13 May 2009

Harapan Seorang Pemabuk

Berikut ini adalah kesaksian dari salah seorang misionaris (pendeta dari Korea) yang melakukan pelayanannya di Afrika Selatan.

Ladang misiku adalah suatu wilayah di Naral, yang ada di bagian timur Afrika Selatan. Saat ini, aku bekerja di dua tempat yaitu di suatu daerah perkotaan bernama Kwamashu dan daerah pertanian bernama Ruganda.

Sehubungan dengan kebijaksanaan apartheid yang diberlakukan di Afrika Selatan, banyak daerah perkotaan -- terdiri atas kota- kota mono-ethnis yang didiami orang-orang "campuran" (keturunan dari pasangan yang berbeda ras), orang-orang Indian dan orang-orang berkulit hitam -- berkembang pesat di daerah-daerah pinggiran kota- kota, tempat di mana penduduk asli Afrika (keturunan Eropa) tinggal. Kota Kwamashu terkenal dengan tindak-tindak kekerasan yang terjadi hampir setiap hari sebelum dilangsungkannya pemilihan bersejarah di negara Afrika yang melibatkan setiap ras yang ada di negara tersebut, tepatnya pada tanggal 28 April 1994.

Menyadari resiko yang harus dihadapi karena situasi kekerasan yang ada di Kwamashu, beberapa peristiwa tertentu terus menguatkanku untuk meneruskan pelayanan misi di kota tersebut. Salah satu dari peristiwa-peristiwa tersebut terjadi ketika aku sedang melakukan penginjilan dari rumah ke rumah di sebuah desa di Kwamashu. Pada sebuah rumah yang aku kunjungi, aku menjumpai dua orang pria sedang minum bersama. Kami mulai berbincang-bincang dan aku memperkenalkan diri kepada mereka sebagai pendeta Korea. Nampaknya mereka tertarik dengan pembicaraan tentang gereja dan mereka mulai melontarkan banyak pertanyaan yang berkaitan dengan kekristenan. Untuk menanggapi rasa ingin tahu mereka, aku mulai mensharingkan Injil -- berita keselamatan yang diberikan kepada mereka melalui pengorbanan Yesus Kristus. Selain itu aku juga mensharingkan tentang pentingnya berpartisipasi dalam kehidupan bergereja untuk menguatkan dan menumbuhkan ke kedewasaan mereka dalam iman. Meskipun kedua pria tersebut dalam keadaan benar-benar mabuk, mereka mengundangku untuk datang lagi, sebagai ungkapan kerinduan mereka untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Injil. Setelah menyelesaikan kunjungan di desa tersebut, aku kembali ke gereja untuk mengadakan PA bersama-sama anggota-anggota gereja lainnya. Begitu aku bersiap-siap hendak pulang setelah PA, salah satu dari dua orang pria peminum yang aku kunjungi tadi datang menghampiriku.

"Misionaris Kim," katanya memanggilku, "Apakah anda memiliki waktu luang malam ini?" "Saya ingin anda menceritakan lebih banyak lagi tentang Injil kepada saya dan tunangan saya," lanjutnya menjelaskan. Salah satu anggota gereja yang kebetulan ikut mendengarnya sangat terkejut. Demikian pula aku yang merasa ragu karena Kwamashu bukanlah kota yang aman. Namun demikian, aku terima juga undangan tersebut.

Matahari telah terbenam dan hembusan angin mengantarkan kami memasuki Wilayah "J" di kota Kwamashu -- wilayah yang paling berbahaya di kota Kwamashu. Setelah kami tiba di rumah pria pemabuk itu, dia mulai memperkenalkan anggota keluarganya yaitu ibu, adik, kakak, dan juga tunangannya. "Ini tunangan saya," katanya kepada saya, "Dulu ia biasa pergi ke gereja yang dipimpin oleh misionaris dari Barat. Bahkan waktu dia kecil, dia juga pernah mengikuti Sekolah Minggu. Tetapi sekarang ia tidak mau melakukannya lagi. Tolong sharingkan Injil kepadanya dan bantulah dia untuk memulai kehidupan kristennya lagi." Begitu mendengar permintaan tersebut, sebuah doa terucap dalam hatiku, "Oh Tuhan, Engkau sungguh Allah yang Mahakuasa." Aku benar-benar heran saat melihat bagaimana Allah membuat diriku memiliki keberanian untuk memasuki daerah berbahaya tersebut, sehingga seorang pemabuk dan tunangannya dapat mendengar berita Injil. Aku berdoa memuji Tuhan yang telah mengatur dunia dengan kuasa-Nya.

Sumber: Living Life, Volume 3, Number 12 Judul Artikel: The Drunkard

Jebakan Pelayanan

Oleh: Sunanto

Beberapa hari yang lalu, secara kebetulan saya membaca sebuah majalah kristen yang biasanya sangat jarang saya baca. Halaman demi halaman saya buka dan ternyata ada sebuah artikel yang membahas tentang Franky Sihombing, sang penyanyi rohani yang saya sukai lagu-lagunya.

Hati saya tersentak saat membaca isi artikel tersebut sebab di sana Franky menceritakan secara terang-terangan bahwa hidup kerohaniannya belakangan ini sempat mengalami kejatuhan/kemerosotan. Selama sekitar 8 bulan, ia sering pergi ke club pada malam hari untuk mendengarkan lagu dan baru pulang sampai pagi.

Franky mengakui waktu itu ia tidak lagi mengalami keintiman dengan Tuhan sehingga hatinya begitu kering. Tetapi ironisnya walaupun begitu ia tetap melayani dan membuat lagu rohani sehingga tidak ada seorangpun kecuali isterinya yang mengetahui bahwa sebenarnya kerohaniannya sedang mengalami kemunduran. Wow, sungguh saya sulit untuk mempercayainya bila tidak membaca sendiri kesaksian tersebut. Puji Tuhan sekarang ini, oleh anugerahNya Franky boleh mengalami pertobatan dan kembali memiliki kasih yang mula-mula. Saya bersyukur dan salut dengan keterbukaannya sebab dengan begitu bisa menjadi pelajaran bagi pelayan Tuhan yang lain. Saya percaya sebenarnya bukan hanya seorang Franky Sihombing yang mengalami hal ini. Saya percaya tidak sedikit pelayan Tuhan yang saat ini terlibat aktif dalam pelayanan tetapi hidup kerohaniannya kering kerontang. Mungkin salah satu orang tersebut adalah anda yang sedang membaca tulisan ini.

Pada hari yang sama juga, saya merasa tergerak untuk membaca sebuah buku yang berjudul "Matters Of The Heart' karangan Dr. Juanita Bynum. Sebenarnya saya sudah lama mengetahui keberadaan buku tersebut tetapi tidak pernah tertarik untuk membacanya. Saya percaya hari itu Roh Kudus yang menggerakkan saya untuk membaca buku tersebut sebab Ia ingin berbicara kepada saya melalui buku itu. Dalam pembukaan buku tersebut, Dr. Bynum menyaksikan bagaimana proses terciptanya buku tersebut yaitu ketika ia ditegur oleh Tuhan karena lebih mengutamakan pelayanan daripada hubungan dengan Tuhan. Prioritas hidupnya bukan untuk menyenangkan hati Tuhan melainkan untuk menyenangkan manusia dan diri sendiri melalui pelayanan yang ia lakukan melalui mimbar, konferensi dan televisi. Dr. Bynum berkata " Hal yang menakutkan saya adalah bahwa saya sudah lama tidak mengetahui keadaan saya karena pekerjaan saya sangat hebat. Saya bertanya-tanya bagaimana saya dapat menolong orang-orang lain untuk menemukan jalan menuju Kristus sementara saya sendiri tersesat di gereja."

Saya percaya bukan sebuah kebetulan bila pada hari yang sama saya membaca kesaksian Franky Sihombing dan Juanita Bynum. Ada sebuah pelajaran yang Tuhan sedang ajarkan kepada saya yaitu begitu banyak pelayan Tuhan yang aktif melayani namun sebenarnya mereka sedang tersesat melakukan sesuatu yang bukan kehendak Allah. Tuhan mengingatkan saya bahwa selama tujuh tahun pertama saya mengikuti dan melayani Tuhan juga melakukan kesalahan yang sama yaitu lebih mengutamakan pelayanan daripada melakukan kehendak Allah. Dalam salah satu bukunya Dr. J.I Packer berkata seseorang bisa diselamatkan dan mengalami kelahiran baru dengan bukti pertobatan yang nyata yaitu dilepaskan dari kebiasaan buruk seperti kecanduan alkohol/obat-obatan tetapi ia tetap bisa tidak mengenal kehendak Allah dalam hidupnya.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan ! (Mat 7:21-23) " Banyak yang berpendapat bahwa orang yang dimaksud Yesus disini bukanlah orang percaya dan sudah lahir baru melainkan orang yang belum percaya. Tetapi bisakah orang yang belum percaya dapat mengusir setan demi nama Yesus sebab di kitab kisah para rasul ada anak-anak Skewa yang mencoba mengusir setan demi nama Yesus justru malah mereka diserang oleh roh jahat yang ingin mereka usir. Menurut saya Yesus menujukan ayat ini kepada para pelayan Tuhan yang sangat giat melayani tetapi tidak mengutamakan hubungan dengan Tuhan. Prioritas hidup mereka bukanlah untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendak Allah tetapi melayani untuk memuaskan keakuan diri sendiri.

Saya menyadari bahwa tulisan ini keras dan mungkin banyak diantara anda tidak sependapat dengan apa yang saya utarakan. Namun saya harus mengatakan apa yang saya percaya Tuhan telah taruh di hati saya untuk disampaikan bagi umatNya. Tulisan ini bukan untuk menghakimi atau menakuti siapapun tetapi saya hanya ingin mengingatkan anda semua terutama yang aktif pelayanan untuk melakukan koreksi diri apakah pelayanan yang sedang anda kerjakan benar-benar merupakan kehendak Allah ? Apakah prioritas yang utama dalam hidupmu adalah untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendakNya ? Mungkin ada diantara anda yang sangat aktif melayani tetapi hidup kerohanianmu kering kerontang walaupun orang-orang disekeliling anda tidak mengetahuinya. Saya percaya bukan sebuah kebetulan bila anda membaca tulisan ini sebab Tuhan ingin memulihkan anda. Mintalah kepada Tuhan untuk menyucikan diri anda kembali dan ijinkan Dia memperbaharuhi hatimu. Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu (Yes 30:15).

sumber http://artikel.sabda.org/jebakan_pelayanan

12 May 2009

Kesaksian Didik Nini Thowok

Sosok Didik Nini Thowok adalah sosok yang lekat dengan tarian humoris. Membawakan karakter perempuan dan gerak-gerak tarian yang " diplesetkan", Didik selalu berhasil membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal. Setelah puluhan tahun belajar seni tari dari berbagai daerah, antara lain Jawa, Sunda, Bali, dan Jepang, kini Didik berhasil memadukan semua gaya itu menjadi tarian dengan gayanya sendiri yang khas dan humoris. Dengan kemampuannya itu Didik meraih sukses sebagai penari yang melintas batas budaya dan negara.

Penampilannya yang selalu mengundang kegembiraan itu tidak hanya dapat dinikmati di atas panggung tapi juga dalam hidup kesehariannya. Tawa renyah yang selalu dihadirkannya seolah membuat orang tidak percaya bahwa iapun pernah menderita. Padahal sebenarnya kehidupan lelaki kelahiran Temanggung, 13 November 1954 itu tidak tergolong berkelimpahan.

Terlahir sebagai Kwee Tjoen Lian yang kemudian diganti menjadi Kwee Yoe An karena sakit-sakitan, ia sulung dari lima bersaudara pasangan Kwee Yoe Tiang dan Suminah. Keluarga besarnya hidup pas-pasan. Ayahnya pedagang kulit sapi dan kambing yang bangkrut dan kemudian menjadi supir truk.

Ibunya membuka warung kelontong kecil-kecilan. Begitu seret rejeki keluarga ini sampai-sampai Didik kecil harus ikut bekerja membantu orang tuanya.

Meski dari segi materi tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan tetapi Didik kecil selalu berkelimpahan dengan kasih sayang. Dalam kesempitan materi, ia menikmati masa kecilnya dengan bekerja, belajar, dan menonton berbagai kesenian, ketoprak, ludruk, dan wayang yang akhirnya mengasah rasa seninya.

Di masa itu, Didik bukan hanya belajar bekerja keras tapi juga belajar bersabar. Sejak kecil ia memang suka membawakan tarian yang lemah gemulai seperti perempuan, karena itu ia diejek oleh orang-orang sekitarnya, "Kamu ini anak laki-laki apaan sih? Kok menarinya seperti perempuan?".

Setiap kali diejek, ia menjadi sangat sedih. Ia hanya bisa diam, tidak membalas dan tidak mengadu pada orang tuanya. Ia hanya berdoa sambil menangis, "Tuhan, aku marah tapi aku tidak akan membalasnya. Aku yakin Kamulah yang akan membalaskannya untukku." Setelah itu, iapun menjadi lega dan malah lebih semangat berlatih menari. Baru bertahun-tahun kemudian doanya itu terjawab.

Dari pengalaman hidup, perlahan-lahan iapun memahami bahwa semua hal yang membuatnya sedih, kemiskinan, dan penghinaan hanyalah cara Tuhan mengajaknya bercanda. Ia menjadi yakin Tuhan tidak akan membuatnya sengsara sehingga ia lebih tenang dan pasrah menghadapi berbagai persoalan. Pemahamannya ini merupakan buah pengasuhan orang tua dan kakek neneknya yang cukup disiplin. Pendidikan dan kasih sayang mereka menjadikannya pribadi yang setia dalam doa, tegar, suka bekerja keras, dan berperasaan halus.

Semasa kuliah di ASTI ( Akademi Seni Tari Indonesia ), ketika Didik mulai mendapat honor dari pertunjukan dan melatih menari, ia ingin sekali membeli sepeda motor supaya tidak kelelahan mengayuh sepedanya kesana kemari. Sejak itu ia betul-betul berhemat. Setelah uangnya terkumpul Rp 200.000, ia sangat gembira, motor yang diidamkan terbayang di depan mata. Tiba-tiba ia teringat ibunya. Bergegas ia pulang ke Temanggung dan mendapati perut ibunya membesar karena kanker. Dengan uang Rp 200.000 itu, ia segera membawa ibunya ke Yogyakarta untuk dioperasi. Operasi itu berhasil baik dan ibunyapun sehat kembali. Didik sangat bahagia, tak secuilpun rasa kecewa menghinggapinya karena belum bisa mendapatkan sepeda motor. Bagi dia kesehatan dan kebahagiaan ibunya diatas segala harta yang bisa ia punya. Ia memahami, saat itu Tuhan memang hanya mencandainya karena selang beberapa tahun, Didik bukan hanya bisa membeli sepeda motor tapi bahkan mobil dan rumah.

Sedari kecil dengan berbagai cara Didik belajar bersyukur dan berdoa. Ia suka ikut kakeknya yang beragama Konghucu berdoa di kelenteng dan neneknya yang Kristen ke gereja. Kini ia adalah pengikut Kristen Protestan yang taat. Ia mengakui bahwa ia adalah laki-laki yang cengeng (mudah menangis) setiap kali berdoa. Sebenarnya ia ingin sekali rajin ke gereja tapi kesibukan yang sangat padat membuatnya sering tidak punya kesempatan untuk melaksanakannya setiap minggu. Untuk itu setiap ada kesempatan ia mengundang pendeta untuk mengadakan persekutuan doa di rumahnya. Dalam persekutuan doa itulah ia selalu terharu dan menangis saat memberi kesaksian akan kebesaran Tuhan yang telah ia alami.

Salah satu kesaksiannya adalah tentang rahasia kesuksesannya. Dengan mantap ia mengatakan " Ora et Labora ", dalam segala kesibukan saya selalu berdoa, dimanapun. Setiap kali akan manggung, saya selalu menyediakan waktu untuk berkonsentrasi, kemudian berdoa Syahadat Para Rasul, Bapa Kami dan Salam Maria dari buku doa pemberian Suster Leonie, kakak angkat saya. Tak lupa saya juga selalu mohon restu pada semua guru-guru tari saya yang telah almarhum.

Selama bertahun-tahun Didik sungguh-sungguh merasakan bahwa doa adalah kekuatan di balik semua kesuksesannya. Keyakinan ini membuatnya tidak berani sombong." Saya mengakui, ketika menari seolah-olah ada kekuatan di luar diri yang ikut menggerakkan dan menghiasi tubuh saya. Saya yakin, kekuatan saya sendiri tidak akan mampu menyelenggarakannya tetapi kekuatan itulah yang menjadikan tarian yang saya bawakan terlihat begitu indah dan memberi kegembiraan bagi banyak orang".

Menurut pengakuannya sudah ada banyak orang yang mengamini hal itu. Mereka bilang, ketika menonton Didik menari, mereka melihat pancaran aura yang sama sekali lain dari kesehariannya. Misalnya, dalam suatu pertunjukan seorang ibu melihat ada burung merpati mengelilingi Didik menari. Setelah pertunjukan rampung, ia langsung menelepon Didik menyatakan kekagumannya, " Proficiat, Mas! Tarianmu benar-benar indah, apalagi ada burung merpatinya ". Kaget juga Didik menerima komentar itu karena sebenarnya ia sama sekali tidak menggunakan burung merpati dalam tariannya itu.

Dalam suatu perjalanan ke luar negeri, tas Didik yang berisi passport, uang, kamera, dan dokumen berharga lainnya ketinggalan di kereta api.

Menurut staf KBRI yang dilaporinya tidak ada harapan tas akan kembali. Tentu saja Didik shock, tidak bisa makan dan tidur, tapi selang 2 hari setelah kejadian ia ditelepon oleh staf KBRI bahwa tasnya telah ditemukan. Ajaib juga, setelah diperiksa semua isinya utuh, ini pasti karena buku doa kumal pemberian Suster Leonie ada di dalamnya, Didik hanya bisa tertawa bahagia. Lagi-lagi Tuhan mengajaknya bercanda.

Dalam hidup Didik, ada begitu banyak mukjizat yang telah dibuat Tuhan. Dulu Didik masih berdebar-debar dan menangis sedih setiap kali menghadapi persoalan, tapi kini ia benar-benar tenang dan pasrah. Bagi Didik, Tuhan sering kali memberinya hadiah-hadiah yang tak terduga dan membuatnya bahagia. Pernah pada suatu tur kebudayaan di Eropa, karena perubahan jadwal yang tak terduga, ia tiba-tiba punya kesempatan berziarah ke Vatikan dan berdoa di Gereja St. Petrus dengan khusyuk, ia juga sempat ke Gunung Monserrat untuk mengunjungi Patung Bunda Maria Hitam.

Itulah Didik Nini Thowok yang kesuksesannya tak bisa dilepaskan dari ketekunannya berdoa. Semakin ia berdoa, semakin ia meyakini bahwa Tuhanlah satu-satunya kekuatan dalam hidupnya. Dengan demikian, ia tetap tidak sombong. Didik tetap hidup dengan sederhana di rumahnya yang sederhana di Jl. Jatimulyo, Yogyakarta, di pinggir sungai yang ditinggalinya sejak tahun 1980-an.

Kini, setelah semua cita-cita masa kecilnya terwujud, ia hanya ingin bersyukur dan bersyukur. Untuk itu ia berbagi kebahagiaan dengan mendirikan yayasan yang menyantuni biaya pendidikan 60 anak. Dan di usianya yang ke-50, kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia boleh mengasuh seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Aditya Awaras Hadiprayitno, setelah menantikan selama bertahun-tahun.

Menjadi saksi kebesaran Tuhan atas dirinya, ia hanya bisa berkata, "Saya percaya, kesuksesan dan kebahagiaan saya adalah jawaban Tuhan atas semua doa-doa saya. Bahkan sekarang tidak ada lagi yang bisa menghina saya karena menarikan tarian perempuan. Ya, Tuhan memang selalu menguji saya sampai batas waktu terakhir, sampai-sampai, setiap kali saya berdoa, saya tidak tahu lagi apakah saya harus menangis atau tertawa. Memang, Tuhan itu suka bercanda."

"Love is life and life is love,you must first love yourself before you can give love freely and anyone can love you." by patti quinn "The Irish Poet"

sumber http://artikel.sabda.org/kesaksian_didik_nini_thowok

Kesaksian Luput Dari Gempa Di Jogja

Oleh : Yogi Triyuniardi

Seorang penginjil bernama Daud menceritakan sebuah kesaksian dalam kebaktian yang di pimpin olehnya.

"Saudara-saudara, saya adalah salah satu orang yang paling beruntung, yang bisa luput dari gempa di jogja. ceritanya begini. Saya dan isteri sebenarnya berdomisili di kota solo. ketika isteri saya hamil tua, ia menyarankan agar kami pindah ke kota jogja, karena disana masih ada orang tua isteri saya dan saudara-saudaranya, sehingga ketika bayi kami lahir, ada yang momong (mengurusi, red)." Lalu kami kontrak selama setahun di kota jogja. hal itu berlangsung dari awal januari 2005 sampai akhir desember 2005. anak saya lahir bulan november 2005. ketika kontraknya mau habis, oleh teman saya, disarankan agar kami memperpanjang selama setengah tahun lagi, dengan pertimbangan bahwa anak saya sudah cukup besar dan tidak terlalu repot ketika nanti kami pulang ke solo. Pada bulan Februari, Tuhan berbicara pada saya. Daud. Ada apa, Tuhan? Pergilah dari jogja. Kenapa, Tuhan? Jangan banyak tanya, lakukan saja perintahKu.

Saya bertanya-tanya dalam hati, apa yang hendak diperbuat oleh Tuhan. kemudian saya mengajak isteri saya untuk pergi dari jogja, kembali ke rumah kami di solo. Isteri saya tidak setuju. anak kami masih kecil, dan di solo tidak ada yang mengurusi. Bulan April, Tuhan kembali berbicara pada saya. Daud, pergilah dari jogja, karena Aku akan menginjakkan kakiKu di laut. Akan ada gempa. Kapan itu terjadi, Tuhan?

Tidak ada jawaban. Tapi, Tuhan telah berencana. pasti akan terjadi. Saya harus memaksa isteri saya, pikir saya dalam hati. Lalu saya berkata pada isteri saya, kita harus pergi tinggalkan jogja, secepatnya. kenapa? tanyanya. Saya berkata, akan terjadi sesuatu. Isteri saya balik tanya, sesuatu apa? saya menjawab, pokoknya terjadi sesuatu. saya berusaha tidak menyebut gempa, karena takut orang sekeluarga geger. selain itu, Tuhan belum tetapkan waktunya.

Isteri saya tetap menolak. Sebab yang dipikirannya adalah kerepotan yang akan timbul, kalau sampai kita pindah rumah. Saya mulai memaksa. Okey kalau begitu, kamu pilih, mau ikut suamimu atau ikut orang tuamu? saya sedikit menggertak. maklum, bekas dukun sakti, biasa menggertak orang. Akhirnya isteri saya menjawab, ikut suami. Tapi ia bertanya, siapa yang ngurusi pindahan? Saya, karena tahu waktunya begitu mendesak, spontan berkata: Saya sendiri! Lalu, setelah selesai pindah2an, dan menata kembali barang2 perabotan di rumah kami di solo, pada awal bulan mei, Tuhan menyatakan FirmanNya pada saya.

Dengan kudaMu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih. Ketika aku mendengarnya, gemeterlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dam aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami. (Habakuk 3:15-16)

Saya kembali bertanya, kapan, Tuhan? Tuhan tidak menjawab. Tetapi saya tahu bahwa waktunya semakin dekat. Saya berusaha memperingatkan keluarga isteri saya, dan berusaha untuk membatalkan rencana perkawinan saudara isteri saya yang akan dilaksanakan pada bulan juni. Diundur sajalah, sebab Tuhan bilang akan terjadi sesuatu. kata saya pada mereka. Saya kemudian berusaha mengumpulkan persediaan makanan dan kebutuhan pokok di rumah saya di solo. bahkan sampai arang sekalipun saya beli. sebab jika terjadi gempa, pasti minyak tanah susah di dapat, pikir saya.

Ketika menjelang hari-H, pada hari kamisnya (25/5; Hari raya kenaikan Tuhan Yesus), isteri saya telepon ketika saya berada diluar kota, sedang pelayanan. Mana gempanya pak? rupanya isteri saya meragukan apa yang saya dengar dari Tuhan. dan saat hari jumat, ketika sedang berkotbah di bandung, Tuhan berkata dengan jelas, Sekarang Aku akan menginjakkan kakiKu di laut.

Sabtu pagi (27/5), jogja terkena gempa dahsyat. keluarga isteri saya, yaitu ibunya beserta kedua anaknya, berhasil selamat dan langsung melarikan diri ke solo dengan menggunakan sepeda motor. sampainya mereka ke rumah saya, ketika saya berada di rumah, saya berkelakar. Saya tahu bahwa kalian akan mengungsi ke tempat saya, jadi saya sudah siapkan makanan yang banyak.

Itulah kesaksian tentang Tuhan saya, Yesus, yang meluputkan saya dari bencana, sebab orang yang dekat padaNya tidak akan pernah dikecewakan, selalu dilindungi dan diberkati. Haleluya!

Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umatMu, untuk menyelamatkan orang yang Kau urapi. Engkau meremukkan bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kau buka dasarnya sampai batu yang penghabisan. (Habakuk 3:13)

Tuhan Yesus memberkati.

sumber http://artikel.sabda.org/kesaksian_luput_dari_gempa_di_jogja

Kidung dari Balik Jeruji

Di waktu awan mendung melingkup
jalan gelap tiada harapan
aku berpaling kepada Yesus
agar Yesus arahkan langkahku

Bait demi bait dalam lagu yang berjudul Yesus yang Setia mengalir dengan merdu dari suara Marcel Hukom. Lagu rohani tersebut segera diikuti pendengarnya, karena mudah mengikutinya. Siapa sangka lagu yang berirama pop itu digubah oleh para tahanan dan narapidana di Rumah Tahanan Salemba. Bahkan musik dalam album berjudul Suara Kasih, itu dibuat seorang narapidana beragama Islam, Arifin Bilahmar.

Jeruji besi yang dingin dan ruangan sel yang kecil, tidak membuat kreativitas penghuni Rutan Salemba ikut terpenjara. Bahkan, kesadaran akan kekuasaan Tuhan di saat mereka menjalani hukuman, senantiasa menguatkan dan memberi ketabahan hati kepada mereka. Demikian tulis Lince Eppang untuk Suara Pembaruan.

Kevin Piere, narapidana dalam kasus penipuan yang sudah menjalani hukuman selama delapan bulan di situ, dengan mata berkaca-kaca menceritakan kepada Pembaruan, proses pembuatan lirik lagu yang berjudul Tuhan Ubah Hidupku.

Lagu yang juga menjadi kesaksian dalam hidupnya itu, diciptanya di atas bon-bon hutang di sebuah warung di blok A, tempat ia menjalani hari-hari kehidupannya. "Dengan menggunakan pensil saya menulis lirik itu. Berulang-ulang, saya merobek bon-bon utang yang di belakangnya saya pakai untuk mengarang lirik lagu itu," kata Kevin.

Semalaman dia bekerja, saat itu entah karena semangat untuk menumpahkan kesaksian dalam hidupnya, atau karena kerinduannya memuji Tuhan, yang jelas ia tidak merasakan kantuk sama sekali saat itu.

Dalam waktu satu hari, lirik itu jadi dibuatnya dan diserahkan ke Arifin, yang akan mengaransemen lagu itu. Membaca larik itu, Arifin mengaku kesulitan untuk menemukan musik yang tepat untuk lagu tersebut.

Sambil meminta maaf kepada Kevin karena lirik itu tidak dapat dipakai, Arifin pun berencana tidak menggunakan lirik itu dalam album mereka. Tapi, entah kenapa ia tiba-tiba mendapatkan ilham dan menemukan musik yang tepat untuk lirik tersebut. "Terus terang saya juga tidak paham, saya seperti mendengarkan sesuatu dan di kepala saya seperti terisi oleh musik yang tepat untuk lirik itu," kata Arifin.

Banyak hal-hal yang tidak terduga yang terjadi saat proses pembuatan album itu dilakukan oleh para penghuni Rutan Salemba itu. Bahkan, para tahanan dan narapidana yang masih tinggal di dalam Rutan Salemba, harus lima kali berganti-ganti studio untuk merekam suara mereka, karena menyesuaikan dengan jadwal mereka untuk keluar dari Rutan Salemba.

Usul untuk membuat album itu berawal ketika Didit Wijayanto Wijaya, seorang narapidana dalam perkara penipuan, membaca ayat Alkitab di dalam Mazmur 98 ayat 1 untuk senantiasa menaikkan nyanyian baru bagi Tuhan. Apalagi, penghuni Rutan Salemba yang beragama Kristen banyak yang tekun beribadah di gereja di dalam Rutan Salemba itu. Di antara para tahanan dan narapidana itu pun banyak yang memiliki potensi bermain musik dan menyanyi.

Ajakan untuk membuat album pada bulan Agustus 2003 itu pun, membuat para tahanan dan narapidana bersemangat untuk menciptakan lirik-lirik yang sebagian besar merupakan kondisi yang mereka alami dalam kehidupan mereka.

Bagi Arifin atau pun Kevin, dan penghuni Rutan Salemba lainnya, berada di dalam tahanan membuat orang tersadar akan kekuasaan Tuhan. Dalam hari-hari hukuman yang harus mereka jalani, terpisah dari keluarga dan dunia luar, itu lah yang menjadikan mereka tegar dan pasrah kepada Tuhan. "Mungkin dengan kesaksian yang ada dalam hidup saya, bisa menjadi berkat bagi orang-orang," ujar Kevin terbata. "Saya percaya Tuhan Yesus ada di dalam kehidupan saya," ujarnya.

Walau pun kerabat tidak mengunjunginya, bagi Kevin dan mungkin bagi penghuni Rutan Salemba lainnya yang merayakan natal namun tidak dikunjungi keluarganya, tidak menjadi penghalang untuk merasakan nikmat natal yang diberikan oleh Kristus.

Sumber: www.glorianet.org

Mengasihi Hingga Sakit, Memberi Hingga Tak Tersisa

Penulis : Lesminingtyas

Beberapa minggu yang lalu hidup saya dibuat pontang-panting oleh Uwa; pembantu yang mengasuh si bungsu Mika. Nenek tua itu kembali sakit. Saya pun membawa Uwa ke dokter praktek yang berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah. Menurut dokter, tekanan darah Uwa cukup tinggi, yaitu 180/110. Namun saya cukup tenang karena dokter berjanji akan memberikan obat penurun tekanan darah.

Sehari setelah berobat ke dokter, kondisi Uwa justru semakin memburuk. Sorenya, sepulang saya dari kantor, Uwa mengeluh pusing. Saya pun segera memapahnya untuk kembali ke dokter. Belum juga keluar pintu rumah, hidung Uwa mengeluarkan darah segar. Saya pun tetap memapah Uwa menuju tempat praktek dokter. Walaupun tempat praktek dokter tidak terlalu jauh, namun badan Uwa yang lebih tinggi dan lebih besar yang menyandar tak seimbang ke badan saya, membuat langkah kaki saya terseok-seok. "Ternyata memang sangat berat jika ´pasak´ lebih besar dari pada tiang" pikir saya dalam hati. Sebagian berat badan Uwa yang ditimpakan ke pundak kiri saya, membuat tangan kiri serasa lumpuh. Sampai-sampai pundak dan dada kiri saya dibanjiri darah segar pun, saya tidak merasakan apa-apa lagi. Hanya bau anyir yang menyengat yang membuat saya tidak nyaman. Sebenarnya saya sangat jijik dengan darah, tetapi malam itu tidak ada pilihan lain.

Saya mulai cemas ketika ruang praktek dokter itu gelap gulita. Dari papan nama dokter saya tahu bahwa praktek tersebut baru dibuka jam 20.00. Melihat darah yang mengucur deras dan kondisi badan Uwa yang sangat lemah, saya tidak yakin Uwa bisa bertahan kalau harus menunggu 2 jam lagi. Dengan tertatih-tatih, saya memapah Uwa kembali ke rumah dan mendudukkannya di kursi teras.

Untuk memberikan pertolongan pertama, saya mencoba menundukkan kepala Uwa dan menyiramnya dengan air kran. Seperti biasa, Uwa marah-marah karena kedinginan. Saya pun mencoba dengan cara lain. Pontang-panting, saya berlari ke sana ke mari bak orang kesurupan untuk mencari daun sirih. Sayang sekali tak seorang tetanggapun yang menanam sirih. Tidak ada cara lain, kecuali membawa Uwa ke klinik. Namun untuk meminta bantuan tetangga rasanya tidak mungkin karena semua warga sedang menjalankan sholat maghrib.

Karena darah Uwa terus membanjiri teras, tidak ada pilihan lain selain lari ke perempatan jalan untuk memanggil ojek. Saya mencarter 2 ojek untuk membawa Uwa ke klinik 24 jam. Karena darah Uwa masih terus mengalir, tukang ojek meminta kain untuk menutup hidung Uwa. Tanpa pikir panjang, Dika langsung memberikan sarung kesayangannya.

Karena klinik 24 jam hanya berjarak kurang lebih 2 km, saya tidak menitipkan anak-anak kepada tetangga. Saya pikir Dika sudah cukup besar untuk menjaga adiknya barang 15-30 menit. Saya hanya berpesan kepada Dika untuk menemani adiknya dengan tenang selama saya pergi. Saya berjanji kepada anak-anak untuk segera pulang sambil membawa lauk untuk makan malam. Dokter di klinik 24 jam itu sangat sigap. Dalam hitungan detik, sarung tangan telah membalut kedua tangannya. Dokter itu siap memasukkan tampon ke lubang hidung Uwa. Wajah dokter itu mulai tegang ketika satu tampon yang dimasukkannya langsung terdorong keluar oleh derasnya darah dari hidung Uwa. Dua tampon dicoba dimasukkan ke satu lubang hidung Uwa sekaligus, tapi masih mental juga. Tidak sampai 5 menit memberikan pertolongan, dokter itupun menyerah dan meminta saya untuk segera membawa Uwa ke rumah sakit besar.

Saya bingung sekaligus panik karena tidak ada satu orang dewasa pun di rumah yang menjaga anak-anak. Saya juga bingung dan merasa tidak mampu untuk membawa Uwa sendirian ke rumah sakit. Karena tukang ojek yang saya carter masih ada di situ, saya pun meminta salah satunya untuk menemani saya ke rumah sakit besar. Saya dan dokter memapah Uwa ke pinggir jalan, sementara tukang ojek mencari angkot untuk dicarter ke rumah sakit. Karena saya tidak enak hati mengotori baju dokter saya menyangga seluruh berat badan Uwa yang sudah mulai lemas itu dengan bahu saya. Darah Uwa pun mulai mengalir sampai ke pakaian dalam saya. Jijik sekali rasanya.

Kira-kira 5 menit, tukang ojek itu kembali dengan angkot kosong yang siap mengantar kami ke rumah sakit. Dokter yang tidak mau saya bayar itu pun membantu saya mengangkat Uwa masuk ke dalam angkot.

Selama di perjalanan saya dan tukang ojek yang sebelumnya tidak saya kenal itu mengapit Uwa. Ketika sopir angkot menanyakan rumah sakit mana yang akan kami tuju, saya tidak segera menjawab. Sebaliknya, saya meminta pendapat sopir angkot dan tukang ojek untuk memilih rumah sakit. Sebenarnya rumah sakit langganan keluarga saya tidak terlalu jauh dari rumah, tetapi tarifnya tergolong mahal.

Sambil membiarkan keduanya berdiskusi, saya menelpon dan mengirim SMS ke semua kakak dan orang tua saya. Saya berharap mereka memberikan komitmen untuk membantu biaya, sehingga saya bisa memilih rumah sakit yang terdekat. Namun, hingga rumah sakit langganan saya terlewati, tidak ada seorang kakak pun yang menyatakan kesanggupanya untuk membantu pembiayaan Uwa.

Tangan kanan saya masih terus menyangga Uwa sedangkan tangan kiri sibuk mengirim SMS untuk mengabari anak-anak Uwa dan memintanya datang ke Bogor. Saya berharap setelah masuk rumah sakit, perawatan Uwa sudah menjadi tanggung jawab dokter dan anak-anaknya, sehingga saya tinggal memikirkan biayanya saja. Namun saya harus puas dengan jawaban anak-anak Uwa yang tidak bersedia datang dan menimpakan tanggung jawab seluruhnya kepada saya.

Saya berhenti memainkan ponsel ketika tukang ojek itu meminta saya memilih 2 alternatif rumah sakit pemerintah yang ditawarkannya. Rumah sakit pertama memang cukup murah, tetapi letaknya agak menjorok ke dalam sehingga untuk menengoknya saya harus berjalan kaki agak jauh. Supaya saya bisa menengok Uwa sepulang dari kantor, saya pun memilih rumah sakit kedua yang lebih mahal sedikit tetapi terletak persis di pinggir jalan. Walaupun saya sudah memutuskan rumah sakit yang akan kami tuju, tetapi perjalanan tidak bisa dipacu karena malam itu angkot masih memadati jalanan hingga kota kami layak disebut sebagai "kota angkot" . Saya mulai panik ketika nafas Uwa mulai tersendat-sendat. Saya kuatir kalau-kalau Uwa menghembuskan nafas di dalam angkot. Sambil tangan kiri menyangga kain sarung untuk menadahi darah Uwa yang terus mengalir, tangan kanan tetap menahan badan Uwa.

Rasa dan bau badan saya sudah tak karuan. Saya yang sore itu belum sempat mandi dan masih mengenakan baju kerja, benar-benar harus bermandi darah. Bau anyir dan rasa jijik mulai merata di sekujur tubuh saya. Melihat Uwa terkulai lemas, saya pun semakin panik. Jantung saya bergerak lima kali lebih cepat karena rasa takut yang amat sangat. Saya mencoba kembali mengambil ponsel dari saku celana saya yang sudah mulai basah oleh darah. "Pak, tolong cepat datang. Uwa kayaknya sudah nggak kuat !" saya menelpon bapak saya setengah merengek.

Ayah saya pun menjawab "Mintalah pertolongan Tuhan! Bapak akan segera berangkat ke Bogor" bapak mencoba menenangkan saya. Bapak yang tahu betul bahwa saya tidak tahan mengahadapi orang mati, tidak mungkin tega membiarkan saya menghadapi Uwa sendirian. Saya mencoba berdoa sambil berharap bapak akan datang secepatnya "Tuhan, sekiranya Engkau ingin memanggil Uwa, panggilah! Tapi kalau masih boleh menawar, tolong terlebih dulu kirimkan satu saja penolong untuk saya !"

Melihat kondisi Uwa yang terus melemah dan jalanan yang masih macet, berkali-kali saya berbisik di telinganya "Uwa, minta kekuatan dari Tuhan Yesus, ya!" Kalau Uwa diam saja, tak bosan-bosan saya membisikinya berulang-ulang hingga Uwa menganggukkan kepala sambil mulutnya lirih menyebut nama Tuhan Yesus.

Begitu angkot yang kami tumpangi masuk ke halaman RS, tukang ojek itu meminta saya mendaftar ke UGD. Saya pun mengiyakannya dan langsung meloncat ke luar dan berlari menuju bagian pendaftaran UGD. Tukang ojek bersama sopir angkot mengangkat Uwa masuk UGD.

Sementara Uwa ditangani dokter dan juru rawat di UGD, saya membayar sewa angkot dan meminta tukang ojek untuk tetap tinggal menemani saya. Satu hal yang ada dalam pikiran saya, kalaupun Uwa meninggal, masih ada tukang ojek yang menemani saya mengurus jenazahnya.

Dalam keadaan panik, saya sempat kena marah petugas administrasi karena waktu ditanya umur dan nama suami Uwa, saya tidak tahu. Dengan sok kuasa ia menakut-nakuti saya "Kalau tidak ada suaminya, kita tidak bisa menolongnya?" "Maaf Bu, sejak kecil saya tidak tahu siapa suaminya. Memangnya kenapa harus ditanyakan suaminya?" tanya saya tak mengerti. "Kalau tidak ada suaminya, siapa yang akan bertanggung jawab?" katanya ketus. "O..jadi yang dibutuhkan bukan suaminya, tapi orang yang bertanggung jawab khan? Kalau cuma itu, saya akan berusaha untuk bertanggung jawab" jawab saya merendah.

Mungkin karena melihat saya yang hanya mengenakan sandal jepit dan celana panjang yang kelupaan masih saya gulung mirip orang kebanjiran, petugas administrasi itu mulai meragukan saya. Terlebih badan dan pakaian saya yang tak layak dan menebar aroma tak sedap. "Nih lihat, harus mbayar segini ! Apakah Teteh sanggup?" tanyanya ragu. Petugas itu semakin ragu ketika melihat dompet yang sudah saya kuras hingga ke receh-recehnya, tetap belum memenuhi sejumlah uang yang diminta. Saya minta ijin keluar sebentar untuk meminjam uang kepada tukang ojek itu. Akhirnya saya pun bisa memenuhi uang yang diminta itu setelah tukang ojek bersedia menguras seluruh isi dompetnya.

Hati saya mulai lega ketika Uwa sudah ditangani dokter. Namun rasa lega itu mulai surut ketika dokter jaga yang super jutek itu memanggil saya dan bertanya. "Situ anaknya, ya?" Belum sempat saya menjawab, dokter itu kembali menunjukkan kejutekannya "Kenapa ibunya ditinggalkan sendiri? Jagain dong! Pegangin tuh tampon di hidungnya!" kata dokter itu sambil menyerahkan beberapa gulung tampon dengan kasar "Di sini banyak pasien sedangkan dokter cuma satu, jadi yang seperti ini harus dilakukan oleh keluarga pasien sendiri!" sambungnya ketus. "Apakah tidak ada cara lain untuk menghentikan pendarahannya, Dok?" tanya saya pelan. "Mau dengan cara apa? Menghentikan pendarahan orang yang sudah terlalu tua dan hipertensi seperti ini sangat sulit ! Tunggu saja sampai berhenti dengan sendirinya !" jawabnya tak ramah. "Berapa tensinya sekarang dok? Kemarin 180/110" saya ingin tahu. "Pembuluh darahnya pecah karena hipertensi. Sekarang tensinya 140/90" jawab dokter tanpa memalingkan wajah ke arah saya.

Walaupun sudah 1 jam di rumah sakit, hidung Uwa masih terus memancarkan darah. Karena posisi Uwa benar-benar telentang, darahnya mulai keluar dari mulut dan mengalir ke mana-mana. Sarung kesayangan Dika sudah tidak berwarna lagi, dan berubah menjadi hitam pekat oleh darah. Saya pun membuang sarung itu ke tong sampah. Karena sudah tidak ada lagi kain untuk mengelapnya, saya melepas baju hangat Uwa.

Setengah jam kemudian Uwa sadar. Pertama kali yang ditanyakan Uwa ketika sadar adalah baju hangat kesayangannya. Karena sudah basah kuyup dengan darah yang beraroma anyir, saya pun meminta injin Uwa untuk membuang menyusul sarung Dika di tong sampah. Dalam keadaan tidak berdaya, Uwa masih saja marah. Supaya tidak terdengar oleh pasien-pasien lain di UGD, saya pun berbisik "Sudah lah, besok saya belikan lagi baju hangat yang kayak gitu empat sekaligus!"

Walapun Uwa ngedumel nggak karuan, tangan kiri saya masih memegangi tampon, sementara tangan kanan terus mengelap darah Uwa yang "ngacai" dari mulutnya. "Tuhan, mengapa Engkau uji saya seberat ini?" keluh saya.

Ketika mata saya melirik, mendapati bahwa jam di ruang UGD telah menunjukkan pukul 22.00. Saya panik sekali memikirkan anak-anak saya yang belum makan dan berada di rumah tanpa pengawasan orang dewasa. Saya takut anak-anak menyalakan kompor sendiri untuk membuat makanan gara-gara kelaparan. Saya juga kuatir anak-anak lupa mengunci pintu dan jendela. Banyak sekali kekuatiran saya akan keadaan anak-anak di rumah. Terlebih angka kejahatan di Bogor cukup tinggi.

Saat juru rawat melintas di dekat saya, saya pun meminta bantuan untuk mengurus Uwa karena saya akan menelpon ke rumah. Saya segera lari ke luar. Sebelum menelpon anak-anak, saya berusaha meminta kesabaran tukang ojek untuk tetap menemani saya. Tukang ojek itu pun tampaknya mengerti kekalutan saya. Sambil membersihkan sisa-sisa darah yang mengering di baju, saya mencoba menelpon ke rumah. Lama sekali telepon tidak diangkat. Rasanya ingin sekali saya terbang ke rumah supaya tahu apa yang terjadi.

Kurang lebih satu menit telepon di rumah baru diangkat "Halo, ibu ya? Ibu kok nggak pulang-pulang ...cari duit sampai malam ya?!" tanya Mika yang merasa yakin kalau yang menelpon itu saya. Tanpa menjawab pertanyaan Mika, saya langsung memberi instruksi kepada Mika "Dik, tolong teleponnya kasih Mas Dika!" Dengan setengah cedal Mika menjawab "Mas Dika udah tidul" "Bangunkan Mas Dika, bilang ada telepon dari ibu!" perintah saya kepada Mika yang umurnya baru 3 tahun. "Ya,ya,ya.dadah ibu!" jawab Mika langsung menutup telepon.

Saya kembali mencoba menelpon berkali-kali, tapi tidak ada yang mengakat. Saya menduga Mika sedang berusaha membangunkan Dika yang memang agak susah dibangunkan. Kira-kira 3 menit saya mencoba melepon, akhirnya Dika pun mengangkat telepon. "Ibu kok lama sekali sih? Dika sama adik sudah kepalaran, tapi ibu nggak pulang-pulang. Tadi waktu ibu pergi adik nangis terus, sampai muntah. Dika repot banget nich ngurusin adik. Ibu sekarang di mana sih?" tanya Dika dengan nada kesal. "Dika, ibu masih di rumah sakit. Sekarang pintu dan jendelanya di.....(tit!)" belum sempat memberikan pesan, telepon saya mati karena baterainya habis.

Melihat saya mondar-mandir mencari telepon umum, tukang ojek itu meminjamkan ponselnya kepada saya. Begitu telepon tersambung, tanpa membuang waktu saya berpesan "Dika, makan seadanya dulu. Semua pintu dan jendela..(tit)!" ponsel si tukang ojek itu pun nasibnya sama dengan ponsel saya. Saat itu saya benar-benar tidak bisa menahan tangis. Saya benar-benar mengkuatirkan keadaan anak-anak di rumah. Saya ingin sekali untuk segera pulang ke rumah, tetapi dokter belum mengijinkan saya pergi.

Ketika saya masuk ke UGD lagi, darah Uwa sudah tidak terlalu deras. Juru rawat menyuntikkan beberapa macam obat melalui selang infuse. Uwa juga sudah bisa memegangi sendiri tampon di hidungnya. Beberapa menit kemudian saya dipanggil oleh kasir untuk membayar biaya tindakan dan obat-obatan. Karena saya tidak membawa uang tunai, saya meminta tukang ojek untuk menunggui Uwa, sementara saya mengambil uang di ATM.

Malam itu saya berjalan keluar dari komplek RS sambil menangis. Saya menangis untuk banyak hal. Selain mengkuatirkan keadaan anak-anak di rumah, juga mengkuatirkan keadaan Uwa di rumah sakit. Ditambah lagi, saya yang terbiasa mengelola gaji dengan perencanaan yang ketat, rasanya cukup dipusingkan dengan pengeluaran besar yang tidak ada dalam rencana ERT (Ekonomi Rumah Tangga) saya. Kalau saya mengambil uang gaji di ATM BNI, pasti kehidupan kami selama sebulan serta tagihan rumah, telepon, listrik, asuransi pendidikan dan tabungan kesehatan anak-anak pasti kacau balau. Kalau saya mengambil tabungan pendidikan di ATM Lippo, saya kuatir proses kelanjutan sekolah Dika ke SMP terganggu. Akhirnya malam itu saya putuskan menguras semua tabungan kesehatan anak-anak dari ATM BCA. Saya pun naik becak menembus gelapnya malam kota Bogor menuju ATM BCA yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari RS.

Setelah saya menyelesaikan pembayaran di kasir, juru rawat memanggil saya untuk mendatangani persetujuan rawat inap untuk Uwa. Karena juru rawat itu tahu kalau Uwa adalah pembantu saya, ia pun menyarankan saya untuk memilih kamar kelas 3 saja. Saya pun tidak mampu berpikir lagi kecuali mengiyakannya dan berbisik "Tolong ya Mas, usahakan semua urusan malam ini cepat selesai, karena saya harus segera pulang. Anak-anak saya yang masih kecil, sekarang ini di rumah sendirian". "Ibu telpon tetangga dulu untuk minta tolong mereka menjaga anak-anak ibu" juru rawat yang ramah itu menyarankan. "Boro-boro nelpon tetangga Mas, mau nelpon anak sendiri saja tidak bisa karena baterainya habis" jawab saya masih tegang.

Supaya cepat selesai, saya membantu juru rawat itu membawa berkas status pasien dan mendorong kereta dorong ke kamar perawatan di kelas 3, sementara juru rawat menarik kereta itu. Saya kaget ketika tiba-tiba juru rawat menarik kereta pasien masuk ke ruang isolasi. Saya pun deg-degan dan dengan reflek bertanya "Lho, lho,lho! Mas, memangnya penyakit ini menular, kok sampai harus diisolasi?" "Bukan karena menular Bu, tapi kalau pasien ini dicampur dengan pasien lain, dikuatirkan yang lain pada takut atau jijik" jawab juru rawat itu. "Tapi kan kasihan Mas, ibu ini sudah tua sekali dan tidak ada yang menjaga. Kalau nanti terjadi sesuatu dan tidak ada orang yang melihatnya, bagaimana?" tanya saya sambil meminta belas kasihan.

Uwa yang sudah dibaringkan di ruang isolasi kembali kami angkat ke kereta dorong untuk dipindahkan ke barak RPU supaya bisa sekamar bersama belasan pasien lain. Ketika Uwa sudah berada di barak pasien, saya pun berpamitan kepada juru rawat sambil menitipkan Uwa. Tiga juru rawat yang bertugas malam itu dengan kompak memarahi saya. Saya pun berusaha merendah dan memohon pengertian para perawat itu. "Maaf Suster, saya tidak mungkin menungguinya di rumah sakit. Saya juga butuh ganti baju dan mengambilkan baju ganti untuk pasien!" saya memberikan alasan. "Gila ! Ibu ini nggak punya otak, kali ya? Masak tega meninggalkan ibunya yang sudah berumur 67 tahun sendirian di rumah sakit" kata salah satu juru rawat.

Sebenarnya saya ingin menjawab "Justru karena saya punya otak, saya harus pulang untuk mengurus anak-anak saya" Namun karena saya tidak ingin berdebat, sayapun menjawab dengan halus "Maaf Suster, saat ini anak-anak saya di rumah tidak ada yang menjaga. Saya meninggalkan anak yang berumur 3 tahun hanya bersama kakaknya yang masih kecil juga! Tolonglah Bu, mohon pengertiannya. Saya akan bertanggung jawab semua biaya pengobatan untuk pasien, tapi saya tidak mungkin ditahan disini. Besok pagi sebelum saya berangkat kerja, saya akan ke sini mengatar baju ganti untuk pasien"

"Memangnya suami ibu kemana? Ibu nggak punya suami ya?" tanya seorang perawat ketus. Ingin sekali saya menjawab "It is not your business!". Namun belum sempat saya menjawab, seorang perawat dengan sinis berkata "Kalau ibu nggak mau mengurus sendiri, sebaiknya pindahkan pasien ke ruang VVIP yang mahal, jangan cuma di kelas 3 yang murah-murah seperti ini dong!"

Sedetik kemudian perawat dari UGD itu mengedip-ngedipkan matanya memberi isyarat kepada saya. Saya menterjemahkan isyarat tersebut dengan "uang". Tanpa menunggu lagi, saya pun menarik beberapa lembar uang lima puluh ribuan dari dompet. Juru rawat UGD itupun menganggukkan kepala tanda setuju. Tanpa banyak bicara, saya pun meletakkan beberapa lembar uang itu di meja yang ada di depan ketiga perawat yang beramai-ramai "mengadili saya".

"Ibu, bukan kami tidak mau mengurus pasien Bu, tapi kalau tidak ada keluarga yang menunggu, siapa yang harus bertanggung jawab kalau pasien meninggal?" kata seorang perawat yang mulai lembut. "Ya, kalau memang Tuhan menghendaki pasien itu meninggal, kita mau apa lagi?" jawab saya pelan. "Benar nich, kalau ada apa-apa sehingga pasien meninggal, Ibu tidak menyalahkan atau menuntut kami?" tanya perawat yang lain tak kalah lembutnya. "Kalau Tuhan yang memanggil, kenapa saya harus protes?!" jawab saya pelan "Malam ini saya mohon bantuan Suster di sini, karena saya harus pulang. Besok pagi saya akan ke sini membawakan baju-baju yang bersih untuk pasien. Kalau malam ini ada apa-apa atau butuh sesuatu, Suster bisa menelpon saya kapan saja" saya menjamin. "Jadi, kalau nanti kami telpon malam-malam, ibu tetap besedia datang ke mari khan?!" tanya perawat lainnya dengan sopan. "Saya janji Suster! Paling tidak, kalau saya sudah sampai di rumah, saya bisa menitipkan anak-anak dulu ke tetangga" jawab saya pelan.

Sebelum saya meninggalkan RS, suster di kamar perawatan meminta saya untuk menebus obat yang harganya hampir satu juta rupiah. Saya pun kembali mengeluarkan uang lebih dari yang seharusnya dan menyerahkan kepada perawat yang mau membantu saya membelikan obat untuk Uwa di apotik. Saya melakukan hal itu karena bagi saya waktu sangat penting untuk segera tahu keadaan anak-anak.

Akhirnya jam 22.30 saya bisa meninggalkan rumah sakit. Saya pun bersama tukang ojek segera naik angkot menuju klinik 24 jam dimana motor milik tukang ojek itu dititipkan. Dari klinik 24 jam itu saya diantar ke rumah oleh tukang ojek.

Betapa kagetnya saya ketika saya mendapati pintu pagar dan pintu rumah terbuka lebar. Saya minta tolong tukang ojek untuk menemani saya sampai di teras. Jantung saya berdebar-debar ketika tak satupun anak saya yang menyahut panggilan saya. Saya hampir berteriak ketika mendapati Mika yang tertidur di karpet tak jauh dari muntahannya. Dika sendiri tertidur di lantai. Ketika saya yakin tidak terjadi sesuatu pada anak-anak saya, saya pun memberikan uang kepada tukang ojek sebagai ganti penghasilannya malam itu. Sambil memanasi air untuk mandi, saya mengelap muka dan kaki anak-anak dan memindahkan mereka ke kamar masing-masing. Melihat wajah anak-anak yang tidak berdaya, saya merasa sangat bersalah karena telah menelantarkan mereka. Saya pikir kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, saya tidak bisa mengampuni saya sendiri. Malam itu saya menangis, menyesali diri karena tidak bisa menjaga mereka dengan baik. Terlebih lagi ketika melihat sisa mie instant yang Dika rebus tidak sempurna dengan rantang, hati saya sangat miris membayangkan betapa mereka sangat kelaparan menunggu saya yang tidak segera pulang malam itu.

Ketika air sudah panas, saya pun membuka baju untuk mandi. Saya kaget sekali ternyata baju yang saya kenakan malam itu adalah baju putih terbaru yang saya beli dengan harga cukup mahal. Saya pun harus merelakan baju kesayangan yang baru dua kali saya pakai itu tidak seputih dulu lagi. Saya yang biasanya merawat dan mencuci baju kesayangan dengan tangan saya sendiri, mau tidak mau harus merelakan baju tersebut di cuci oleh pembantu/tukang cuci karena saya tidak tahan dengan bau anyir yang menyengat.

Sampai tengah malam saya tidak bisa tidur. Di satu sisi saya masih terus merasa bersalah karena telah menelantarkan anak-anak. Di sisi lain saya juga menyesal karena saya merasa tidak bisa memperlakukan Uwa dengan kasih. Saya sangat menyesal karena selama menyangga tubuh Uwa di angkot, hati saya tidak merelakan 100% Uwa bersandar di dada saya. Selama di angkot saya masih merasa jijik dan bersikap seperti robot yang harus menjalankan tugas kemanusiaan. Apa yang saya lakukan terhadap Uwa sesungguhnya bukan kasih yang keluar dari hati yang paling dalam. Saya hanya memperlalukan Uwa masih sebatas memperlakukannya sebagai pembantu, bukan selayaknya saya melayani Tuhan.

Saya menangis karena kuatir kalau-kalau Uwa meninggal dan saya belum sempat menebus kesalahan dengan memperlakukannya seperti yang Tuhan Yesus kehendaki. Di tengah-tengah kegalauan hati saya, tiba-tiba telepon berdering. Badan saya lemas sekali. Sebelum sampai di meja telepon, saya terjatuh. Tangis saya kontan meledak "Tuhan Yesus, tolong saya ! Jangan panggil Uwa sekarang karena saya belum memperlakukannya seperti yang Engkau kehendaki !" teriak saya yang yakin bahwa telepon itu dari RS.

"Hallo" kata saya sambil menangis. "Jangan nangis, besok pagi bapak berangkat ke Bogor. Tolong kamu cari orang yang bisa dibayar untuk mengurus Uwa karena tidak ada satu pun anaknya yang mau mengurus Uwa" kata bapak saya. "Iya, ya, ya ! Bapak cepat ke sini ya, anak-anak terlantar nich" kata saya gugup karena saking takutnya

Semalaman saya tidak bisa tidur karena bingung membagi waktu untuk esok paginya. Saya juga bingung karena esoknya saya harus menyelesaikan bahan presentasi yang akan dibawa boss ke luar negeri. Saya juga bingung bagaimana harus menjaga Mika sampai pembantu yang satunya datang jam 12.00, sedangkan Uwa memerlukan baju bersih dan selimut secepatnya. Malam itu saya benar-benar kalut dan menangis di depan komputer sambil curhat dan minta dukungan doa dari beberapa teman milis. Sebelum mematikan komputer, saya pun berdoa "Tuhan Yesus, ampuni kesalahan saya hari ini. Saya tidak tahu berapa lama lagi Engkau uji saya, tapi saya percaya Engkau sendiri yang akan memampukan saya melewati ujian-unjian itu"

Kurang lebih jam 03.30 anak-anak saya bangunkan. Setelah mandi dengan air panas yang saya siapkan, Dika menyiapkan sendiri sarapan pagi dan bekal makanan yang akan di bawa ke sekolah. Saya sendiri menyiapkan saparan untuk Mika dan bekal makan siang saya untuk di kantor nanti. Setelah selesai memandikan Mika saya segera bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Uwa, sembari pergi ke kantor. Sebelum melangkah ke luar rumah, saya menelpon seorang tetangga yang akan menolong saya untuk menjaga Mika selama saya tinggal bekerja.

Pagi itu saya harus meninggalkan Mika dengan sarapannya. Walaupun saya tahu kalau Mika makan tanpa pengawasan selalu menggunakan tangan kirinya hingga makanan tumpah ke mana-mana mirip makanan ayam, tetapi tidak ada pilihan lain, karena saya tidak mungkin mengambil cuti dadakan. Hanya Dika yang masih bisa menemani Mika sambil menunggu mobil jemputan sekolahnya datang pada pukul 06.00 nanti. Sebenarnya saya dan para tetangga sudah berusaha merayu Mika untuk tinggal di rumah tetangga selama Dika sekolah, tetapi Mika selalu menjawab "Mika nggak mau..Mika sudah punya rumah sendiri". Itulah sebabnya beberapa tetangga bersepakat untuk menemani Mika di rumah secara bergiliran.

Jam 04.30 saya cepat-cepat pergi ke rumah sakit, supaya jam 05.30 saya bisa sampai di tempat pemberhentian bis jemputan langganan saya. Sayang sekali begitu sampai di rumah sakit banyak sekali tugas kemanusiaan yang harus saya lakukan. Selain mengganti baju Uwa yang kotor penuh darah yang sudah mengering, saya juga harus mengelap badan Uwa dengan air hangat yang disediakan oleh RS. Jijik sekali rasanya. Selain saya tak pernah membayangkan akan memandikan seorang pembantu, saya juga tidak siap menggunakan peralatan rumah sakit yang biasa dipakai beramai-ramai itu.

Hati saya sungguh tidak siap melihat sikap Uwa yang semakin sulit dimengerti. Rasanya sudah sewajarnya kalau Uwa berterima kasih setelah saya menelantarkan anak-anak demi mengurus Uwa. Saya sungguh tidak menyangka ketika Uwa marah-marah di depan belasan pasien yang lain ketika saya kurang tepat meletakkan pispot sehingga kencing Uwa sedikit tercecer. Walaupun perut saya sangat mual saat membuang kencing Uwa ke kamar mandi, namun Uwa masih saja menuntut lebih.

Karena Uwa sudah bisa saya dudukkan, saya mencoba melepas stagen dan kain panjang yang dikenakannya. Ketika saya salah melilitkan kain panjang ke tubuh Uwa, dengan arah terbaik dari yang seharusnya, Uwa kembali memarahi saya. Bahkan ketika saya jongkok membetulkan kain di bagian kaki Uwa, Uwa menggerakkan kakinya dengan kasar hampir mengenai muka saya. Hampir saja kesabaran saya habis. Ujung bibir saya hampir tak mampu menahan kalimat yang rasanya pantas untuk saya lontarkan "Emang lu siapa?"

Ingin rasanya saya mengembalikan Uwa pada posisi yang seharusnya, yaitu sebagai pembantu. Namun, lagi-lagi saya teringat bahwa ini adalah ujian dari Tuhan. Segala sesuatu Tuhan ijinkan terjadi pada diri saya, demi kebaikan saya sendiri. Hampir saja mengingatkan bahwa Uwa adalah pembantu dan saya adalah majikan yang harus dihormatinya sehingga tidak ada kewajiban bagi saya untuk mengabdi kepadanya. Namun ketika kesombongan itu muncul, tiba-tiba saya merinding membayangkan jika saya tidak sepenuh hati melayani Uwa, jangan-jangan wajah Uwa tiba-tiba berubah menjadi wajah Tuhan Yesus.

Karena terlalu banyak permintaan Uwa, pagi itu saya tidak bisa cepat-cepat meninggalkan RS. Saya pun harus pergi ke kantor dengan kendaraan umum karena sudah ketinggalan bis jemputan. Sudah bisa diduga, kartu absent saya hari itu merah. Tidak main-main, karena 1 menit keterlambatan berarti bonus akhir tahun dipotong sepersekian pesennya.

Selama di kantor, saya tidak tahu lagi apakah saya ini tidur sambil duduk atau duduk sambil tidur. Terpaksa saya harus doping dengan multivitamin dan kopi susu supaya mata bisa diajak melek. Saya sengaja menyelesaikan bahan presentasi yang akan dibawa boss ke luar negeri, supaya waktu selebihnya bisa saya gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kesekretarisan yang agak ringan.

Rasanya makan siang hari itu tidak lagi bisa saya nikmati. Targetnya hanya memasukkan makanan ke dalam perut. Saking ngantuknya, waktu istirahat makan siang yang hanya 30 menit itu saya gunakan 10 menit untuk makan siang dan selebihnya saya pakai untuk tidur di sofa.

Sepulang kerja, sebenarnya saya ingin mampir ke RS seperti yang Uwa minta. Tapi perasaan saya tidak enak karena ingin segera melihat keadaan anak-anak di rumah. Begitu sampai di rumah, saya baru sadar bahwa paginya saya terlalu buru-buru pergi hingga lupa menyiapkan makanan siang untuk anak-anak. Untung saja tetangga yang menemani Mika berinisiatif memasakkan nasi dan menggoreng telor untuk anak-anak.

Malam itu saya tidak punya energi lagi untuk menyiapkan makan malam. Seperti biasanya kalau lagi malas masak, saya meminta Dika membeli japcay di depot mie bangka. Ketika saya menunggui anak-anak makan, saya tertidur di meja makan saking lelahnya. Rencana menjenguk Uwa ke RS malam itu pun batal. Resikonya, saat saya menjenguk ke RS nanti Uwa pasti tak henti-hentikan "menyanyikan" lagu wajib yang semuanya berisi kekecewaan dan kemarahan. Tapi apa hendak dikata, untuk mengontrol anak-anak cuci kaki dan gosok gigi saja, malam itu saya sudah tak sanggup.

Esok paginya, seperti biasa saya membuatkan sarapan untuk anak-anak. Untuk makan siang, saya hanya menyiapkan nasi putih karena saya yakin bapak datang dari kampung membawakan lauk buatan ibu seperti biasanya. Namun karena bapak pergi terburu-buru, dugaan saya kali itu meleset. Bapak yang tidak pernah menuntut dilayani itupun mengajak Dika memasak dari bahan-bahan mentah yang ada di kulkas.

Sore itu saya berencana pergi ke RS setelah mengurus anak-anak dan menyambut kedatangan bapak. Begitu selesai memandikan Mika, saya dan anak-anak menemani bapak minum teh di ruang tamu. Anak-anak saya biarkan "gelendotan" di badan mbah kakungnya, sementara saya merebahkan badan di sofa sambil mendengar kabar keluarga dan suasana di kampung dari bapak. Entah sampai mana saya mendengar cerita bapak, tapi tertidur pulas saat mendengar kisah seru yang bapak ceritakan, memang sudah biasa terjadi sejak saya kecil dulu. Bapak yang tahu kebiasaan buruk saya, memang sudah maklum. Terlebih lagi sore itu saya benar-benar lelah.

Kira-kira jam 20.30 saya dibangunkan Dika karena ada telepon dari RS. Masih setengah tertidur saya menggapai gagang telepon. Saya benar-benar kaget ketika perawat yang menelpon itu meminta saya untuk datang ke RS malam itu juga. "Ada apa suster? Memangnya pasien dalam keadaan gawat?" tanya saya panik. "Bukan Bu! Malam ini pasien memerlukan obat suntik yang harus ibu beli sendiri di apotik" jawab si penelpon. "Apakah tidak bisa dibelikan dulu oleh rumah sakit, terus nanti dimasukkan ke dalam tagihan" saya menawar. "Maaf Bu, untuk pasien kelas 3 tidak ada pelayanan semacam itu. Kalau keluarga Ibu dirawat di VVIP, kami bisa membantu. Untuk pasien kelas 3, keluarga pasien harus membeli obat sendiri" jawab si penelpon kurang bersahabat. "Bagaimana kalau misalnya saya datang besok pagi?" saya masih menawar. "Maaf Bu, ini emergency. Dokter minta obat tersebut harus segera disuntikkan karena kondisi pasien sangat lemah dan HBnya tinggal 6 saja" kata si penelpon dengan nada memerintah. "Kalau begitu, bisa nggak obat tersebut cepat dibelikan dulu dan malam ini juga saya akan datang membayar semua harga obat" saya memohon kebijaksanaan. "Maaf Bu, obatnya sangat mahal dan ibu harus membeli sendiri di apotik. Kami tidak bisa membantu" jawabnya singkat.

Begitu menutup telepon, badan saya rasanya makin loyo saja. Walaupun perjalanan ke RS cuma kira-kira 30 menit, rasanya saya menghadapi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sambil terdiam menahan segala rasa yang berkecamuk, saya mengambil jaket water proof di lemari gantung. Saya memang biasa mengenakan jaket tersebut sebagai pengganti payung supaya saya bisa bergerak lebih cepat dan lincah walaupun dalam keadaan hujan.

Ketika saya melewati teras di mana anak-anak dan mbah kakungnya sedang makan mie tek-tek, hati saya rasanya kelu sekali. Rasanya saya sudah terlalu banyak mengabaikan mereka hanya untuk mengurus Uwa di RS. Wajah saya yang lelah menahan tangis terbaca oleh bapak. "Lakukan segala sesuatu dengan suka cita. Kalau memang masih lelah, duduk-duduk sebentar sambil makan mie panas biar agak rileks" bapak berusaha menghibur. Saya hanya menggeleng.

Saya sudah berusaha menutupi kesesakan hati saya, tetapi akhirnya toh tidak berhasil menahan air mata. "Nggak usah nangis! Semua ini ujian dari Tuhan dan kamu harus setia menerima dan menjalaninya" bapak menasehati. "Apakah ujian-ujian yang selama ini belum cukup?" tanya saya lirih sambil menangis. "Belum! Masih banyak yang harus kamu pelajari dalam hidup ini" jawab bapak. "Dari semua anak bapak, tidak ada yang diuji Tuhan seberat saya. Saya ingat sekali, dulu waktu saya TK, saya tidak bisa bermain sebebas kakak-kakak yang lain. Waktu itu justru saya yang paling bontot yang harus melayani ibu buang air di pispot selama ibu sakit" kata saya sambil terisak, mengingat masa lalu di mana saya harus drop out dari TK.

"Dulu semua kakakmu kan sudah bersekolah, jadi cuma kamu yang masih TK yang bisa membolos" bapak meminta pengertian. "Tapi, waktu lulus SMA dulu saya juga dikorbankan tidak bisa ikut bimbingan tes dan seleksi UNPTN karena harus merawat Pak Dhe. Kakak-kakak yang lebih disayang Pak Dhe saat sehat, justru bisa cuek" saya mencoba mengingat betapa berat ujian yang saya alami. "Itulah ujian dari Tuhan, supaya kamu bisa belajar melayani orang yang sehari-harinya tidak menyayangimu" bapak terus berusaha menghibur. "Sekarang ini saya benar-benar ibarat sudah jatuh tertimpa tangga juga. Badan saya rasanya sudah remuk, anak-anak tidak terurus, masih juga harus mengurus Uwa yang nggak tahu diri. Kakak yang dulu selalu disayang Uwa, tidak ada perhatian sama sekali. Semua masalah sekarang ditimpakan pada saya " saya memuntahkan kelelahan batin saya. "Kamu nggak boleh bicara seperti itu, pandanglah semua itu sebagai ujian dari Tuhan untuk mengajar kamu supaya menjadi pribadi pengampun yang tegar dan tangguh. Karena kamu sudah melewati ujian-ujian yang belum pernah kakak-kakakmu alami, bapak justru merasa tenang dan lebih siap meninggalkan kamu kalau bapak dipanggil Tuhan nantinya. Kalau bapak meninggal, rasanya bapak tidak ragu lagi meninggalkan kamu yang lebih tangguh dari kakak-kakakmu. Nah, kamu seharusnya mensyukuri ujian-ujian berat itu sebagai berkat Tuhan" bapak berusaha membesarkan hati saya.

Setelah sedikit lega, saya menitipkan anak-anak pada bapak. Tak menunggu waktu lagi, saya bergegas ke rumah sakit. Malam itu saya menembus gelapnya malam yang diselimuti gerimis dank abut tipis.

Sesampainya di RS saya langsung menuju ke ruang perawat untuk mengambil resep yang ditinggalkan dokter. Tak menunggu lama, begitu kertas resep itu di tangan, saya melangkah secepat kilat menuju apotik yang berjarak kurang lebih 100 meter dari kamar perawatan. Saya duduk di kursi tunggu sambil melepas kepenatan yang hampir tak berujung. Saya kaget setengah mati ketika petugas apotik menyebutkan sejumlah rupiah yang harus saya bayar. Jantung saya hampir copot karena malam itu saya harus kembali menguras habis seluruh isi dompet saya.

Sebenarnya begitu obat sudah ditebus, saya ingin sekali segera meninggalkan lingkungan yang memuakkan itu. Saya benar-benar malas menengok Uwa. Tapi apa daya, saya tidak punya ongkos untuk pulang ke rumah. Tidak ada pilihan lain selain menjenguk Uwa di kamar perawatan sekaligus meminjam uang untuk ongkos pulang. Saya tahu persis Uwa pasti punya simpanan uang di stagennya.

Sudah bisa diduga, saya kembali kena damprat Uwa, gara-gara datang terlalu malam. Omelan Uwa kali ini cukup keras hingga didengar oleh semua pasien di barak itu. Dengan gaya memerintah, Uwa menyuruh saya mengambil pispot dan melayaninya untuk buang air kecil. Dengan gaya "setengah budek" saya melayani Uwa tanpa berucap sedikitpun. "Kalau saja ada kenalan di sekitar rumah sakit, malam ini saya nggak perlu meminjam uang Uwa dan kena semprot gaya majikan tuwa itu" pikir saya dalam hati.

Saya tidak tahu apa yang diceritakan Uwa kepada sesama pasien dan orang-orang yang menunggu di bangsal itu. Namun, kepergian saya malam itu diiringi dengan tatapan sinis dan komentar tak mengenakkan. Seorang ibu jutek dengan logat Sundanya yang kental menyindir saya sebagai anak durhaka yang tidak memperlakukan orang tuanya dengan baik. Walaupun sedikit gondok, saya masih berusaha melangkah dengan kepala tegak. "Ya, justru karena saya bukan anak durhaka, malam ini saya harus pulang untuk mengurus orang tua saya sendiri, yang sejak kedatangannya jauh-jauh dari kampung tidak saya sambut sebagaimana mestinya" kata saya dalam hati.

Hari-hari berikutnya, saya hampir seperti robot yang harus bangun jam 03.30 untuk menyiapkan sarapan anak-anak dan air panas untuk mandi. Sebelum berangkat ke kantor, saya harus ke RS untuk melayani Uwa buang air kecil dengan pispot, memandikan dengan waslap dan mengganti pakaiannya. Walaupun saya sudah berusaha melakukan melebihi dari yang seharusnya, tetapi Uwa selalu membalasnya dengan kemarahan dan ketidakpuasannya. Belasan pasang mata juga ikut mengadili saya sebagai anak yang tidak tahu diri. Cemoohan dan sindiran dari orang-orang yang sok tahu, rasanya sudah terlalu biasa di telinga saya.

Begitu juga sore harinya sekembalinya dari kantor, saya langsung ke RS, sementara bapak yang berumur 70 tahun lebih, yang seharusnya saya urus justru sibuk mengurus anak-anak saya. Hati saya sebenarnya berontak. Ya, saya berontak untuk banyak hal. Paling tidak saya berontak karena tidak bisa memperlakukan bapak dengan selayaknya. Saya juga berontak karena semua pengorbanan saya hanya dibalas dengan kekecewaan dan kemarahan Uwa di depan umum.

Rasanya, saya tidakkuat lagi menghadapi sikap Uwa yang arogan itu. Sekali pernah terlintas dalam pikiran saya untuk membiarkan Uwa terlantar di RS, toh dia bukan "siapa-siapa" saya. Namun, setiap benih kebencian itu muncul di hati saya, bayang-bayang wajah Tuhan Yesus selalu muncul di wajah Uwa. Akhirnya, apapun yang terjadi, bagaimanapun perlakukan Uwa dan sikap orang-orang di bangsal itu, saya coba abaikan. Saya selalu men-setting otak saya dengan berikir "Sebodo teuing orang mau bikin apa, yang penting gua melakukan yang Tuhan kehendaki. Biar saja orang jungkir balik, tapi saya mau tetap setia pada Matius 25 : 40"

Memang perlu persiapan khusus setiap pagi dan sore saat hendak menjenguk Uwa di RS. Paling tidak saya harus menyiapkan hati, "menelan pil budek" dan menyiapkan muka hingga setebal tembok. Kadang-kadang saya melucu dalam hati untuk menghibur diri sendiri. Ketika seorang penunggu pasien di sebelah Uwa melepas kepergian saya dengan sindiran sinis "Uh, cantik-cantik kok nggak punya perasaan! Kok tega-teganya menelantarkan orang tuanya sendirian" Saya pun berkelakar dalam hati "Masih mending saya cantik biarpun nggak punya perasaan. Dari pada kamu, udah nggak cantik, nggak punya perasaan pula! Karena saya nggak tega menelantarkan orang tua saya sendiri, makanya saya nggak mungkin menunggui emaknya orang lain di rumah sakit"

Entah malam yang keberapa ketika seorang perawat menyodorkan selembar resep lagi yang harus saya tebus di apotik. Lagi-lagi saya bingung harus mengambil uang dari pos mana. Tabungan kesehatan anak-anak sudah ludes untuk membayar obat-obatan yang sebelumnya. Mau tidak mau saya meminjam dulu seperempat tabungan pendidikan yang saya siapkan untuk biaya Dika masuk SMP. Saya berharap kakak-kakak saya bisa membantu biaya pengobatan Uwa sehingga tabungan pendidikan Dika tidak terganggu.

Setelah mengambil sebagian dari persediaan biaya kelanjutan sekolah Dika, saya minta pendapat bapak. Bapak pun menyarankan saya menghubungi keempat kakak saya yang pernah diasuh oleh Uwa. Malam itu saya mengirim SMS kepada semua kakak saya untuk mengajak mereka memikirkan biaya pengobatan Uwa. Sayang sekali, hanya kakak keempat yang membalas SMS dan mengatakan bahwa kondisi keungannya tidak memungkinkan. Saya pun maklum karena keadaan ekonomi kakak keempat memang tidak lebih baik dari saya.

Ketika ketiga kakak yang cukup berlebih dalam hal ekonomi tidak membalas SMS, saya pun mencoba cara yang lebih sopan dengan menelponnya. Sayang sekali, puluhan ribu pulsa terbuang percuma karena kakak pertama merasa uangnya belum cukup untuk menambah satu mobil lagi untuk memenuhi garasinya. Saya dan bapak hanya geleng-geleng kepala melihat kakak pertama yang masih saja membeli mobil baru, padahal mobil yang telah ada melebihi jumlah anggota keluarganya.

Saya mencoba meminta belas kasihan kakak kedua yang sejak kecil selalu dimanja dan dinomorsatukan oleh Uwa. Kakak kedua yang baru mendapat fee puluhan juta dari kliennya ternyata juga masih merasa kekurangan uang karena harus membayar sejumlah kapling untuk melengkapi 3 rumah yang telah dikoleksinya.

Dengan menangis saya mencoba mengemis belas kasihan kakak ketiga yang suaminya punya jabatan di polantas yang hampir bisa dikatakan tinggal membalikkan tangan untuk mendapat uang dalam jumlah yang cukup. Kakak ketiga yang punya hobby mengkoleksi perhiasan itupun tidak peduli dengan Uwa. Dengan gaya pengemis yang memelas saya mencoba meyakinkan kakak bahwa bantuannya sangat berarti untuk saya dan anak-anak, bukan untuk Uwa. Walaupun urat malu saya telah putus, demi mendapatkan bantuan kakak ketiga, namun kakak hanya menawarkan pinjaman dalam bentuk emas. Saya yang tidak tahu fluktuasi harga emas, tentunya sangat takut kalau-kalau nanti saat saya harus mengembalikan pinjaman, harga emas tiba-tiba melonjak naik.

Tak kurang akal, saya mencoba menelpon kembali kakak kedua yang sedang sibuk mencari kapling. Paling tidak saya ingin meminjam uangnya sebelum kakak menemukan kapling yang cocok. Sayang sekali malam itu kakak mengaku tidak punya otioritas sama sekali atas uang miliknya. Kakak menawarkan saya menempuh prosedur yang panjang dan berbelit-belit untuk meminjam uang lewat istrinya yang tak segan-segan berbicara pedas kepada iparnya.

Kakak kedua yang sering tinggal di rumah saya itupun memberi alternatif kepada saya untuk mengambil semua tabungan pendidikan Dika. Dengan perasaan yang sudah tak karu-karuan, saya hanya menjawab lirih. "Kalau semua tabungan Dika diambil, dengan uang apa lagi Dika masuk SMP? Ironis sekali kalau Dika sampai tidak bisa melanjutkan ke SMP hanya gara-gara saya menolong orang yang seharusnya kita tanggung bersama" Tanpa memperhitungkan perasaan saya sebagai ibu, kakak saya pun menawarkan jalan keluar yang membuat hati saya tercabik-cabik "Kalau tidak bisa membayar uang pangkal ke SMP, Dika bisa dititipkan di rumah bapak, biar disekolahkan di kampung" Mendengar saran kakak, tangis saya kontan meledak. "Masa sih, gara-gara menolong orang, anak-anak saya harus berpencar-pencar?!" tangis saya setengah memprotes.

Dika yang tidak tahu menahu pembicaraan saya dengan kakak, tiba-tiba mendatangi saya sambil bertanya "Bu, kenapa Dika dan adik-adik harus berpencar? Memangnya kalau ibu meminjam uang ke saudara, Dika dan adik-adik harus ditahan untuk jaminan?" Mendengar kata-kata Dika hati saya semakin teriris. "Tuhan, ujian apa lagi yang akan Engkau berikan? Apakah saya belum cukup merelakan apa yang saya miliki untuk menolong orang lain? Apakah kerelaan saya ini akan berbuah penderitaan untuk anak-anak saya? Apakah saya harus merelakan seluruh tabungan Dika, sementara saya tidak punya kepastian dari mana biaya masuk SMP untuk Dika? Tuhan, selama ini saya sudah mengekang nafsu saya hanya supaya bisa menabung untuk anak-anak. Haruskah kedisplinan saya untuk menabung justru hanya membuahkan hasil yang berantakan yang serba tidak teratur ini?"

Bapak yang tahu apa yang sedang saya tangisi, berusaha menguatkan hati saya "Ini adalah pelajaran dari Tuhan untuk menguji seberapa besar kerelaan kamu untuk berkorban" "Ini nggak adil, dari dulu saya selalu berkorban menolong orang lain. Apakah pengorbanan saya belum cukup? Apakah saya harus mengorbankan masa depan Dika hanya untuk menolong seorang pembantu?" saya memprotes sambil terisak. "Ini memang ujian yang berat. Tapi kalau kamu berhasil melewatinya, Tuhan sendiri yang akan menyiapkan masa depan kamu dan anak-anakmu" dengan gaya seorang majelis, bapak menasehati.

Walaupun otak saya blank malam itu, saya bertekad untuk menanggung semua biaya Uwa, tanpa harus mengemis belas kasihan kepada orang lain. Untuk biaya pendidikan Dika, saya pun bertekad untuk tidak meminta belas kasihan atau meminjam kepada sanak saudara. "Saya harus bisa sendiri dan hanya boleh mengandalkan Tuhan" begitu janji saya dalam hati.

Saya mencoba bersikap "legowo" menerima segala sesuatunya dengan suka cita dan rasa syukur supaya beban terasa lebih ringan. Namun tidak semudah membalikkan tangan. Ujian yang lebih berat masih Tuhan berikan kepada saya. Ketika Uwa sudah diperbolehkan pulang, saya hampir pinsan melihat tagihan yang jumlahnya mencapai 8 digit. Malam itu, saya tidak hanya menguras habis tabungan pendidikan Dika di Lippo, tetapi juga harus menguras uang gaji di BNI. Bukan hanya fisik saya yang harus mondar-mandir ke dua lokasi ATM, hati saya pun kacau balau tak menentu. Selain memikirkan biaya masuk SMP yang tinggal satu-dua bulan lagi, saya juga pusing memikirkan bagimana saya akan menyambung hidup sampai gajian bulan berikutnya tiba.

Namun entah mengapa, walaupun sisa uang di dompet kurang dari seratus ribu, saya bangga sekali bisa membayar lunas tagihan RS tanpa bantuan dari anak-anak kandung Uwa maupun keempat kakak kandung saya.

Dengan perasaan gagah bak pahlawan menang perang, saya menghampiri Uwa yang sudah bersiap-siap pulang. Semula saya pikir Uwa akan bangga dengan pengorbanan saya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Uwa kecewa karena kakak saya tidak bisa menjemput dengan mobilnya sehingga Uwa terpaksa saya ajak pulang dengan naik angkot. Sebelum meninggalkan bangsal, Uwa sempat marah-marah karena saya tidak membelikannya sandal. Saya sendiri tidak tahu kemana raibnya sandal yang dipakai Uwa dari rumah. Hilangnya sandal di bangsal itupun Uwa timpakan sebagai kesalahan saya.

Untuk menghindari tatapan mata para penunggu pasien yang tidak ramah, saya pun merelakan sandal saya untuk Uwa. Mau tidak mau, malam itu saya harus menahan jijik menapaki lorong RS yang tidak begitu bersih itu. Tidak tanggung-tanggung, ternyata halaman RS yang harus kami lalui sangat becek sehingga kaki saya mirip kaki petani dari sawah. Orang Sunda yang melihat saya pasti sependapat bahwa keadaan itu benar-benar bikin "geuleuh".

Karena di sekitar RS saya tidak menemukan penjual sandal, saya pun tetap "nyeker" menyeberang jalan untuk mencari angkot yang bisa kami carter sampai di rumah. Tak pelak lagi, setiap sopir angkot selalu memandangi kaki saya yang "udik"; tak beralas sedikitpun lengkap dengan celana panjang yang saya lipat mirip orang kebanjiran.

Sesampainya di rumah, saya tidak bisa langsung istirahat. Saya harus memanaskan air untuk merendam kaki yang mulai gatal-gatal. Perut saya pun kembung karena cukup lama telanjang kaki. Karena banyak tuntutan yang mengharuskan saya gergerak cepat bekas jahitan di lutut saya pun terasa nyeri kembali. Selama ini rasa nyeri tersebut saya hiraukan karena tak sebanding dengan beban yang harus saya selesaikan. Badan saya meriang dan perut saya pun mual. Rasanya kekuatan saya hanya tinggal beberapa persen saja dan mungkin tinggal sejengkal lagi jarak saya dengan sakit.

Ketika bapak menanyakan berapa total uang yang saya keluarkan untuk Uwa, saya hanya menjawab sambil berlinang air mata "Semua gaji, tabungan kesehatan anak-anak dan tabungan pendidikan Dika ludes. Mungkin malam ini, saya adalah orang yang paling miskin di dunia. Cuma ini yang saya punya" kata saya sambil menunjukkan 3 lembar uang dua puluh ribuan "Saya nggak tahu bagaimana saya harus menghidupi anak-anak selama 25 hari lagi, sampai gajian tiba" sambung saya masih dengan berlinang air mata.

Bapak pun menjawab santai "Anak-anakmu itu milik Tuhan, percayalah Tuhan sendiri yang akan memeliharanya. Tuhan itu tidak tidur, tidak kurang bijaksananya dan tidak akan membiarkan anak-anakNya kelaparan" Saya pun merasa tenang karena saya yakin bapak tidak NATO (no action, talk only). Bapak tidak hanya pintar menasehati tetapi juga aktif bertindak. Saya tahu persis, bapak tidak hanya siap dengan nasehat dan doa-doanya, tetapi juga dengan pengorbanan tenaga dan materi yang dimilikinya. "Kira-kira berapa yang kamu butuhkan untuk menyambung hidup sampai kamu gajian? Segini cukup?" tanya bapak sambil menyodorkan segepok uang sisa pensiunnya. "Untuk makan saja sih cukup. Hanya saja, semua uang gaji sudah terpakai untuk membayar rumah sakit, padahal tagihan rumah, telepon, listrik dan SPP Dika belum terbayar" jawab saya ringan, tanpa beban sedikitpun. "Kalau begitu, besok bapak cepat-cepat pulang kampung supaya bisa menjual kopi dan cengkeh yang ada di gudang untuk kamu" bapak menjamin "Nanti untuk biaya masuk SMP Dika, bapak bisa gadaikan SK pensiun ke bank" lanjut bapak. Mendengar kesanggupan bapak, saya kembali menangis. Saya benar-benar tidak tega merampas hak bapak untuk menikmati uang pensiunnya.

Menjelang tidur, saya mencoba-coba membuka email. Sungguh tak terduga, ada beberapa tawaran side job yang saya cukup besar honornya. Saya yang beberapa hari hampir tidak pernah tertawa, malam itu benar-benar girang. "Pak, ternyata berkat Tuhan mengalir pada waktunya. Bapak nggak usah buru-buru pulang kampung, karena saya dapat kerjaan tambahan di beberapa tempat sampai malam hari. Bapak nggak perlu repot-repot membantu keuangan saya. Yang saya perlukan saat ini cuma bantuan tenaga dan perhatian bapak menemani Dika belajar dan menjaga adik-adiknya selama saya tidak ada di rumah" jawab saya kegirangan.

Walaupun semua anak kandung Uwa dan keempat kakak saya yang pernah diasuh Uwa, lepas tangan atas biaya pengobatan Uwa yang mencapai 8 digit, saya masih tetap merelakan puluhan ribu pulsa saya untuk mengabari mereka satu persatu. Kala itu saya tidak lagi mengabarkan kesusahan dan mengemis belas kasihan mereka. Saya hanya ingin menyampaikan kabar suka cita bahwa Uwa sudah sehat dan saya pun telah keluar dari masalah keuangan.

Kakak kedua yang sejak kecil paling dimanja oleh Uwa, waktu itu justru menawarkan rencana yang tidak berpihak pada Uwa. Kakak yang tahu bahwa gaji Uwa masih saya simpan di rekening khusus, menyarankan saya untuk mengambilnya sebagian sebagai penggantian biaya RS. Kalau menilik hubungan saya dengan Uwa sebagai pembantu dan majikan, saran kakak memang masuk akal. Hanya saja saya tidak mau menodai kerelaan saya yang telah saya lakukan untuk Tuhan. Saya tidak mau memotong sesenpun gaji Uwa karena itu murni hak Uwa. Soal tanggung jawab pengobatan Uwa, itu murni urusan saya dengan Tuhan yang mengijinkan hal tersebut terjadi dalam kehidupan saya.

Ujian untuk "memurnikan kerelaan" juga saya lalui ketika para tetangga menjenguk Uwa baik di RS maupun di rumah. Walaupun perhatian, kunjungan dan bantuan finansial dari tetangga merupakan salah satu "tuaian" dari apa yang saya tabur selama ini, tetapi saya tidak mau mengurangi kebahagiaan Uwa. Sebenarnya Uwa juga ingin memberikan semua amplop berisi uang dari para tetangga. Namun dari lubuk hati yang paling dalam, sedikit pun tidak ada keinginan saya untuk mengambil sumbangan yang diberikan kepada Uwa.

Kakak yang sehari-harinya melihat polah tingkah Uwa yang begitu menyesakkan hati, menyarankan saya untuk segera mengirim Uwa pulang dengan mobil travel. Usul kakak memang sangat realistis karena ia tahu persis ketidaksiapan mental dan keuangan saya bila Uwa tiba-tiba sakit hingga meninggal nanti.

Walaupun sejujurnya Uwa sama sekali sudah tidak memberi manfaat untuk saya dan anak-anak, tetapi saya ingin tetap memperlakukannya sebagai manusia. Sangatlah tidak manusiawi jika saya membiarkan Uwa yang masih dalam masa pemulihan untuk menempuh perjalanan ke Jawa. Selain itu saya pun tidak yakin ada salah satu anak kandung Uwa atau kakak saya yang bersedia memberi tumpangan kepada Uwa.

Bapak yang selalu mengikuti "perjalanan iman" saya, tahu persis pergumulan saya. Beberapa kali bapak mengajak saya untuk "rapat rahasia" di belakang Uwa dan anak-anak saya. Kami berdua mencari cara terbaik untuk memberi tumpangan kepada Uwa hingga akhir hayatnya, tanpa harus menimbulkan gejolak pada kehidupan orang lain.

Saya dan bapak cukup lama untuk memikirkan nasib Uwa selanjutnya. Bapak tahu persis, sebenarnya hanya saya dan bapak yang masih memberi tempat untuk Uwa. Saya memang satu-satunya anak yang super cuek dan sangat memaklumi kekacauan perilaku dan arogansi Uwa. Namun karena beban hidup yang harus saya tanggung sendirian sudah cukup berat, bapak tidak tega menambah beban saya lagi. Rumah bapak sebenarnya paling cocok sebagai tempat Uwa menjalani sisa hidupnya. Hanya saja, ibu yang cenderung reaktif dan emosional, sangat tidak menyukai sikap dan perilaku Uwa yang tidak bisa menempatkan diri. Kalau kami memaksakan Uwa tinggal di rumah orang tua saya, kami justru kuatir kesehatan dan emosi ibu terganggu.

Atas permintaan bapak, saya mencoba menghubungi kembali keempat kakak saya untuk meminta sedikit saja hati mereka supaya mau memberikan tumpangan untuk Uwa. Walaupun bapak sudah siap dengan jawaban mereka, tapi saya tahu di mata bapak tersirat kekecewaan yang mendalam atas sikap kakak-kakak saya. "Bapak tahu, diantara kelima saudaramu, cuma kamu yang mengerti kasih Kristus. Walaupun hidup kamu secara materi jauh di bawah kakak-kakakmu, tapi cuma kamu yang merasa berkelimpahan dan bisa menolong orang lain" kata bapak dengan mata yang berkaca-kaca.

Setelah bedoa dan bergumul cukup lama, bapak pun menawarkan jalan keluar yang kami rasa paling baik. Bagaimanapun keadaannya, saya harus tetap merawat Uwa hingga pulih dan benar-benar siap untuk menempuh perjalanan ke Jawa. Otomatis saya harus menambah tenaga pembantu untuk merawat Uwa selama masih di rumah saya. Bapak telah memutuskan setelah pulih dan kembali ke Jawa, Uwa akan tinggal bersama para pekerja di rumah kakak pertama yang berjarak kurang lebih 5 km dari rumah orang tua saya. Untuk kebutuhan makan sehari-hari ibu berjanji akan memberikan bahan-bahan mentah yang bisa Uwa olah sendiri. Bapak pun mengingatkan saya untuk memberikan uang "pensiun" setiap bulan untuk Uwa. Walaupun saya tidak boleh besar kepala, tetapi saya tetap bangga karena saya adalah satu-satunya anak yang diminta oleh bapak untuk memberikan uang bulanan buat Uwa.

Setelah 3 minggu Uwa kami rawat di rumah fisiknya pun membaik kembali. Menurut dokter, Uwa cukup kuat untuk menempuh perajalan ke kampung. Uwa pun secara mental sudah siap. Uwa sendiri memang tahu bahwa saya selalu siap membantu siapapun tetapi belum punya kesiapan mental untuk mengurus hari-hari tua Uwa. Dengan berlinang air mata, Uwa memohon "Walaupun aku sudah menghabiskan uang banyak, dan tidak berguna untuk keluarga di sini, mama Dika masih mau kan memberi santunan sampai nanti aku mati? Aku cuma mengandalkan uang kiriman dari Bogor untuk hidup" pintanya memelas.

"Uwa, nggak usah mikir. Nanti semua gaji Uwa saya kasih utuh dan saya tambahi supaya bisa untuk biaya hidup Uwa sampai akhir tahun ini. Nanti libur natal saya tengok Uwa" kata saya sambil menyodorkan uang gaji dan tambahan lainnya. "Jadi semua biaya pengobatan saya ditanggung seluruhnya sama mama Dika?" tanya Uwa berkaca-kaca. Saya pun hanya mengangguk. "Semua kerelaan mama Dika pasti Tuhan perhitungkan. Tidak ada pengorbanan mama Dika yang Tuhan lupakan. Saya berdoa semoga apa yang mama Dika korbankan untuk saya, Tuhan kembalikan berlipat-lipat" sambung Uwa. "Amen!" jawab saya santai tapi mantap.

Walaupun biaya hidup saya untuk sebulan sudah Tuhan sediakan, tetapi saya masih memutar otak bagaimana mencari uang untuk persiapan Dika masuk SMP. Ketika saya cengar-cengir melihat semua kartu ATM yang tak lagi mengeluarkan uang jika digesek, "manajemen kecil" yang menangangi pemasaran buku saya memberikan laporan yang sangat menggembirakan. Buku "TANGAN YANG MENENUN" cetakan 1-2 yang belum sempat dilaunching secara resmi, ternyata laris manis bak kacang goreng. Hasil royalty yang saya dapat rasanya sudah lebih dari cukup untuk membiayai sekolah Dika di SMP.

Tidak berhenti di situ, Tuhan masih memberikan berkat dari royalty untuk cetakan 3-4 yang sama besarnya. Ternyata benar sekali, ketika saya memberikan seluruh apa yang saya miliki dengan penuh kerelaan, Tuhan menggantikannya dengan jumlah yang tak terkira. Namun demikian saya tetap berdoa supaya Tuhan menjaga hati saya sehingga tidak "maruk" dan tetap menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Saya tetap yakin bahwa apa yang Tuhan berikan, bukan untuk saya pribadi. Tuhan mempercayakan berkat itu kepada saya, supaya orang-orang di sekitar saya bisa merasakan kasih Tuhan. Dan akhirnya merekapun memuliakan nama Bapa di Surga.

Ketika saya telah mencapai tingkat "lilo legowo" (rela dengan sepenuh hati) memberikan semua yang saya miliki untuk orang lain, dan tidak mengukuhi berkat yang saya tuai untuk kepentingan diri sendiri, Tuhan pun mengirimkan anak-anakNya untuk menambal lubang-lubang kekurangan saya. Salah satu hamba Tuhan mengirim SMS yang sungguh menguatkan saya "Baca Kel 35 : 20-29 ! Memberi bukan karena kelebihan, bukan pula supaya Tuhan berbuat baik kepada kita. Berilah karean keinginan hati yang rela untuk berbagi"

Tuhan juga memberikan saya seorang teman sekaligus bapak rohani yang semula hanya saya kenal lewat dunia maya, untuk semakin menguatkan keyakinan saya tentang berkat Tuhan. Tidak hanya memberikan dukungan moral, bapak rohani yang bermukim di Holland selalu menawarkan bantuan materi untuk saya. Bahkan bapak rohani saya meyakinkan akan adanya jalan yang sedang dirintisnya supaya suatu saat Dika bisa melanjutkan sekolah di Eropa.

Tuhan memang sungguh luar biasa dan begitu kreatif untuk memelihara saya dan anak-anak. Dari perkiraan dan hitungan matematis manusia, Dika hampir kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke SMP. Namun ketika kepasrahan saya kepada Tuhan benar-benar total, Tuhan justru memberikan jaminan yang lebih. Tidak hanya jaminan untuk biaya pendidikan di SMP, kemungkinan Dika untuk mendapatkan pendidikan di Eropa pun sudah Tuhan buka.

Ketika "mimpi-mimpi" anak-anak saya harus tertunda karena semua yang ada saya relakan untuk diberikan kepada orang lain, Tuhanpun mengirimkan anak-anakNya untuk menggantikan apa yang tidak bisa saya berikan untuk anak-anak. Ketika mimpi Dika untuk memiliki jam tangan harus saya kalahkan, sebagai anak Dika memang sangat kecewa. Namun sebelum kekecewaan itu mematikan semangat Dika, seorang pendeta senior membawakan oleh-oleh jam tangan dari Singapura untuknya.

Dika sangat girang dengan apa yang ia dapatkan. Perasaan saya pun bercampur aduk antara mensyukuri berkat Tuhan dan terharu melihat ungkapan hati Dika yang disampaikan dalam emailnya kepada pendeta senior itu, sebagai berikut : "Pak terima kasih jamnya. Jamnya bagus sesuai keinginan Dika. Jamnya sudah Dika pakai ke sekolah. Teman-teman ikut kagum. Dika bangga punya jam yang bagus seperti teman-teman lain yang masih punya ayah. Dika mau pakai jam itu sampai selama-lamanya" Ternyata apa yang Dika dapat tidak sekedar jam, seperti yang dimintanya dari saya. Ada kebanggaan tersendiri dalam diri Dika karena jam itu didapatnya dari seorang "bapa".

sumber http://artikel.sabda.org/mengasihi_hingga_sakit_memberi_hingga_tak_tersisa

Mengintip Bach, Beethoven, Mozart...

Dengan rasa kagum sejarah mengabadikan nama komponis-komponis agung seperti Bach, Handel, Haydn, Mozart, Beethoven, Schubert dan lain-lain. Mereka adalah jenius yang menghasilkan musik yang memberi rasa indah kepada hati umat untuk berabad-abad lamanya. Mungkin kita menduga bahwa sebagai jenius mereka dengan mudah menghasilkan karya-karya besar. Dugaan itu keliru. Karya mereka bukan lahir begitu saja, melainkan melalui banyak pergumulan belajar dan berdoa. Marilah kita mengintip pergumulan mereka.

JOHANN SABASTIAN BACH (1685-1750) sudah menjadi yatim piatu pada usia sembilan tahun, justru pada saat ia belajar mengembangkan minatnya pada musik. Tetapi Bach berkemauan keras. Ia membaca buku hanya dengan sinar bulan yang masuk ke jendela kamarnya. Ia tidak segan berjalan kaki sejauh puluhan bahkan ratusan kilometer selama berhari-hari untuk bisa mendegarkan konser organ. Sebelum mengarah sebuah lagu, lama Bach berdiam diri ... lalu di kertas kosong yang akan digunakannya ia menulis : J.J. (Jesu Juva, artinya Yesus, tolonglah saya) Kemudian kalau sudah selesai pada bagian akhir kertas itu Bach menulis : S.D.G. (Soli Deo Gloria, artinya Kemuliaan bagi Allah). Bach mengagumi Daud yang memberikan tempat yang penting pada nyanyian dan musik dalam ibadah. Dalam Alkitabnya, di bawah 1 Tawarikh 25, Bach mencatat :"Musik adalah buah Roh Kudus." Bach juga sangat terkesan pada 2 Tawarikh 5:13-14 "Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya ... Pada ketika itu rumah Tuhan dipenuhi awan ... kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah."

GEORGE FREDERIC HANDEL (1685-1759) mempunyai cara lain dalam pergumulan mencari ilham. Untuk mengarang sebuah oratorium Handel mengurung diri selama berhari-hari di kamarnya. Ia tidak mau bertemu dengan siapapun. Pada suatu hari ia pernah keluar dari kamarnya memegang kertas-kertas berisi karyanya sambil menangis dan berteriak, "Saya telah melihat sorga, saya telah melihat Tuhan!"

FRANZ JOSEPH HAYDN (1732-1809) lahir dalam keluarga miskin di desa di pedalaman Austria. Ia mencari nafkah dengan jalan menjadi pemain biola di depan restoran. Baru kemudian hari ia bekerja sebagai musikus di rumah-rumah bangsawan. Haydn dijuluki "Bapak segala simfoni", sebab ia mengarang begitu banyak simfoni. Sebelum ia mengarang suatu simfoni, ia lebih dulu bertelut di depan pianonya dan meneduhkan diri. Ia pernah menjelaskan, "Dalam keteduhan seperti itulah saya meminta bakat yang diperlukan untuk bisa memuliakan Tuhan dengan pantas."

WOLFGANG AMADEUS MOZART (1756-1791) belajar piano pada usia empat tahun, dan pada usia enam tahun ia sudah bermain konser. Segala sesuatu berjalan begitu cepat dalam hidup Mozart. Ia melejit ke atas sebagai pemusik yang paling populer di Austria. Banyak orang jadi penggemarnya, tetapi banyak juga yang membenci dan iri kepadanya. Pernah Mozart menulis kepada ayahnya, "Papa jangan khawatir, saya dipelihara Tuhan. Saya sering takut Tuhan marah ..., tetapi saya merasakan kemurahan hati dan kelemah-lembutan Tuhan." Mungkin karena merasakan kemurahan Tuhan, maka Mozart bermurah hati kepada banyak orang. Ketika rekannya sakit, Mozart menggantikan kawannya untuk menyelesaikan karyanya, lalu seluruh pembayaran untuk karya itu diserahkan kepada kawannya. Mozart meninggal pada usia 35 tahun dalam keadaan yang mengenaskan. Untuk membeli peti jenazah pun tidak tersedia uang.

LUDWIG VON BEETHOVEN (1770-1827) terserang penyakit telinga menjelang usia 30 tahun, lalu ia menjadi tuli secara total. Bayangkan bagaimana terpukulnya seorang komponis lagu kalau ia menjadi tuli. Dalam kesedihannya ia menulis, "Aku merasa sepi, sangat sepi. Tetapi aku merasa Tuhan dekat." Beethoven banyak membaca buku renungan. Buku kegemarannya adalah Imitatio Christi (artinya: Meniru Kristus) karangan Thomas a Kempis. Walaupun Beethoven tuli, namun ia tetap produktif sepanjang hidupnya dengan menghasilkan begitu banyak simfoni, oratorio, opera dan sonata piano yang menakjubkan. Salah satu warisannya adalah nyanyian "Kami Puji Dengan Riang" di Kidung Jemaat, no. 3.

FRANZ PETER SCHUBERT (1797-1828) lahir dalam keluarga guru sekolah dasar yang miskin. Untuk mengarang lagu ia tidak mampu membeli kertas, sehingga ia menulis di kertas bekas. Schubert meninggal dalam usia 32 tahun karena wabah typhus yang melanda perkampungan kumuh di kota Wina tempat ia tinggal. Dalam catatannya ia menulis : "Ketika saya menciptakan musik, saya beribadah kepada Tuhan, dan saya menciptakan musik supaya orang beribadah kepada Tuhan." Tulisan di atas bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa komponis-komponis besar itu orang-orang sempurna. Mereka manusia biasa dengan sifat buruknya masing-masing. Misalnya, Handel dikenal sebagai orang yang suka mengumpat dan memaki. Mozart kurang dewasa dalam kepribadiannya dan suka memboroskan uang untuk berfoya-foya. Beethoven gampang naik darah, sehingga ia pernah melemparkan makanan di piring ke wajah seorang pramusaji restoran hanya karena makanan itu tidak sesuai dengan yang dia pesan. Yang mau dicatat di sini adalah bahwa orang-orang jenius itu dengan rendah hati mencari Tuhan sebagai sumber ilham. Mereka merasakan kedekatan dan keakraban dengan Tuhan sebagai saat-saat yang mengilhami karya musik mereka. Mereka mengaku bahwa bakat mereka adalah pemberian Tuhan dan adalah pantulan kemuliaan Tuhan, karena itu untuk kemuliaan Tuhan jugalah mereka mempersembahkan karya mereka yang agung itu. Kata dan nada yang lahir dari jari mereka adalah sentuhan tangan Tuhan. Ilham yang mereka peroleh adalah percikan Roh Tuhan.

Sumber: http://artikel.sabda.org/mengintip_bach_beethoven_mozart

Saksi Dari Kursi Roda

Seorang wanita bernama Nancy memasang iklan berikut di surat kabar lokal: "Jika Anda kesepian atau memiliki masalah, teleponlah saya. Saya memakai kursi roda dan jarang keluar rumah. Kita dapat saling menceritakan masalah kita. Telepon saja. Saya senang bercakap-cakap dengan Anda."

Tanggapan terhadap iklan itu sungguh mengejutkan. Ia menerima 30 telepon atau lebih setiap minggunya.

Apakah yang mendorong wanita ini untuk menjangkau dan menolong orang lain yang sedang membutuhkan dari atas kursi rodanya? Nancy menjelaskan bahwa sebelum ia lumpuh, ia memiliki tubuh yang sehat sempurna. Meskipun demikian, ia merasa sangat putus asa. Karena itu ia mencoba untuk bunuh diri dengan melompat dari jendela apartemennya, namun hasilnya ia justru lumpuh mulai dari pinggang ke bawah.

Di rumah sakit, dalam keadaan benar-benar frustrasi, ia merasakan Yesus berkata, "Nancy, dahulu tubuhmu sehat namun jiwamu cacat. Mulai sekarang engkau akan memiliki tubuh yang cacat, namun jiwa yang sehat." Ia pun menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Saat akhirnya diizinkan pulang, ia berdoa agar dapat membagikan kasih karunia Allah kepada orang lain, dan ide untuk memasang iklan surat kabar itu pun muncul. Setiap orang percaya dapat berbuat sesuatu untuk menolong orang lain.

Mungkin kita dibatasi oleh penyakit, usia lanjut, atau cacat tubuh, namun kita dapat berdoa, menelepon, atau menulis. Bagaimana pun kondisi kita, kita dapat menjadi saksi yang efektif bagi Yesus.

HANYA SEUSAI KITA BERBICARA KEPADA ALLAH TENTANG ORANG-ORANG KITA SIAP BERBICARA KEPADA ORANG-ORANG TENTANG ALLAH.

http://artikel.sabda.org/saksi_dari_kursi_roda

Terjadilah Apa Yang Tak Pernah Kau Bayangkan!

Penulis : Tema Adiputra

Seorang teman saya yang sekarang posisinya sebagai General Manager di sebuah perusahaan bercerita, dulu di tempat kerja sebelumnya, boss-nya seorang pria ganteng dan atletis (katanya! mirip tokoh Eric Estrada bintang film Chips) memiliki kebiasaan unik. Setiap pagi sebelum pergi ke kantor si boss itu berdiri di muka cermin, lalu menatap bayangan dirinya terutama wajahnya, dan berkata : kau pasti akan sukses hari ini! Hal itu sudah menjadi rutinitasnya dan memang menjadi pemacu semangat kerjanya hari itu. Dan memang benar kesuksesan pun diraihnya. Seperti yang ditekadkan dan dibayangkannya pada pagi hari dia bercermin itu.

Ya! Ada banyak kiat-kiat yang kita ketahui dari berbagai sumber untuk dapat meraih sebuah keberhasilan. Kita bebas mengikuti petunjuknya dan menerapkannya dalam upaya kita untuk dapat sukses/berhasil. Saya masih ingat seorang Profesor teman saya menganjurkan, mulailah bermimpi/memimpikan apa yang kau ingin capai dalam cita-cita hidupmu, dan lalu mulailah bertindak, mulailah melangkah, sekalipun langkah pertama dimulai hanya dengan setengah langkah. Yang penting mulai melangkah dan berlanjut melangkah. Dan jangan pernah putus asa. Berkomitmenlah! Sang profesor memang telah membuktikan sendiri kiat-kiat itu, dan ia sukses! Apa yang diimpikannya satu persatu tercapai.

Tahun 1982, saat saya masih tinggal sendirian di rumah besar milik abang saya untuk menjagainya, teman yang setia di malam hari adalah sebuah pesawat radio kecil. Sembari membuat tugas dari dosen, atau belajar, saya menyetel radio itu mendengarkan siaran rohani kristen. Saya suka menikmati sajian acara radio rohani tersebut. Sampai pada suatu malam hati saya berkata pada Tuhan : Tuhan saya ingin sekali menjadi penyiar di radio rohani itu, tapi mana mungkin Tuhan, saya tidak tahu seluk beluk dunia radio siaran, dan lagi pula saya mahasiswa sastra. Nah, saya hanya melontarkan sebuah kerinduan dan tidak pernah ada upaya untuk datang ke kantor radio itu karena dilatarbelakangi kontradiktif skill/ketrampilan yang saya miliki saat itu. Jadi hanya pada saat itu saja saya rindukan untuk jadi penyiar tapi tidak berlama-lama memimpikannya. Namun apa yang terjadi kemudian? Dua tahun kemudian, saat saya sedang nongkrong di sekretariat persekutuan mahasiswa kristen di kampus saya, datanglah seorang teman wanita (yang ternyata dia penyiar honorer di radio yang sering saya dengar itu) menghampiri saya sembari berujar: mau nggak kamu melamar posisi peresensi puisi di radio saya? Kamu kan mahasiswa sastra dan sering bikin puisi serta pentas puisi di kampus kita ini. Wah ditantang begitu, tentu saja saya ladeni. Maka mulailah saya berkiprah di stasion radio yang tahun 1982 lalu sempat saya rindukan sesaat. Dari tukang membuat naskah resensi puisi, akhirnya di-test jadi penyiar, lalu jadi penyiar, dan seterusnya tugas-tugas saya di radio itu merambah ke mana-mana sampai dengan berprofesi saat ini sebagai konsultan radio siaran dan menjadi pemandu acara yang direkrut secara khusus oleh lembaga-lembaga kristen maupun gereja yang bersiaran di sebuah stasion radio rohani di Jakarta. Bila merenungkan semua hal ini saat ini maka dalam hidup saya telah terjadi dan terwujud sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Segala pujian hanya untuk Tuhan!

Bagaimana dengan peristiwa berikut ini yang beberapa waktu lalu menimpa saya? Pada tulisan-tulisan saya sebelum ini, ada saya saksikan bagaimana saya dan tim pelayanan mengatasi persoalan keuangan untuk membayar dana shooting camera, akibat ingkar janjinya seorang donatur. Pada akhirnya Tuhan buka jalan bagi kami sehingga seorang pengusaha yang adalah juga pendeta (ibu Pdt.FAS) tergerak hatinya untuk memberi pinjaman uang yang pelunasannya akan kami cicil selama 8 bulan. Wah betapa lega hati kami waktu itu karena telah lolos dari persoalan yang berisiko tinggi. Maka tentu saja saya dan tim bertekad (dengan berdoa khusus) untuk tepat waktu membayar cicilan setiap bulan itu. Kami buktikan! Pada tanggal 7 bulan pertama cicilan, kami datangi kantor ibu itu, dan bertemu sekretarisnya dan lalu menyerahkan uang di amplop sebagai cicilan pertama. Puji Tuhan lagi! Ya, kami bersukacita untuk bulan berikutnya akan membayar tepat waktu. Sekalipun uang itu hasil saweran bersama.

Nah kira-kira seminggu sebelum jatuh tempo tanggal bulan cicilan kedua, saya jumpa dengan ibu itu di sebuah pertemuan ministry. Tentu saja saya sedikit kagok namun ibu itu tersenyum dan menyapa saya dengan tidak membicarakan masalah uang tersebut. Sehingga orang banyak di sekitar saya pun tidak tahu menahu urusan ini. Saat bubaran pertemuan ministry itu, ibu yang baik hati ini tiba-tiba menghampiri saya dan berkata, saya ingin bicara sebentar dengan kamu! Lalu kami berdua masuk ke sebuah ruangan dan pintunya saya tutup. Saya pasrah saja, seandainya dia mempersoalkan uang yang kami pinjam itu. Lalu ia berkata: ...hati saya digerakkan Tuhan, uang cicilan yang 7 bulan lagi, tidak perlu kalian lanjutkan pembayarannya! Untuk beberapa detik saya terkesima! Setelah sadar, langsung saya tepuk kening saya dan berkata : Aduhhhhh...! Puji Tuhan! Puji Tuhan! Terima kasih, bu. Terima kasih, bu. Tuhan memberkati ibu dan pelayanan ibu. Sembari berkata begitu tanpa sadar saya tepuk pelan pundak ibu itu sebagai ungkapan sukacita saya. Ibu itu hanya tersenyum penuh ketulusan. Ya! Saya harus berkata apa lagi? Kembali sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, datang menghampiri saya. Terpujilah Tuhan!

Hanya satu kunci jawaban dari hal yang saya alami seperti di atas itu. Tuhan tahu keperluan kita. Bahkan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh kita ke depan. Juga Tuhan mau menunjukkan betapa berkuasanya Dia. Betapa dia selalu memiliki rencana yang terbaik untuk kita. DIA tahu isi doa kita yang paling dalam yang tak mampu kita ungkapkan dan kita pikirkan. DIA sangat menghargai seruan kita. Seorang bapak pendeta pernah memberikan ayat Firman Tuhan berikut ini untuk saya renungkan : (I Korintus 2 : 9) Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.

sumber http://artikel.sabda.org/terjadilah_apa_yang_tak_pernah_kau_bayangkan