin mengingatkan anda semua terutama yang aktif pelayanan untuk melakukan koreksi diri apakah pelayanan yang sedang anda kerjakan benar-benar merupakan kehendak Allah ? Apakah prioritas yang utama dalam hidupmu adalah untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendakNya ? Mungkin ada diantara anda yang sangat aktif melayani tetapi hidup kerohanianmu kering kerontang walaupun orang-orang disekeliling anda tidak mengetahuinya. Saya percaya bukan sebuah kebetulan bila anda membaca tulisan ini sebab Tuhan ingin memulihkan anda. Mintalah kepada Tuhan untuk menyucikan diri anda kembali dan ijinkan Dia memperbaharuhi hatimu. Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu (Yes 30:15).

sumber http://artikel.sabda.org/jebakan_pelayanan

12 May 2009

Kesaksian Didik Nini Thowok

Sosok Didik Nini Thowok adalah sosok yang lekat dengan tarian humoris. Membawakan karakter perempuan dan gerak-gerak tarian yang " diplesetkan", Didik selalu berhasil membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal. Setelah puluhan tahun belajar seni tari dari berbagai daerah, antara lain Jawa, Sunda, Bali, dan Jepang, kini Didik berhasil memadukan semua gaya itu menjadi tarian dengan gayanya sendiri yang khas dan humoris. Dengan kemampuannya itu Didik meraih sukses sebagai penari yang melintas batas budaya dan negara.

Penampilannya yang selalu mengundang kegembiraan itu tidak hanya dapat dinikmati di atas panggung tapi juga dalam hidup kesehariannya. Tawa renyah yang selalu dihadirkannya seolah membuat orang tidak percaya bahwa iapun pernah menderita. Padahal sebenarnya kehidupan lelaki kelahiran Temanggung, 13 November 1954 itu tidak tergolong berkelimpahan.

Terlahir sebagai Kwee Tjoen Lian yang kemudian diganti menjadi Kwee Yoe An karena sakit-sakitan, ia sulung dari lima bersaudara pasangan Kwee Yoe Tiang dan Suminah. Keluarga besarnya hidup pas-pasan. Ayahnya pedagang kulit sapi dan kambing yang bangkrut dan kemudian menjadi supir truk.

Ibunya membuka warung kelontong kecil-kecilan. Begitu seret rejeki keluarga ini sampai-sampai Didik kecil harus ikut bekerja membantu orang tuanya.

Meski dari segi materi tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan tetapi Didik kecil selalu berkelimpahan dengan kasih sayang. Dalam kesempitan materi, ia menikmati masa kecilnya dengan bekerja, belajar, dan menonton berbagai kesenian, ketoprak, ludruk, dan wayang yang akhirnya mengasah rasa seninya.

Di masa itu, Didik bukan hanya belajar bekerja keras tapi juga belajar bersabar. Sejak kecil ia memang suka membawakan tarian yang lemah gemulai seperti perempuan, karena itu ia diejek oleh orang-orang sekitarnya, "Kamu ini anak laki-laki apaan sih? Kok menarinya seperti perempuan?".

Setiap kali diejek, ia menjadi sangat sedih. Ia hanya bisa diam, tidak membalas dan tidak mengadu pada orang tuanya. Ia hanya berdoa sambil menangis, "Tuhan, aku marah tapi aku tidak akan membalasnya. Aku yakin Kamulah yang akan membalaskannya untukku." Setelah itu, iapun menjadi lega dan malah lebih semangat berlatih menari. Baru bertahun-tahun kemudian doanya itu terjawab.

Dari pengalaman hidup, perlahan-lahan iapun memahami bahwa semua hal yang membuatnya sedih, kemiskinan, dan penghinaan hanyalah cara Tuhan mengajaknya bercanda. Ia menjadi yakin Tuhan tidak akan membuatnya sengsara sehingga ia lebih tenang dan pasrah menghadapi berbagai persoalan. Pemahamannya ini merupakan buah pengasuhan orang tua dan kakek neneknya yang cukup disiplin. Pendidikan dan kasih sayang mereka menjadikannya pribadi yang setia dalam doa, tegar, suka bekerja keras, dan berperasaan halus.

Semasa kuliah di ASTI ( Akademi Seni Tari Indonesia ), ketika Didik mulai mendapat honor dari pertunjukan dan melatih menari, ia ingin sekali membeli sepeda motor supaya tidak kelelahan mengayuh sepedanya kesana kemari. Sejak itu ia betul-betul berhemat. Setelah uangnya terkumpul Rp 200.000, ia sangat gembira, motor yang diidamkan terbayang di depan mata. Tiba-tiba ia teringat ibunya. Bergegas ia pulang ke Temanggung dan mendapati perut ibunya membesar karena kanker. Dengan uang Rp 200.000 itu, ia segera membawa ibunya ke Yogyakarta untuk dioperasi. Operasi itu berhasil baik dan ibunyapun sehat kembali. Didik sangat bahagia, tak secuilpun rasa kecewa menghinggapinya karena belum bisa mendapatkan sepeda motor. Bagi dia kesehatan dan kebahagiaan ibunya diatas segala harta yang bisa ia punya. Ia memahami, saat itu Tuhan memang hanya mencandainya karena selang beberapa tahun, Didik bukan hanya bisa membeli sepeda motor tapi bahkan mobil dan rumah.

Sedari kecil dengan berbagai cara Didik belajar bersyukur dan berdoa. Ia suka ikut kakeknya yang beragama Konghucu berdoa di kelenteng dan neneknya yang Kristen ke gereja. Kini ia adalah pengikut Kristen Protestan yang taat. Ia mengakui bahwa ia adalah laki-laki yang cengeng (mudah menangis) setiap kali berdoa. Sebenarnya ia ingin sekali rajin ke gereja tapi kesibukan yang sangat padat membuatnya sering tidak punya kesempatan untuk melaksanakannya setiap minggu. Untuk itu setiap ada kesempatan ia mengundang pendeta untuk mengadakan persekutuan doa di rumahnya. Dalam persekutuan doa itulah ia selalu terharu dan menangis saat memberi kesaksian akan kebesaran Tuhan yang telah ia alami.

Salah satu kesaksiannya adalah tentang rahasia kesuksesannya. Dengan mantap ia mengatakan " Ora et Labora ", dalam segala kesibukan saya selalu berdoa, dimanapun. Setiap kali akan manggung, saya selalu menyediakan waktu untuk berkonsentrasi, kemudian berdoa Syahadat Para Rasul, Bapa Kami dan Salam Maria dari buku doa pemberian Suster Leonie, kakak angkat saya. Tak lupa saya juga selalu mohon restu pada semua guru-guru tari saya yang telah almarhum.

Selama bertahun-tahun Didik sungguh-sungguh merasakan bahwa doa adalah kekuatan di balik semua kesuksesannya. Keyakinan ini membuatnya tidak berani sombong." Saya mengakui, ketika menari seolah-olah ada kekuatan di luar diri yang ikut menggerakkan dan menghiasi tubuh saya. Saya yakin, kekuatan saya sendiri tidak akan mampu menyelenggarakannya tetapi kekuatan itulah yang menjadikan tarian yang saya bawakan terlihat begitu indah dan memberi kegembiraan bagi banyak orang".

Menurut pengakuannya sudah ada banyak orang yang mengamini hal itu. Mereka bilang, ketika menonton Didik menari, mereka melihat pancaran aura yang sama sekali lain dari kesehariannya. Misalnya, dalam suatu pertunjukan seorang ibu melihat ada burung merpati mengelilingi Didik menari. Setelah pertunjukan rampung, ia langsung menelepon Didik menyatakan kekagumannya, " Proficiat, Mas! Tarianmu benar-benar indah, apalagi ada burung merpatinya ". Kaget juga Didik menerima komentar itu karena sebenarnya ia sama sekali tidak menggunakan burung merpati dalam tariannya itu.

Dalam suatu perjalanan ke luar negeri, tas Didik yang berisi passport, uang, kamera, dan dokumen berharga lainnya ketinggalan di kereta api.

Menurut staf KBRI yang dilaporinya tidak ada harapan tas akan kembali. Tentu saja Didik shock, tidak bisa makan dan tidur, tapi selang 2 hari setelah kejadian ia ditelepon oleh staf KBRI bahwa tasnya telah ditemukan. Ajaib juga, setelah diperiksa semua isinya utuh, ini pasti karena buku doa kumal pemberian Suster Leonie ada di dalamnya, Didik hanya bisa tertawa bahagia. Lagi-lagi Tuhan mengajaknya bercanda.

Dalam hidup Didik, ada begitu banyak mukjizat yang telah dibuat Tuhan. Dulu Didik masih berdebar-debar dan menangis sedih setiap kali menghadapi persoalan, tapi kini ia benar-benar tenang dan pasrah. Bagi Didik, Tuhan sering kali memberinya hadiah-hadiah yang tak terduga dan membuatnya bahagia. Pernah pada suatu tur kebudayaan di Eropa, karena perubahan jadwal yang tak terduga, ia tiba-tiba punya kesempatan berziarah ke Vatikan dan berdoa di Gereja St. Petrus dengan khusyuk, ia juga sempat ke Gunung Monserrat untuk mengunjungi Patung Bunda Maria Hitam.

Itulah Didik Nini Thowok yang kesuksesannya tak bisa dilepaskan dari ketekunannya berdoa. Semakin ia berdoa, semakin ia meyakini bahwa Tuhanlah satu-satunya kekuatan dalam hidupnya. Dengan demikian, ia tetap tidak sombong. Didik tetap hidup dengan sederhana di rumahnya yang sederhana di Jl. Jatimulyo, Yogyakarta, di pinggir sungai yang ditinggalinya sejak tahun 1980-an.

Kini, setelah semua cita-cita masa kecilnya terwujud, ia hanya ingin bersyukur dan bersyukur. Untuk itu ia berbagi kebahagiaan dengan mendirikan yayasan yang menyantuni biaya pendidikan 60 anak. Dan di usianya yang ke-50, kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia boleh mengasuh seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Aditya Awaras Hadiprayitno, setelah menantikan selama bertahun-tahun.

Menjadi saksi kebesaran Tuhan atas dirinya, ia hanya bisa berkata, "Saya percaya, kesuksesan dan kebahagiaan saya adalah jawaban Tuhan atas semua doa-doa saya. Bahkan sekarang tidak ada lagi yang bisa menghina saya karena menarikan tarian perempuan. Ya, Tuhan memang selalu menguji saya sampai batas waktu terakhir, sampai-sampai, setiap kali saya berdoa, saya tidak tahu lagi apakah saya harus menangis atau tertawa. Memang, Tuhan itu suka bercanda."

"Love is life and life is love,you must first love yourself before you can give love freely and anyone can love you." by patti quinn "The Irish Poet"

sumber http://artikel.sabda.org/kesaksian_didik_nini_thowok

Kesaksian Luput Dari Gempa Di Jogja

Oleh : Yogi Triyuniardi

Seorang penginjil bernama Daud menceritakan sebuah kesaksian dalam kebaktian yang di pimpin olehnya.

"Saudara-saudara, saya adalah salah satu orang yang paling beruntung, yang bisa luput dari gempa di jogja. ceritanya begini. Saya dan isteri sebenarnya berdomisili di kota solo. ketika isteri saya hamil tua, ia menyarankan agar kami pindah ke kota jogja, karena disana masih ada orang tua isteri saya dan saudara-saudaranya, sehingga ketika bayi kami lahir, ada yang momong (mengurusi, red)." Lalu kami kontrak selama setahun di kota jogja. hal itu berlangsung dari awal januari 2005 sampai akhir desember 2005. anak saya lahir bulan november 2005. ketika kontraknya mau habis, oleh teman saya, disarankan agar kami memperpanjang selama setengah tahun lagi, dengan pertimbangan bahwa anak saya sudah cukup besar dan tidak terlalu repot ketika nanti kami pulang ke solo. Pada bulan Februari, Tuhan berbicara pada saya. Daud. Ada apa, Tuhan? Pergilah dari jogja. Kenapa, Tuhan? Jangan banyak tanya, lakukan saja perintahKu.

Saya bertanya-tanya dalam hati, apa yang hendak diperbuat oleh Tuhan. kemudian saya mengajak isteri saya untuk pergi dari jogja, kembali ke rumah kami di solo. Isteri saya tidak setuju. anak kami masih kecil, dan di solo tidak ada yang mengurusi. Bulan April, Tuhan kembali berbicara pada saya. Daud, pergilah dari jogja, karena Aku akan menginjakkan kakiKu di laut. Akan ada gempa. Kapan itu terjadi, Tuhan?

Tidak ada jawaban. Tapi, Tuhan telah berencana. pasti akan terjadi. Saya harus memaksa isteri saya, pikir saya dalam hati. Lalu saya berkata pada isteri saya, kita harus pergi tinggalkan jogja, secepatnya. kenapa? tanyanya. Saya berkata, akan terjadi sesuatu. Isteri saya balik tanya, sesuatu apa? saya menjawab, pokoknya terjadi sesuatu. saya berusaha tidak menyebut gempa, karena takut orang sekeluarga geger. selain itu, Tuhan belum tetapkan waktunya.

Isteri saya tetap menolak. Sebab yang dipikirannya adalah kerepotan yang akan timbul, kalau sampai kita pindah rumah. Saya mulai memaksa. Okey kalau begitu, kamu pilih, mau ikut suamimu atau ikut orang tuamu? saya sedikit menggertak. maklum, bekas dukun sakti, biasa menggertak orang. Akhirnya isteri saya menjawab, ikut suami. Tapi ia bertanya, siapa yang ngurusi pindahan? Saya, karena tahu waktunya begitu mendesak, spontan berkata: Saya sendiri! Lalu, setelah selesai pindah2an, dan menata kembali barang2 perabotan di rumah kami di solo, pada awal bulan mei, Tuhan menyatakan FirmanNya pada saya.

Dengan kudaMu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih. Ketika aku mendengarnya, gemeterlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dam aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami. (Habakuk 3:15-16)

Saya kembali bertanya, kapan, Tuhan? Tuhan tidak menjawab. Tetapi saya tahu bahwa waktunya semakin dekat. Saya berusaha memperingatkan keluarga isteri saya, dan berusaha untuk membatalkan rencana perkawinan saudara isteri saya yang akan dilaksanakan pada bulan juni. Diundur sajalah, sebab Tuhan bilang akan terjadi sesuatu. kata saya pada mereka. Saya kemudian berusaha mengumpulkan persediaan makanan dan kebutuhan pokok di rumah saya di solo. bahkan sampai arang sekalipun saya beli. sebab jika terjadi gempa, pasti minyak tanah susah di dapat, pikir saya.

Ketika menjelang hari-H, pada hari kamisnya (25/5; Hari raya kenaikan Tuhan Yesus), isteri saya telepon ketika saya berada diluar kota, sedang pelayanan. Mana gempanya pak? rupanya isteri saya meragukan apa yang saya dengar dari Tuhan. dan saat hari jumat, ketika sedang berkotbah di bandung, Tuhan berkata dengan jelas, Sekarang Aku akan menginjakkan kakiKu di laut.

Sabtu pagi (27/5), jogja terkena gempa dahsyat. keluarga isteri saya, yaitu ibunya beserta kedua anaknya, berhasil selamat dan langsung melarikan diri ke solo dengan menggunakan sepeda motor. sampainya mereka ke rumah saya, ketika saya berada di rumah, saya berkelakar. Saya tahu bahwa kalian akan mengungsi ke tempat saya, jadi saya sudah siapkan makanan yang banyak.

Itulah kesaksian tentang Tuhan saya, Yesus, yang meluputkan saya dari bencana, sebab orang yang dekat padaNya tidak akan pernah dikecewakan, selalu dilindungi dan diberkati. Haleluya!

Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umatMu, untuk menyelamatkan orang yang Kau urapi. Engkau meremukkan bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kau buka dasarnya sampai batu yang penghabisan. (Habakuk 3:13)

Tuhan Yesus memberkati.

sumber http://artikel.sabda.org/kesaksian_luput_dari_gempa_di_jogja

Kidung dari Balik Jeruji

Di waktu awan mendung melingkup
jalan gelap tiada harapan
aku berpaling kepada Yesus
agar Yesus arahkan langkahku

Bait demi bait dalam lagu yang berjudul Yesus yang Setia mengalir dengan merdu dari suara Marcel Hukom. Lagu rohani tersebut segera diikuti pendengarnya, karena mudah mengikutinya. Siapa sangka lagu yang berirama pop itu digubah oleh para tahanan dan narapidana di Rumah Tahanan Salemba. Bahkan musik dalam album berjudul Suara Kasih, itu dibuat seorang narapidana beragama Islam, Arifin Bilahmar.

Jeruji besi yang dingin dan ruangan sel yang kecil, tidak membuat kreativitas penghuni Rutan Salemba ikut terpenjara. Bahkan, kesadaran akan kekuasaan Tuhan di saat mereka menjalani hukuman, senantiasa menguatkan dan memberi ketabahan hati kepada mereka. Demikian tulis Lince Eppang untuk Suara Pembaruan.

Kevin Piere, narapidana dalam kasus penipuan yang sudah menjalani hukuman selama delapan bulan di situ, dengan mata berkaca-kaca menceritakan kepada Pembaruan, proses pembuatan lirik lagu yang berjudul Tuhan Ubah Hidupku.

Lagu yang juga menjadi kesaksian dalam hidupnya itu, diciptanya di atas bon-bon hutang di sebuah warung di blok A, tempat ia menjalani hari-hari kehidupannya. "Dengan menggunakan pensil saya menulis lirik itu. Berulang-ulang, saya merobek bon-bon utang yang di belakangnya saya pakai untuk mengarang lirik lagu itu," kata Kevin.

Semalaman dia bekerja, saat itu entah karena semangat untuk menumpahkan kesaksian dalam hidupnya, atau karena kerinduannya memuji Tuhan, yang jelas ia tidak merasakan kantuk sama sekali saat itu.

Dalam waktu satu hari, lirik itu jadi dibuatnya dan diserahkan ke Arifin, yang akan mengaransemen lagu itu. Membaca larik itu, Arifin mengaku kesulitan untuk menemukan musik yang tepat untuk lagu tersebut.

Sambil meminta maaf kepada Kevin karena lirik itu tidak dapat dipakai, Arifin pun berencana tidak menggunakan lirik itu dalam album mereka. Tapi, entah kenapa ia tiba-tiba mendapatkan ilham dan menemukan musik yang tepat untuk lirik tersebut. "Terus terang saya juga tidak paham, saya seperti mendengarkan sesuatu dan di kepala saya seperti terisi oleh musik yang tepat untuk lirik itu," kata Arifin.

Banyak hal-hal yang tidak terduga yang terjadi saat proses pembuatan album itu dilakukan oleh para penghuni Rutan Salemba itu. Bahkan, para tahanan dan narapidana yang masih tinggal di dalam Rutan Salemba, harus lima kali berganti-ganti studio untuk merekam suara mereka, karena menyesuaikan dengan jadwal mereka untuk keluar dari Rutan Salemba.

Usul untuk membuat album itu berawal ketika Didit Wijayanto Wijaya, seorang narapidana dalam perkara penipuan, membaca ayat Alkitab di dalam Mazmur 98 ayat 1 untuk senantiasa menaikkan nyanyian baru bagi Tuhan. Apalagi, penghuni Rutan Salemba yang beragama Kristen banyak yang tekun beribadah di gereja di dalam Rutan Salemba itu. Di antara para tahanan dan narapidana itu pun banyak yang memiliki potensi bermain musik dan menyanyi.

Ajakan untuk membuat album pada bulan Agustus 2003 itu pun, membuat para tahanan dan narapidana bersemangat untuk menciptakan lirik-lirik yang sebagian besar merupakan kondisi yang mereka alami dalam kehidupan mereka.

Bagi Arifin atau pun Kevin, dan penghuni Rutan Salemba lainnya, berada di dalam tahanan membuat orang tersadar akan kekuasaan Tuhan. Dalam hari-hari hukuman yang harus mereka jalani, terpisah dari keluarga dan dunia luar, itu lah yang menjadikan mereka tegar dan pasrah kepada Tuhan. "Mungkin dengan kesaksian yang ada dalam hidup saya, bisa menjadi berkat bagi orang-orang," ujar Kevin terbata. "Saya percaya Tuhan Yesus ada di dalam kehidupan saya," ujarnya.

Walau pun kerabat tidak mengunjunginya, bagi Kevin dan mungkin bagi penghuni Rutan Salemba lainnya yang merayakan natal namun tidak dikunjungi keluarganya, tidak menjadi penghalang untuk merasakan nikmat natal yang diberikan oleh Kristus.

Sumber: www.glorianet.org